Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 Maret 2021 | 23.48 WIB

Membaca Tradisi Madura dari Padamnya Damar Kambang

Cover buku - Image

Cover buku

Kendati sanggup mengisahkan relasi-relasi kelam antarkarakter secara memikat, Muna Masyari agaknya tak ingin memosisikan tokoh-tokohnya untuk secara sadar melawan bagian-bagian tradisi yang berpotensi eksploitatif.

---

IBARAT pancaran warna sebuah prisma, novel pertama karya Muna Masyari ini menawarkan beragam pembacaan mengenai tradisi, terkhusus budaya setempat di Madura. Berawal dari ritual pernikahan yang koyak, buku ini merekam retaknya hubungan dalam lingkup keluarga serta relasi-relasi sosial budaya yang sampai hari ini berpengaruh di sana.

Pertautan antara orang tua dan anak, kiai dengan santri, hingga dukun dan penganut kepercayaan kleniknya terasa makin kusut sengkarut dibayangi ego akan martabat, kehormatan, dan yang paling memilukan: pembiaran atas laku sarat kekerasan. Situasi ini memunculkan pertanyaan, mengapa kekerasan selalu memicu lahirnya kekerasan baru justru dalam latar kebudayaan tradisi yang penuh nilai kearifan itu?

Cerita berpusat pada dua tokoh utama, Chebbing si gadis usia 14 tahun dan damar kambang, sebuah pelita yang mesti disediakan pada ritual pernikahan serta secara simbolis menandakan kelanggengan rumah tangga. Di beberapa bagian novel, dengan gaya penceritaan yang memikat, damar kambang disuratkan sebagai cermin pitutur dalam membina hubungan suami istri; bilamana nyalanya padam, karamlah bahtera mereka.

Demikian pula yang menimpa Chebbing. Api damar kambangnya terus-menerus mati saat upacara pernikahannya dengan si kekasih dari kampung lain, Kacong, tengah dilangsungkan. Perkawinan mereka batal hanya karena kesalahpahaman soal jumlah mahar yang kemudian menyulut kemarahan orang tua Chebbing. Madlawi, si ayah, merasa tengka atau harga dirinya terhina lantaran Chebbing hanya dibawakan bantal-tikar dan kue-kue hantaran, bukan harta benda yang kelak mengisi rumah tinggal pasangan itu. Hubungan dua keluarga calon besan pun retak. Konflik lantas gulung-gemulung dan makin menunjukkan wajah kelam tiap tokohnya.

Dengan dukungan Sakrah, pamannya, Kacong yang terluka akibat pembatalan sepihak itu mendatangi dukun Nom Matrah buat memasang guna-guna bagi Chebbing, dan berhasil. Chebbing nekat bepergian seorang diri ke rumah Kacong dan memadu kasih.

Apa mau dikata, hubungan intim yang mereka lakukan memercikkan bara lain di hati Madlawi yang kian terinjak martabatnya. Jalan pintas ditempuhnya: diam-diam dia nikahkan Chebbing secara siri serta tanpa mahar dengan Ke Bulla sang kiai sebagai istri ketiganya.

Sampai di sini, kita sama sekali tidak menemukan suara-suara pilihan sadar seorang Chebbing. Sebagai perempuan dalam lingkup tradisi Madura, dia seolah tak melakukan perlawanan dan terpaksa mengikuti apa mau orang tua maupun para lelaki.

Begitulah: hasrat seksual, judi, dan ego diri terasa begitu gamblang dihadirkan dalam novel, yang dalam beberapa situasi ternyata sanggup mengganggu nalar kita. Terlebih, Muna Masyari secara sengaja membenturkannya dengan filosofi kearifan Madura yang mentradisi itu: para tokoh perempuan senantiasa dibayangi pitutur-pitutur budayanya walau ternyata, dalam konteks penceritaan ini, semua nasihat tersebut menjadi pembenaran atas pengekangan serta eksploitasi terhadap diri mereka yang dilakukan oleh mereka yang dituakan, berilmu, berkuasa, dan berderajat lebih tinggi. Suara-suara mereka bagaikan padam begitu saja.

Kendati sanggup mengisahkan relasi-relasi kelam antarkarakter secara memikat, Muna Masyari agaknya tak ingin memosisikan tokoh-tokohnya untuk secara sadar melawan bagian-bagian tradisi yang berpotensi eksploitatif itu. Setiap karakter seperti bergerak dengan laku dan pikirannya masing-masing di mana kultur budaya menjadi latar pemanggungannya.

Karakter perempuan lain pada novel, sebut saja para ibu dari kedua keluarga yang berseteru, lebih menempatkan diri sebagai kalangan tak berdaya. Satu yang ironi: kendati memiliki peluang untuk bersuara, sosok Marinten terlihat tidak memercikkan perlawanan terhadap budaya kekerasan dan patriarki yang dahulu menimpanya –alih-alih, dia mempertajam sifat iri dengkinya dengan mencelakakan Chebbing lewat bantuan dukun klenik hanya untuk kembali memikat perhatian Ke Bulla.

Dalam novel ini, tradisi ibarat status quo. Dia memberikan kenyamanan bagi kalangan-kalangan tertentu. Dan, kekerasan terjadi bilamana kenyamanan maupun privilese tersebut terganggu. Setiap relasi karakter novel Damar Kambang menunjukkan hal itu.

Semuanya berlangsung begitu paradoksal: orang tua yang meneguhkan tradisi namun membelenggu anaknya sendiri, kekasih yang memanipulasi cinta dengan guna-guna, seorang pemuka yang sedianya mengayomi namun akhirnya memetik kuncup bunga sang gadis.

Dengan caranya sendiri, Muna Masyari mencoba mengajak kita untuk menimbang kembali budaya masyarakat di Madura. Serta mendorong kita untuk menilai sendiri apakah tradisi tersebut berpihak dan melindungi setiap kalangan yang bernaung di bawahnya. (*)

*) Ni Made Purnama Sari, Penyair yang tinggal di Jogjakarta





  • Judul buku: Damar Kambang

  • Penulis: Muna Masyari

  • Kategori: Novel

  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Desember 2020

  • Halaman: vii + 200 halaman

  • ISBN: 978-602-481-456-4


Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/wFRlpsTjOZc

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore