
Cover Buku.
Oleh: ACHMAD SANTOSO, Editor bahasa Jawa Pos
---
Keputusan Meutya mau membuka kisah perjuangannya dalam mendapatkan anak patut diapresiasi. Tidak semua pejuang garis biru mau terbuka, apalagi menyampaikan secara jujur, termasuk kegagalan demi kegagalan yang dialaminya.
NASIHAT agar kita pantang menyerah dalam mengejar impian atau cita-cita memang terdengar mudah diucapkan. Tapi, menjalaninya tetap bukanlah perkara gampang. Kadang kita sudah berusaha sekuat tenaga melawan diri sendiri, tapi justru ujian kerap datang dari luar, bahkan tak sedikit pula yang berasal dari orang dekat.
Saat kuliah, misalnya, ditanya kapan lulus. Setelah lulus, ganti didesak kapan dapat pekerjaan. Pekerjaan sudah digenggam, karier pun telah mapan, giliran dicecar kapan menikah. Sudah menikah pun tak lantas aman. Masih ada pertanyaan lain: kapan segera punya momongan?
Yang terakhir itu pun tak luput dari kehidupan Meutya Hafid dan suaminya, Noer Fajrieansyah. Mereka bisa dibilang salah satu pasangan idaman. Dengan karier yang cemerlang, keduanya tetap saling mendukung, baik dalam urusan domestik maupun profesional.
Lyora: Keajaiban yang Dinanti, buku anggitan Fenty Effendy, mengisahkan perjuangan Meutya dan Fajrie mendambakan kehadiran buah hati selama lebih dari sewindu. Buku ini sekaligus memberikan validasi bahwa pepatah hasil tidak akan mengkhianati proses atau man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan menuai hasil) memang benar-benar ada. Meski begitu, melaluinya tetap tidak semulus kata-kata motivator.
Layaknya sebuah novel, buku ini ditulis dengan alur maju-mundur. Kendati berkisah tentang perjalanan sepasang suami istri, protagonisnya tetap seorang perempuan, Meutya.
Sebelum kini menjabat menteri komunikasi dan digital, Meutya menapaki karier sebagai seorang wartawan televisi. Setelah malang melintang di dunia jurnalistik, termasuk ketika harus ditawan di Iraq saat melakukan liputan pasca tumbangnya rezim Saddam Hussein, Meutya menjajal bidang baru: politik. Hingga akhirnya menduduki posisi ketua Komisi I DPR. Kisah pejuang garis biru –sebutan untuk pasangan yang sedang berusaha memiliki keturunan– dilalui Meutya ketika menjadi anggota dewan itu.
Bukan hanya sekali dua kali, Meutya telah menjalani program bayi tabung hingga sepuluh kali! Bahkan, dalam tiga usaha di antaranya, dia harus mengalami keguguran.
Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, demikian kata W.S. Rendra. Meutya mengamini benar hal itu. Sebelum memutuskan program bayi tabung, dia telah menjalani berbagai ikhtiar lainnya, baik secara medis maupun nonmedis. Apa yang membuat dia selalu yakin atas usahanya itu? Membaca.
Ya, bagi Meutya, membaca adalah sumbu motivasi. Dia rutin membaca berbagai referensi tentang kesuburan, kehamilan, bayi tabung, teknologinya, dan lain-lain. Itu tak lain guna meyakinkan diri sendiri bahwa harapan akan selalu ada.
”Membaca adalah caranya menjaga kewarasan dan mengembalikan keseimbangan rasa-logika yang tergerus dan tertekan dihantam kiri-kanan.” (hal xii)
Sebagaimana fitrah manusia, Meutya bukannya tidak pernah mengaduh tiap kali ujian datang. Apalagi ketika usaha yang dilakukan harus gagal di tengah jalan. Seperti yang terjadi pada November 2016. Saat itu dia tengah mengandung putri kembar hasil bayi tabung. Pada suatu hari, Meutya mengalami pendarahan. Bukan hanya itu, dia juga melihat ada gumpalan-gumpalan yang ikut keluar. Setelah dicek ke dokter, telinganya serasa disambar petir: putri kembar yang dia dambakan itu telah terbang ke surga.
Dia melepaskan sesak di dadanya dengan berteriak dan menangis, bahkan sampai meraung-raung.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
