Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 16 Juli 2023 | 13.45 WIB

Tung Piong

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

”Kau tetap bersikeras maju kepala desa?”

”Itu panggilan ilahiah. Saya akan menjadi pejuang masyarakat.”

Dan kabar pencalonan kepala desa itu menyebar bagai wabah meski tidak membikin riuh. Orang-orang di kampung menghindari bicara politik dan lebih menyukai judi ayam. Itu tabu yang mesti mereka tutup rapat-rapat. Trah tuan tanah tidaklah boleh diganggu, bahkan setelah republik berdiri dan pemilihan umum diperkenalkan di mana-mana.

***

Menuruni tangga gereja, lelaki itu meninggalkan percakapan serius di mata pastor paroki. Dia telah datang untuk meminta dua nasihat. Satu untuk urusan tung piong yang membikin utangnya bengkak, dan satunya lagi, pencalonan kepala desa. Dia rupanya khawatir upacara di kampung besar itu berakhir nestapa sebab tak punya timbal balik untuk dirinya. Dia mengharapkan dukungan suara. Tetapi setelah desa mekar keluarga besar istrinya tinggal berpisahan. Di hadapan pastor dia mengulang-ulang terus pertanyaan sengit ke istrinya; kenapa perempuan itu mendapatkan warisan tanah di batas kampung.

Pastor cuma mendengarkan keluh kesah tanpa ujung itu. Sesekali ia memelototi wajah lelaki tersebut, berharap tengkuknya aman demi memastikan kenormalan. Di paroki sudah ada banyak umat yang gila karena urusan tak jelas. Maka, setelah lelaki itu bicara, pastor menyuruhnya pulang dan menyarankan doa Novena.

Kembali ke rumahnya lelaki itu sekali lagi mengajak istrinya bercakap-cakap. Dia mengambil sebuah buku catatan dan menuliskan nama-nama. ”Hanya kau yang saya harapkan. Sebutkan orang kampung yang kaukenal?”

”Di sini kita tahu semua,” istrinya menyahut dengan tatapan aneh.

”Bukan! Tapi mereka yang mendukung saya?”

Istrinya menahan deru napas. Antoneta merasa tengah berbicara dengan batu. Kau bisa cari tahu sendiri, balasnya, berhati-hati agar batu itu tidak berubah menjadi hantu.

Lelaki itu pergi menemui ketua KUB. Dia berharap mendapatkan pencerahan di rumah ketua KUB setelah usaha sebelumnya gagal. Sejak tinggal di kampung dia memang langsung akrab dengan ketua KUB itu, seorang duda tua peternak babi. Mereka sering berdiskusi filsafat hingga perkembangan teknologi. Kadang-kadang setelah doa kontas, mereka berbincang dengan menaikkan pita suara, sembari melihat-lihat ke umat gabungan yang duduk memamah sirih pinang.

”Saya angkat tangan,” ketua KUB berkata iba.

”Bapak sama saja dengan istri saya dan pastor Matias,” rutuk lelaki itu.

”Itu urusan berat.”

”Kampung kita butuh orang berpendidikan.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore