
COVER BUKU
Ady Setyawan tak cuma mengajak pembaca mengalami peristiwa karamnya Kapal Batavia secara terperinci, tapi juga membeberkan konteks ekonomi-politik dan geopolitik bangsa-bangsa Eropa dalam memperebutkan wilayah-wilayah penghasil rempah.
---
Ia menekankan ujung pena pada jurnalnya dan menulis, ”Lebih baik mati terhormat bersama mereka…daripada bertahan hidup dengan membawa kesedihan yang dalam di hati.”
KALIMAT itu ditulis oleh Francisco Pelsaert, perwira tinggi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sekaligus pemimpin tertinggi di Kapal Batavia: kapal baru yang terbuat dari material terbaik di zamannya demi mengarungi samudra menuju Pulau Jawa pada 1628–1629. Ada ratusan nyawa dan harta melimpah yang termuat untuk rencananya ditukar dengan komoditas rempah.
Namun, seperti digambarkan dalam buku ini, riwayat kapal tersebut tercatat dalam sejarah bukan karena berhasil mendapatkan rempah. Melainkan karena tajamnya karang, air mata, dan darah.
Literatur tentang bagaimana VOC beroperasi di Nusantara barangkali sudah melimpah. Namun, bagaimana kisah di balik layar: kehidupan awak kabin di samudra serta dilema yang dihadapi para pelaut VOC dalam upayanya mencapai Nusantara boleh jadi belum banyak tersedia. Pada aras itulah, buku ini menjadi layak disimak.
Dua puluh delapan bab dalam buku ini membentangkan salah satu kisah terkelam ekspedisi pelayaran bangsa Eropa dalam upaya mendapatkan komoditas rempah di wilayah-wilayah selatan bumi. Melalui sudut pandang penulisnya, Ady Setyawan, seorang sarjana teknik sipil yang memilih rute intelektual sebagai penulis buku-buku sejarah nasional bertema revolusi, pembaca tidak hanya diajak mengalami peristiwa karamnya Kapal Batavia itu secara terperinci dan kronologi dari hari ke hari. Lebih dari itu, terdapat juga konteks ekonomi-politik dan geopolitik bangsa-bangsa Eropa di abad 16–17 dalam memperebutkan wilayah-wilayah penghasil rempah, termasuk Nusantara.
Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda menjadi aktor dan pionir bagi ekspedisi-ekspedisi mencari rempah. Persaingan antarnegara tak terelakkan. Gengsi sebagai bangsa penjelajah serta besarnya keuntungan materi menjadi motifnya.
Berdasar arsip catatan perjalanan serta kajian-kajian yang digunakan sebagai data dalam buku ini, diketahui bahwa selain Spanyol dan Portugis, ”Hingga tahun 1590, belum ada negara Barat lainnya, termasuk Belanda, yang mengetahui lokasi pasti kepulauan Nusantara, apalagi informasi di pulau mana yang paling kaya. Kisah tentang pulau rempah masih diselimuti misteri, dongeng, dan mitos.”
Di zaman ketika navigasi masih jauh dari canggih seperti sekarang, catatan, arsip, dan peta rute perjalanan menjadi rahasia yang wajib dijaga, bila perlu dengan nyawa. Bagian awal buku ini memotret bagaimana intrik-intrik itu terjadi, hingga akhirnya seorang pelaut Belanda yang bekerja untuk kapal Portugis dan pernah pergi ke Nusantara, Jan Huygen van Linschoten, menerbitkan buku The Voyage of John Huyghen van Linschoten to the East Indies pada 1595–1596. Buku tersebut menjadi navigasi bagi bangsa Belanda dalam upaya menemukan Nusantara, konteks lahirnya VOC, serta ekspedisi Kapal Batavia.
Sebagai buku sejarah, ada sejumlah hal menarik untuk dicermati. Pertama, cara pandang. Sebagai buku tentang Belanda yang ditulis orang Indonesia, buku ini menghadirkan cara pandang yang berimbang.
Tidak dijumpai adanya kesan kekaguman berlebih pada perilaku dan teknologi bangsa ”barat”. Yang terbentang adalah perilaku barbar: sadisme, agitasi, kecabulan. Yang berpadu sepadan dengan penggambaran keberanian, keteguhan memegang prinsip kemanusiaan, serta mengambil keputusan-keputusan sulit yang terjadi selama pelayaran.
Kedua, cara penyajian. Setidaknya sejak buku terdahulunya, yakni Kronik Pertempuran Surabaya: Media Asing dan Historiografi Indonesia (2020), Ady tampak nyaman dengan cara penyajian kronik yang memisah ketat antara satu peristiwa dalam satu tanggal dan tanggal lainnya. Cara penyajian itu dalam beberapa hal cukup jitu untuk merekonstruksi suatu peristiwa sejarah yang mudah dipahami. Di buku terbarunya ini, cara tersebut masih digunakan setidaknya dalam sepuluh bab, sementara delapan belas bab lain disajikan secara eksplanatif, bahkan juga naratif.
Ya, di beberapa bagian buku ini, pembaca seakan membaca novel dengan segala perkakas intrinsiknya: ada ”antagonis” seperti Jeronimus Cornelisz (perwira) dan Ariaen Jacobsz (nakhoda) yang punya permufakatan untuk melenyapkan sang ”protagonis”, yakni Francisco Pelsaert (perwira tinggi/pemimpin kapal). Juga Lucretia van der Mijlen, perempuan berparas cantik yang turut serta dalam ekspedisi demi mencari suaminya di rantau. Ada pula Jan Pieterszoon Coen, yang setibanya Pelsaert di Kota Batavia dan mendengar kisah kehancuran itu memberikan perintah penyelamatan awak kapal dan harta VOC.
Apakah nama-nama itu rekaan? Tidak. Nama-nama itu merujuk pada tokoh-tokoh nyata yang tercatat dalam arsip-arsip resmi. Namun, penggambaran perwatakan serta dilema yang dihadapi masing-masing tokoh tersaji kompleks sehingga mirip karya sastra.
Selain perincian istilah pengetahuan tentang pelayaran di era itu, tawaran buku ini adalah penghadiran peristiwa sejarah dalam paparan yang berada di garis batas antara historiografi dan sastra. Selamat membaca. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
