
Cover Buku.
Raudal Tanjung Banua bertutur dalam Cerobong Tua Terus Mendera dengan gaya bahasa yang luwes serta kekuatan meletakkan diksi-diksi yang menghidupkan imajinasi pembaca.
KEBERHASILAN pengarang adalah saat ia meninggalkan kesan di hati pembaca. Saya rasa Raudal Tanjung Banua berhasil melakukannya melalui cerita-cerita pendeknya dalam kumpulan cerpen (kumcer) Cerobong Tua Terus Membara. Membaca dan menikmati cerita Raudal, kita seperti diajak pada labirin berlapis, liris, namun kompleks dengan pilihan diksi yang matang.
Tema-tema pada cerita Raudal di dalam buku ini tidak bisa lepas dari tema-tema sosial serta terasa kuat sekali akar kebudayaan dan ingatan orang pesisir. Pembaca bakal kerap berjumpa dengan kata ”laut”, ”ombak”, ”batu”, ”kerang”, ”karam”, ”ikan”, dan ”pantai”.
Saya mencatat hampir separo dari sebelas kumcernya berlatar dan bernapas laut maupun pesisir. Di antaranya, Aida Kreol, Lebaran di Laut, di Laut, Ibrahim dari Barus, Sri Tanjung Jaya Prana, Kepala Siluman, Ular-Ular Gelondongan, Naga Sisik Hitam, serta Saputangan dari Kayeli.
Kita mahfum, peradaban darat akan terasa berbeda dengan peradaban laut. Dunia laut yang akrab dengan tantangan, kekejaman, kenangan indah/pahit, serta kematian yang selalu mengintai tidak bisa dilepaskan dari kehidupan pesisir. Hidup di pesisir seperti hidup bertaruh sekaligus kompleks.
Silakan merasakan aroma orang pesisir yang selalu teringat dan tak lepas dari kenangan-kenangan yang digumulinya. Ini bisa ditemukan pada cerita Lebaran di Laut, di Laut.
Cerita tersebut mengulas kehidupan ABK (anak buah kapal) yang merantau dan melaut untuk mengubah nasib. Ia teringat ibunya yang ditinggalnya, tapi laut telah membawa nasib dan juga dirinya ke negeri antah-berantah.
Ia kangen ibunya, tetapi tak bisa mencari ke mana. Kehidupan yang dirindukannya, melaut tak selalu membawanya pada ketenangan. Kegetiran nasib pelaut ini diungkap Raudal dengan menyisakan getir dan perih di hati pembaca.
Orang Biasa
Tokoh-tokoh dalam cerita Raudal tampak sebagai orang biasa, malah lebih pada orang-orang kalah. Di awal kita disuguhi cerpen yang dijadikan judul kumcer ini: Cerobong Tua Terus Mendera.
Saya semula mengira cerita ini akan mengisahkan perlawanan buruh pabrik ala Wiji Thukul yang mengajak demo pabrik tekstil di Solo kala itu. Ternyata, Raudal mengangkat perlawanan si tokoh dengan nada sangat liris.
Ia angkat Wiji buruh pabrik gula dengan dibumbui mitos demit (hantu) untuk sekadar menggambarkan betapa apes nasib si Wiji. Sudah kalah dalam percintaan, nasib hidup yang melarat, ditambah ketika ia harus mendengar deru pabrik dari cerobong tua yang membuatnya perih seperti orang gila. Perih sekaligus sakit yang membuat tubuhnya tak kuat.
Di cerpen bertajuk Matinya Seorang Guru Mengaji, pembaca diajak menyimak kisah Encu Eba seorang guru ngaji di daerah Bali dengan rumah panggung kampung khas Loloan yang sederhana. Ia dikisahkan sebagai penjual makanan di pagi hari di desanya sekaligus mengajar anak-anak di desa yang sepi, jauh dari hiruk pikuk.
Ditambah lagi nasibnya yang miskin, suami yang lebih sering menyusahkan. Encu Eba memberikan gambaran kepada kita tentang kesetiaan serta ketulusan seorang guru ngaji yang makin langka di era sekarang.
Nasib dan kondisi pribadinya yang didera kemiskinan tak membuatnya terpengaruh pada semangatnya mendidik anak-anaknya mengaji. Kematiannya bahkan tak sempat diketahui oleh banyak orang kecuali murid mengajinya. Encu Eba seperti menggambarkan ironi seorang guru ngaji yang menanggung derita hidupnya sendiri dan berjuang demi menegakkan tegaknya hidup.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
