
COVER BUKU
Suka Hardjana adalah seorang ”penjaga gawang” intelektual musik, yang kritis, sesekali suka misuh, namun berwatak asih dan mengasuh. Tinggal para mantan muridnya, apakah sekadar terpesona pada sang guru, ataukah menyerap dan mewarisi karisma intelektualnya.
---
SEKILAS, menatap sampul buku Adiwarna Suka Hardjana (2021), mungkin ada yang menduga ini tentang otobiografi seorang kiper sepak bola. Apalagi bagi generasi milenial yang belum pernah mendengar, mengenal, apalagi bertemu dengan sosok wajah serius itu.
Judul utama buku tidak memberikan petunjuk bahwa isinya perkara musik, kecuali subjudul yang tak begitu terbaca, Cermin Intelektual Musik, dan kutipan di bagian bawah ”Musik adalah bunyi yang memiliki kapasitas untuk mencerdaskan sensitivitas indera dan kognisi bila mampu dipindai secara tepat melalui potensi musikal alamiah manusia”.
Adiwarna, jika mengacu pada Tesamoko (2016: 7), artinya cantik, elok, memesona, menawan. Maka, Adiwarna Suka Hardjana dapat dibaca ”Keelokan Suka Hardjana” atau ”Suka Hardjana yang Memesona”.
Tentu maksudnya terkait pemikiran, sikap hidup, dan integritasnya pada dunia musik (di) Indonesia. Memang buku ini merupakan memoar terhadap sosok Suka Harjana (1940–2018), intelektual musik yang lengkap: sebagai pemain, pemikir, kritikus, dan aktivis musik dalam bingkai kebudayaan.
Saya bukan murid Pak Suka, demikian ia biasa disapa, tetapi ”hanya” seorang pembaca tulisan-tulisannya di koran dan majalah. Pernah beberapa kali bertemu di kampus Pascasarjana ISI Jogjakarta ketika ia ada agenda menguji disertasi calon doktor, dan ketika diselenggarakan perayaan oleh murid dan koleganya, sebagai kejutan ulang tahunnya yang ke-75.
Dari pertemuan yang selintas itu, lebih sebagai peneguhan terhadap sosok yang saya kenal lama melalui tulisan-tulisannya: Bahwa Suka Harjana adalah sosok yang kritis, dengan selera humor yang baik, dan mudah respek –juga sebaliknya– terhadap orang lain, terlebih pada orang muda.
Kesan itu saya tangkap sejak saya rajin membaca artikel-artikelnya, yang kemudian diterbitkan menjadi buku Musik Antara Kritik dan Apresiasi (Penerbit Buku Kompas, 2004) yang memuat 82 naskah. Buku dipilah menjadi tujuh bagian, berisi kritik terhadap musik, pemusik, peristiwa musik, birokrat, pendidikan seni, pengetahuan musik, dan –yang paling mengesankan saya– bagaimana Suka memotivasi dan membesarkan hati para musisi (komponis) muda.
Sekadar contoh, bagaimana ia mengamati proses kreatif Djaduk Ferianto dengan Kua Etnika; ”Mengikuti perkembangan kreatifnya sejak 1980-an ketika memulai debutnya sebagai komponis dalam Pekan Komponis Indonesia di Jakarta, Djaduk juga tetap konsisten dalam proses progresi karirnya sebagai seniman” (2004: 473; dimuat Kompas, 26 September 1999).
Betapa pentingnya bombongan semacam ini bagi Djaduk Ferianto (1964–2019) dalam meniti jalan musiknya. Juga bagaimana Suka melemparkan kritik tajam sekaligus inspiratif kepada para komponis muda dalam perhelatan Pekan Komponis Muda di TIM (1979), yang menyasar Rahayu Supanggah, Nano Suratno, Otto Sidharta, dan Sutanto, dan lainnya.
Kembali pada buku Adiwarna Suka Hardjana. Sebagai editor, Djohan, guru besar ISI Jogjakarta bidang psikologi musik, menulis dengan sedemikian rupa menunjukkan keterpesonaan sang murid kepada gurunya.
Pernyataan kritis dan sedikit sarkastik, antara lain pengalamannya ketika membimbing atau menguji bersama, terhadap hasil riset dan pemikiran mahasiswa calon doktor, misalnya, dikutip utuh penuh semangat. Bagi Djohan, itulah caranya memetik pelajaran dari Suka, menjadi kritis, otentik, reseptif, dan egaliter.
Buku ini berisi tujuh artikel yang ditulis oleh para mantan muridnya (Asep Hidayat Wirayuda, Hery Budiawan, Ovan Bagus Djatmika, Aldy Maulana, Henry Yuda Oktadus, Ferdiansyah Anwar; entah mengapa nama penulis hanya tertera di daftar isi, tidak pada artikel masing-masing), dan sejumlah pernyataan pendek dari para sejawat dan kolega dekatnya, misalnya Aisha Sudiarso Pletscher, Sal Murgiyanto, Bre Redana, Sardono W. Kusumo, Garin Nugroho, Sutanto Mendut, dan lain-lain.
Satu-satunya perupa yang (diminta) menulis kesaksian adalah Heri Dono. Catatan amat ringkas dan mengesankan, misalnya, ditulis oleh Goenawan Mohamad, ”Bisakah kita kehilangan dia? Seorang yang ada di dalam dunia musik tanpa menjadi entertainer yang ”smooth”, seorang yang memahami benar tradisi musik Eropa dan Indonesia, seorang yang menulis ulasan pertunjukan musik dengan dalam, informatif, menarik –seorang yang langka. […] Ia meninggal. Tapi ia tak meninggal dari kenangan” (halaman 153 ).
Jadi, tak salah kesan pertama saya terhadap buku ini seperti ”otobiografi seorang kiper” karena memang Suka Hardjana adalah seorang ”penjaga gawang” intelektual musik, yang kritis, sesekali suka misuh, namun berwatak asih dan mengasuh. Tinggal para mantan muridnya, apakah sekadar terpesona pada sang guru, ataukah menyerap dan mewarisi karisma intelektualnya. Karena itu, jika saya boleh bertanya, sekadar menggoda para mantan muridnya, siapa/adakah kritikus musik pasca-Suka Hardjana? (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
