
Cover Buku
Pendekatan fenomenologi, dari simbol, simbol jadi metafora, metafora jadi narasi sebagaimana Ricoeur mengarang Fallible Man, saya temukan pada pembacaan Uroboro Syekh Kholil Bangkalani karya Royyan Julian. Sastra lampau tercipta dari puisi: kidung, doa, ritus, lagu perpisahan untuk pahlawan, dan banyak lainnya adalah puisi naratif. Jadi, menurut saya, karya seperti ini bisa membawa Freud, William James, dan Ricoeur nongkrong bersama untuk mencapai kesepakatan.
Poetic Triplet
Poetic triplet sudah jadi barang langka dalam puisi modern. Akhir-akhir ini, banyak media massa yang menyebutnya ”a rare gem”. Dalam kumpulan puisi Uroboro Syekh Kholil Bangkalani, saya menemukan tidak hanya satu, ada dua poetic triplet. Salah satunya adalah:
”Seorang barid sultan tiba tanpa kur badar, rancak tabla, dan rampak rebana.” (hal 17)
Memang betul poetic triplet adalah senjata pemungkas yang dapat memberikan efek ganda atau bahkan multi untuk sebuah makna. Bukan, maksudnya bukan untuk kepentingan melebih-lebihkan, apalagi menggarami sebuah kenyataan. Menurut saya, pengolahan makna terasa lebih sukses tersampaikan dengan poetic triplet.
Selain itu, terdapat hal sangat mendasar dan tipikal yang ditemui pada puisi-puisi Royyan. Ada beberapa kawan pembaca yang bilang bahwa mereka khawatir akan kesulitan memahami diksi dan olahan kata Royyan. Biasanya mereka akan berujar, ”Bahasanya terlalu tinggi.”
Memang betul. Royyan Julian meramu kata demi kata menjadi makna yang cukup kompleks. Kadang, memahami sebuah dua buah kata harus menyisakan sedikit waktu untuk menengok kamus dan mencari padanan konseptualnya.
Misalnya, dalam kumpulan puisi ini, saya menemukan lima kosakata yang tidak saya ketahui artinya apa, 38 korpus baru yang tak pernah terbayangkan muncul di benak saya, dan potongan narasi tertentu yang harus saya baca tiga kali baru mengerti.
Seharusnya, usaha semacam itu sudah membuat pembaca dengan kesabaran setipis saringan tahu seperti saya naik pitam. Tapi, buku ini unik sekali. Bila dibaca, rimanya seperti komposisi lagu. Di beberapa puisi, juga terdapat rima yang berirama memberikan saya kesan yang sama ketika membaca horror and gore dalam puisi The Raven karya Edgar Allan Poe yang kelam dan solilokui Richard II karya Shakespeare. (*)
*) PUTRIYANA ASMARANI, Bookstagrammer berdomisili di Kota Malang
---

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
