
ILUSTRASI
”Kau tetap bersikeras maju kepala desa?”
”Itu panggilan ilahiah. Saya akan menjadi pejuang masyarakat.”
Dan kabar pencalonan kepala desa itu menyebar bagai wabah meski tidak membikin riuh. Orang-orang di kampung menghindari bicara politik dan lebih menyukai judi ayam. Itu tabu yang mesti mereka tutup rapat-rapat. Trah tuan tanah tidaklah boleh diganggu, bahkan setelah republik berdiri dan pemilihan umum diperkenalkan di mana-mana.
***
Menuruni tangga gereja, lelaki itu meninggalkan percakapan serius di mata pastor paroki. Dia telah datang untuk meminta dua nasihat. Satu untuk urusan tung piong yang membikin utangnya bengkak, dan satunya lagi, pencalonan kepala desa. Dia rupanya khawatir upacara di kampung besar itu berakhir nestapa sebab tak punya timbal balik untuk dirinya. Dia mengharapkan dukungan suara. Tetapi setelah desa mekar keluarga besar istrinya tinggal berpisahan. Di hadapan pastor dia mengulang-ulang terus pertanyaan sengit ke istrinya; kenapa perempuan itu mendapatkan warisan tanah di batas kampung.
Pastor cuma mendengarkan keluh kesah tanpa ujung itu. Sesekali ia memelototi wajah lelaki tersebut, berharap tengkuknya aman demi memastikan kenormalan. Di paroki sudah ada banyak umat yang gila karena urusan tak jelas. Maka, setelah lelaki itu bicara, pastor menyuruhnya pulang dan menyarankan doa Novena.
Kembali ke rumahnya lelaki itu sekali lagi mengajak istrinya bercakap-cakap. Dia mengambil sebuah buku catatan dan menuliskan nama-nama. ”Hanya kau yang saya harapkan. Sebutkan orang kampung yang kaukenal?”
”Di sini kita tahu semua,” istrinya menyahut dengan tatapan aneh.
”Bukan! Tapi mereka yang mendukung saya?”
Istrinya menahan deru napas. Antoneta merasa tengah berbicara dengan batu. Kau bisa cari tahu sendiri, balasnya, berhati-hati agar batu itu tidak berubah menjadi hantu.
Lelaki itu pergi menemui ketua KUB. Dia berharap mendapatkan pencerahan di rumah ketua KUB setelah usaha sebelumnya gagal. Sejak tinggal di kampung dia memang langsung akrab dengan ketua KUB itu, seorang duda tua peternak babi. Mereka sering berdiskusi filsafat hingga perkembangan teknologi. Kadang-kadang setelah doa kontas, mereka berbincang dengan menaikkan pita suara, sembari melihat-lihat ke umat gabungan yang duduk memamah sirih pinang.
”Saya angkat tangan,” ketua KUB berkata iba.
”Bapak sama saja dengan istri saya dan pastor Matias,” rutuk lelaki itu.
”Itu urusan berat.”
”Kampung kita butuh orang berpendidikan.”

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
