Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Oktober 2020 | 22.13 WIB

Rekreasi dan Re-Kreasi dengan Kaki Kata

Photo - Image

Photo

Kaki Kata bisa dibaca dengan cara sebagaimana kita membaca fiksi. Fiksi dalam hal ini bukan karena sifatnya, melainkan karena strateginya.

---

SETELAH Satu Setengah Mata-Mata (2016), Nirwan Dewanto kembali menerbitkan buku esai bertajuk Kaki Kata. Buku ini terdiri atas 12 esai.

Judul tiap esai hanya terdiri atas satu kata yang, jika kita menganggap judul mencerminkan atau setidaknya menjadi bingkai bagi isi, akan terasa terlalu luas. Judul-judul itu tampaknya telah mengalami pemiuhan dan dipinjam begitu saja dari khazanahnya untuk keperluan topik yang hendak disampaikan.

Maka, ’’Geologi’’, misalnya, membicarakan cara membaca, ’’Anarkisme’’ membicarakan Putu Wijaya, ’’Nasionalisme’’ membicarakan pendidikan tinggi seni, dan sebagainya.

Sastra adalah motif pemiuhan itu. Di bagian akhir bab ’’Prakata’’, Nirwan menyimpulkan bahwa esai adalah ’’argumen berbulu polisemi’’. Argumen tentu saja mesti jelas dan tegas supaya mudah dipahami, sedangkan polisemi memiliki sifat multitafsir.

Penyejajaran dua kata itu menimbulkan ironi, dan ironi adalah unsur penting bukan hanya bagi sastra, melainkan juga bagi seni pada umumnya.

Karena Kaki Kata adalah kumpulan esai –bentuk tulisan yang langsung memperhadapkan pengarang dengan pembaca tanpa perantara narator/tokoh atau subjek-lirik– pembaca tentu bisa meneroka pokok pikiran, gagasan, atau pernyataan-pernyataan pengarang dalam tiap esai, lantas bersepakat atau tak bersepakat dengan itu.

Namun, saya kira, Kaki Kata juga bisa dibaca dengan cara lain, yakni dengan cara sebagaimana kita membaca fiksi. Fiksi dalam hal ini bukan karena sifatnya, melainkan karena strateginya.

Pembaca bisa ’’membunuh’’ si pengarang dan melihat ’’saya’’ yang berbicara dalam tiap esai sebagai tokoh fiksi. Dalam Kaki Kata, tokoh saya ini seperti sedang berjalan, dan ia tak berjalan sendirian, melainkan bersama ’’kita’’.

Kita-pembaca bisa saja merasa menjadi bagian dari kita-tekstual itu, bisa juga tidak. Semacam personifikasi terhadap pelbagai fitur, misalnya ’’Indonesia’’, ’’Geologi’’, atau ’’Geografi’’ memungkinkan fitur-fitur itu diperlakukan sebagai tokoh dengan karakternya masing-masing.

Tokoh saya, sebagai pusat narasi, adalah sosok kritis yang menawarkan, atau menganjurkan, pelbagai cara lain dalam melihat persoalan, sekaligus sosok yang terus-menerus bergumul dan meragukan pikirannya sendiri.

Dengan cara baca seperti itu, menelusuri esai-esai dalam Kaki Kata seperti kegiatan rekreasi yang mungkin juga memantik upaya re-kreasi. (*)





  • Judul: Kaki Kata

  • Penulis: Nirwan Dewanto

  • Penerbit: Teroka Press

  • Tahun: Juli 2020

  • Tebal: xiv + 254 halaman

  • ISBN: 978-623-93669-1-9


 




 

KIKI SULISTYO

Penyair, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari?

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=KktEAdTG6GU&ab_channel=JawaPos

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore