Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Januari 2021 | 05.03 WIB

Pengalaman Perempuan dalam Pertarungan Kuasa

Photo - Image

Photo

’’Dari Dalam Kubur’’ seperti menghamparkan fakta sejarah, trauma personal, kegentingan jiwa, dan masa depan kemanusiaan pada saat yang bersamaan, dengan cara bercerita yang jauh dari kata membosankan.

---

BAGAIMANA karya seni membicarakan trauma? Banyak pendekatan yang dipilih seniman –penulis, pemusik, sutradara film, perupa, dan sebagainya– dalam memunculkan ihwal traumatis yang berkaitan dengan pengalaman diri yang menubuh. Terutama jika trauma tersebut merupakan bagian dari memori kolektif.

Menautkan hal-hal personal yang mendetail dan menyentuh jiwa-jiwa yang kosong dengan narasi yang lebih besar, yang bahkan merupakan rekaman sebuah zaman dan peradaban, adalah tantangan terbesar yang saya kira mesti dijawab.

Sebagian seniman memilih pendekatan yang dramatis atau memaparkan secara terperinci kekerasan dan kekejaman, sementara yang lain memilih memunculkan efek sosial dari peristiwa tersebut, dan ada pula yang bergelayut dengan kesedihan dan melankolia. Bagi saya, semua pendekatan sah dan relevan, terutama jika si seniman menemukan medium dan metafora yang tepat dalam penciptaannya.

Saya kira, di sinilah kekuatan Soe Tjen Marching: kemampuan memunculkan gagasan dan narasi besar sembari mengulik teknik dan ragam cara bercerita. Novel ’’Dari Dalam Kubur’’ yang diterbitkan pada 2020 ini seperti menghamparkan fakta sejarah, trauma personal, kegentingan jiwa, dan masa depan kemanusiaan pada saat yang bersamaan, dengan cara bercerita yang jauh dari kata membosankan.

Sebelum membaca karya-karya fiksinya, saya mengenal Soe Tjen dalam kapasitasnya sebagai intelektual aktivis, terutama dalam mengadvokasi kelompok-kelompok marginal. Ia mendirikan lembaga Bhinneka untuk membicarakan toleransi dan solidaritas antaretnis, terutama pascakonflik-konflik rasial yang melibatkan warga keturunan Tionghoa dalam sejarah panjang Indonesia.

Peristiwa-peristiwa sejarah ini menjadi titik berangkat bagi beberapa karya fiksinya, dalam situasi seperti Indonesia kontemporer di mana fakta sejarah sering dibelokkan, data disembunyikan atau tak dihiraukan, dan yang kalah terus saja tertindas. Membaca novel ’’Dari Dalam Kubur’’ menjadi sebuah ikhtiar untuk menguji kembali hati nurani kita yang telah sekian lama dicuci otak dengan kebenaran versi penguasa.

Soe Tjen membentang kisah dari cerita seorang Karla, anak perempuan yang besar dalam keluarga Tionghoa di Malang dengan setting peristiwa 1970-an. Sejak awal ia merasa diperlakukan tidak adil oleh keluarganya, juga pertanyaan-pertanyaannya sendiri mengapa kulitnya lebih gelap ketimbang mereka.

Ia menerima kekerasan yang membuatnya trauma hingga dewasa dan melihat keluarganya sebagai musuh. Di titik ini, Karla seperti menyadari batas antara ’’aku’’ dan ’’mereka’’ serta mencoba membangun benteng untuk melindungi dirinya sendiri dengan persahabatannya bersama teman-teman di sekolah. Semakin dewasa, Karla semakin menyadari bahwa ada misteri besar yang disembunyikan ibunya, Djing Fei; ayahnya, Han; dan kakaknya, Dong.

Menggunakan pergantian sudut pandang dari Karla, sang ibu dan seorang tokoh yang diperkenalkan kemudian, keponakan Karla, Soe Tjen membuka tabir luka dengan kesedihan yang menyayat.

Dalam bagian sang ibu ini, beberapa kali saya sendiri hampir tak bisa menahan air mata. Saya merasakan ada sesak di dada membaca nukilan kisah pengalaman para perempuan yang sempat menghabiskan bulan-bulan tergelap dalam hidup mereka di penjara perempuan di Plantungan pada pertengahan 1960-an.

Pada bagian ini, Soe Tjen secara gamblang menunjukkan bagaimana konflik politik memorak-porandakan hidup seseorang, yang imbasnya tidak hanya berlaku pada masa itu, tetapi juga keturunan mereka dari generasi-generasi selanjutnya.

Beberapa bagian buku ini memang cukup penuh dengan data dan uraian peristiwa. Jika Anda merasa sudah cukup tahu banyak, barangkali bisa dilewati.

Tetapi, saya justru menikmatinya sebagai bagian dari sesilangan teknik bercerita, yang keluar masuk dari ingatan personal ke dalam konteks-konteks sosial politik. Justru saya kira buku ini memberikan ruang yang cukup bagi pengetahuan, di antara kelindan berbagai perasaan yang ditumpahkan penulisnya.

Yang penting digarisbawahi dalam buku ’’Dari Dalam Kubur’’ ini adalah narasi trauma yang berfokus pada pengalaman perempuan. Beberapa kisah yang mulai menjadi arus besar penulisan berkait tragedi ’65, seperti yang ditulis Martin Aleida atau beberapa yang kembali dari Pulau Buru, lebih banyak mengisahkan pengalaman penyintas laki-laki.

Tragedi 1998 pun masih samar-samar muncul dalam narasi fiksi kita dan tidak banyak pula yang bisa membawa pengalaman tubuh perempuan yang pelik. Soe Tjen Marching membawa pengalaman-pengalaman ketubuhan perempuan, termasuk bagaimana kekerasan itu telah menghancurkan kisah cinta dan narasi keintiman di antara manusia, menjadi bagian yang tak terhindarkan dalam tragedi kemanusiaan semacam itu.

Menyelesaikan buku ini membawa saya pada suasana hati yang berat pada beberapa hari selanjutnya. Saya memikirkan tragisnya nasib Karla, yang membuatnya berada dalam situasi terjepit, seperti berjalan di lorong sempit, kemudian mentok menemui jurang. (*)





  • Judul buku: Dari Dalam Kubur

  • Penerbit: Marjin Kiri

  • Tahun: 2020

  • Tebal: 508 halaman


 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://youtu.be/B01PVvbmKbU

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore