
Cover Buku
Membaca karya Mikal Hem ini tak terasa membosankan karena studi kasusnya beragam.
BAGI banyak penerbit di Indonesia, menghabiskan stok buku cetakan pertama yang tidak lebih dari 3.000 eksemplar sudah ”puji Tuhan”. Tapi, itu tidak berlaku untuk kategori buku ”pengembangan diri”. Banyak penerbit yang menjadikannya tulang punggung penjualan. Mulai panduan asmara hingga dasar-dasar ternak belut.
Namun, apa jadinya bila ada buku pengembangan diri bagi mereka yang hendak berkarier sebagai… diktator? Apakah ada yang sejak awal berminat jadi pemimpin beringas? Apakah memang ada tips dan triknya? Dan, apakah benar ada buku semacam itu?
Pembaca, inilah Kiat Menjadi Diktator karya Mikal Hem.
Satire yang Konsisten
Sejatinya, Kiat Menjadi Diktator adalah buku pengembangan diri jadijadian. Bab yang disusun runut A–Z cara menjadi diktator hanya strategi Mikal untuk menjabarkan kelakuan telengas para diktator. Sebuah satire politik –Mikal pura-pura setuju dengan hal yang dikutuknya.
Sepanjang 191 halaman, Mikal konsisten dengan gaya tutur buku pengembangan diri. Membacanya sama sekali tidak membosankan sebab, seperti buku pengembangan diri jempolan, studi kasusnya beragam. Diktator lintas zaman, lintas bangsa; semua ada.
Pada tiap akhir bahasan, Mikal tidak lupa menyertakan kalimat-kalimat yang menggugah tindakan selayaknya buku pengembangan diri. Mulai yang motivasional, ”Tidak ada alasan untuk berputus asa kalau kau bercita-cita menjadi diktator” (hal 12), hingga yang teknikal, ”Sebagai diktator kau sebaiknya mempertahankan pengeluaran yang tinggi” (hal 91).
Dus, sebagai satire, Mikal tidak lupa menebar lelucon. Kiat Menjadi Diktator menonjol lewat nada sok simpatik Mikal dalam memuji para diktator. Dia kerap menulis, ”Mengesankan!”, dan sebagainya setelah menceritakan laku konyol pemimpin edan.
Keistimewaannya sebagai satire politik bukan hanya lelucon dan bukti bahwa dunia ini punya lebih dari cukup diktator untuk dibuatkan tim sepak bola. Terkhusus bagi orang Indonesia, buku ini menyajikan banyak hal yang bikin kita berseru, ”Lha, ini sudah ada di sini!”, meski cuma sekali membahas sejarah politik negara kita.
Relevansi dengan Indonesia
Sejak di bab pertama, ketika Mikal terlebih dahulu meyakinkan pembaca yang masih maju-mundur lewat bab ”Keuntungan Jadi Diktator”, sudah ada hal yang nyambung dengan Indonesia. Di bab tersebut, salah satu benefit diktator adalah awetnya kekuasaan. Soal ini, warga Indonesia tidak bisa tidak terbayang sosok jenderal murah senyum (dan murah nyawa) yang fotonya terpajang di kelas-kelas selama lebih dari tiga dekade.
Bab selanjutnya, ”Cara Menjadi Diktator”, juga bisa ditengok ke sejarah Indonesia. Dulu, tulis Mikal, komunisme pernah jadi kata sandi untuk mengakses bantuan tak terbatas dari AS untuk jadi diktator. Dia menyebutkan mulai Kongo sampai Cile.
Namun, beruntunglah kita sebagai warga Pancasila sebab Pak Harto sudah memberi teladan. Dia menggunakan cara serupa untuk melentingkan karier diktatornya, 47 tahun mendahului terbitnya kiat-kiat dari jurnalis Norwegia ini. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya petinggi komunis dan Presiden Soekarno yang ditumpas, melainkan 500.000–3.000.000 manusia beserta ajarannya.
Dulu dar-der-dor begitu mungkin efektif. Namun, Mikal tahu: ada zaman, ada cara, ada orang. Ini membuktikan konsistensi Mikal dalam mempertahankan bentuk satirenya dengan memberi opsi solusi; ciri buku pengembangan diri jempolan. Mikal tidak ingin pembacanya jadi berkecil hati hanya karena negaranya masih demokratis. Semua ada jalannya. Dan jalan itu bernama: pemilu!

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
