
COVER BUKU
Bisa ditebak, adegan berikutnya adalah pertarungan anak buah Nyai Ageng Pinatih melawan para begal. Salah satu begal sudah berhasil merebut Jaka Samudra dari pelukan ibu angkatnya.
Nyaris saja bayi itu akan dibunuh dengan golok, namun tiba-tiba sebuah sinar menyilaukan muncul dari Jaka Samudra. Membuat tubuh si begal tak terkendali, goloknya terlempar mengenai muka seorang begal lainnya. Bayi malang itu jatuh ke tanah. Nyai Ageng menyelamatkannya.
Kisah selanjutnya tentu berkelindan seputar kehidupan Jaka Samudra yang tumbuh sehat, berkecukupan dalam asuhan Nyai Ageng Pinatih. Sampai pada suatu ketika sebuah peristiwa mengusik ketenteraman Jaka Samudra. Itu ketika Aryo Wajendra, anak saudagar kapal, mengata-ngatai Jaka Samudra sebagai anak pungut.
Ucapan Wajendra itu memukul batin Jaka Samudra. Sekaligus membuatnya penasaran apakah benar ia bukan anak kandung Nyai Ageng Pinatih.
Ratih Kumala dalam bertutur di buku ini memang tidak mengumbar diksi indah. Ia justru menggunakan kata-kata lugas dan apa adanya. Ini seolah mempertegas bahwa sebagai penulis, ia ingin pembacanya tidak kesulitan menafsirkan pesan yang ingin disampaikannya.
Di sisi lain, saya justru menilai, sebagai penulis yang baru memulai debut menulis kisah laga, Ratih Kumala terkesan terburu-buru dalam bercerita. Ini tampak sekali ketika penulis menggarap adegan perkelahian antartokoh yang berlangsung begitu cepat dan klise. Seolah-olah penulis ingin segera menyudahi sekuel itu sebelum pembaca mencapai fase perasaan mencekam miris dan ketakutan.
Dalam penilaian saya, Ratih Kumala juga kurang memunculkan letupan-letupan dalam tulisannya. Ia sepertinya memilih jalan ”aman” dalam menuturkan kembali kisah turun-temurun ini.
Penulis juga tampak terobsesi menceritakan banyak tokoh yang barangkali dimaksudkan sebagai kembang-kembang yang menghidupkan ceritanya. Tapi, lagi-lagi, ia seperti tidak tuntas dalam bercerita. Itu yang membuat pembaca penasaran seperti apa nasib tokoh itu selanjutnya.
Meski demikian, keberanian Ratih Kumala dalam menulis kisah laga ini patut diapresiasi. Dia turut memberi warna baru dalam jagat sastra Indonesia. (*)
---
*) YETI KARTIKASARI, Pendidik dan pembaca buku. Tinggal di kaki Penanggungan, Pandaan, Pasuruan.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
