
Cover Buku
Bias Konfirmasi
Menjadi seorang saintis tidak sertamerta menjadikan seseorang terbebas dari bias konfirmasi. Saintis juga manusia biasa yang tidak pernah lepas dari rasa bangga, cemburu, dan ambisi. Namun, setidaknya pola pikir sains memberikan filter yang rapat terhadap bias yang dihasilkan dari emosi-emosi tersebut.
Fenomena superioritas ilusi (illusory superiority) adalah salah satu bentuk bias konfirmasi yang paling umum, yaitu seseorang yang mempunyai kepercayaan diri berlebih dari kompetensinya, tanpa menyadari kelemahan yang dimilikinya. Bias konfirmasi ini biasa dinamakan sebagai efek Dunning-Kruger, diambil dari psikolog penemunya, David Dunning dan Justin Kruger.
Di era serbadigital ini, pengidap Dunning-Kruger menjadi pribadi yang paling berisik dan tersebar luas di media sosial. Keberadaan mereka sangatlah merepotkan karena mereka mempunyai pengikut yang banyak.
Contoh lain dari bias konfirmasi adalah sangat bergantung pada budaya. Kegagalan dalam satu tugas bagi warga AS sangat berpengaruh pada meningkatnya keengganan untuk menyelesaikan tugas berikutnya. Namun, sebaliknya orang Jepang akan berusaha lebih keras lagi setelah mereka mengalami kegagalan.
Dalam situasi seperti inilah metode berpikir sains sangat dibutuhkan. Bias konfirmasi akan sangat menjauhkan kita dari fakta yang objektif dan apa adanya. Dalam kadar yang lebih parah adalah ketika beberapa influencer pengidap Dunning-Kruger menjelaskan sesuatu yang salah dengan meyakinkan kepada semua pengikutnya dan menjadikannya viral. Hal itulah yang dulu membuat masyarakat enggan menjalankan protokol kesehatan saat pandemi sehingga tim medis merasa putus asa dan memunculkan tagar #Indonesiaterserah saking frustrasinya.
Dua Petuah
Dalam dua bab terakhir, Jim memberi pesan yang patut dihayati bagi pencinta sains dan orang-orang yang khidmat menghayati sains, yaitu agar tidak takut berubah pikiran dan tetap setia membela realitas. Sains tidak mengejar kebenaran absolut. Karena sifat bisa dibantah seperti itulah sains selalu membuka pintu untuk kritik dan revisi. Hal itulah justru yang menjadi pembeda sains dari dogma dan pseudosains yang tidak akan bisa menerima fakta yang bertentangan dengan apa yang mereka yakini.
Memahami realitas adalah tujuan dari sains. Ketika realitas bisa dipahami dengan sebaik-baiknya, kita akan lebih mudah mendapatkan solusi dari permasalahan-permasalahan pelik dalam kehidupan. Dalam hal ini, Jim satu barisan dengan Carl Sagan, Richard Dawkins, dan Matt Ridley tentang masa depan cerah sains yang akan membawa harapan, kedalaman makna hidup, dan sukacita. (*)
---
*) KUKUH BASUKI RAHMAT, Alumnus Magister Psikologi UGM dan anggota komunitas Radio Buku

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
