
Photo
Dinamika kehidupan sosial di jalanan, memang bisa membentuk karakter orang menjadi pribadi yang keras. Namun, dari penderitaan dan air mata yang kerap dialami, seseorang bisa menjadi pribadi yang kuat saat badai ujian kehidupan datang menerpa. Kemudian, datanglah kebahagiaan yang akhirnya mereka rasakan, seperti halnya masyarakat lain pada umumnya. Itulah yang dirasakan Saguna, Gayatri, Gara dan Garnis. Tokoh utama dalam novel ‘Air Mata Api’ karya P.A. Redjalam.
MEMBACA novel ini membuat pikiran saya melayang ke era 90-an. Saat itu, usia saya belum genap 10 tahun. Untuk pertama kalinya saat berada di bangku sekolah dasar, mendengarkan lagu berjudul 'Terminal' yang dinyanyikan Iwan Fals bersama Franky Sahilatua. Meski enak didengar, namun kala itu, saya tak mengetahui makna dibalik lirik judul lagu tersebut. Baru setelah beranjak dewasa, saya mengetahui sedikit tentang makna lirik lagu itu. Demikian juga dengan lirik setiap judul lagu, pria bernama asli Virgiawan Listanto tersebut. Saat kongko bersama teman-teman kecil dulu, kami pun kerap menyanyikan berbagai lagu ciptaan legenda musik Indonesia bertema kritik sosial tersebut.
Bagi penggemar Iwan Fals, baik yang tergabung dalam OI (Orang Indonesia) atau pun penggemar yang tak terikat dengan OI seperti saya, novel ini ibarat oase yang mampu mengobati kerinduan akan lagu-lagu lawas karya Iwan Fals. Sebab saat membaca, emosi kita diaduk-aduk oleh P.A Redjalam. Kita seperti ikut mengalami penderitaan dan kebahagiaan yang dialami tokoh-tokoh dalam novel ini.
Meskipun plot dalam novel ini ditulis berdasarkan judul lagu yang kerap dinyanyikan dan diciptakan Iwan Fals, namun jika membacanya sampai habis, maka akan menjadi satu kesatuan yang cerita yang utuh. Selain itu, kita juga dapat memahami isi dari cerita yang digambarkan oleh penulis. Inilah salah satu keunggulan dalam novel ini, sehingga membuat sang empunya lagu, Iwan Fals, menyukainya.
Pembaca akan memahami bagaimana jalan kehidupan Saguna, seorang preman budiman yang bahagia karena telah mempersunting Gayatri, seorang pelacur yang mangkal di sebuah lokalisasi di pinggiran Kota Solo, Jawa Tengah. Kebahagian pun bertambah lengkap sejak Gayatri melahirkan buah cinta mereka, Gara. Pada dasarnya Saguna merupakan pemuda kampung biasa, hingga lingkungan yang acuh dan tak peduli dengan kemelaratannya, membuat jalan hidupnya berubah menjadi preman di Jakarta. Ini akibat dia diusir oleh ayahnya sendiri, karena mencuri seekor kambing bandot milik tetangganya.
Baca juga: Waria Juga Manusia
Kendati menjadi preman, namun ada sisi kebaikan yang masih dimiliki Saguna. Dia melindungi pedagang-pedagang kecil yang kerap diperas preman Ibu Kota. Berbeda dengan tokoh Sugali, preman pesaingnya yang kerap bertindak kontradiktif dengan Saguna.
Sayang, kebahagiaan Saguna tak berlangsung lama. Dia tewas tertembus timah panas oleh orang tak dikenal. Pada awalnya, Juki, sahabat Saguna mengira bahwa suami Gayatri tersebut menjadi korban Petrus, kelompok penembak misterius yang menyasar orang-orang yang dianggap preman dan meresahkan masyarakat di era Orde Baru. Namun, setelah Juki menyelidikinya, ternyata sahabatnya tersebut tewas ditembak oleh preman pesuruh Sugali. Sugali menghabisi nyawa orang yang pernah menyelamatkannya, karena ingin merebut kekuasaan Saguna menjadi pimpinan preman. Sebuah pengkhianatan dari seorang sahabat yang pernah diselamatkan nyawanya oleh Saguna.
Sementara Juki justru tetap setia bersama Saguna. Setelah membalas dendam atas kematian Saguna selesai, dia merawat dan membesarkan Gara, anak satu-satunya dari buah hati Saguna dan Gayatri. Ini karena Gayatri tewas mengenaskan akibat jatuh dari lantai kamar atas, saat berkelahi dengan Tince Sukarti, Mucikari yang memaksa Gayatri menjadi pelacur lagi. Gayatri tewas karena mempertahankan kesucian dan kesetiaannya terhadap Saguna.
Kesetiaan Juki juga kembali teruji. Ini terbukti ketika Juki membantu Gara melawan Boy dan puluhan pengawalnya. Saat itu, Gara balas dendam karena Garnis, orang yang dicintainya, dianiaya, diperkosa dan dijual oleh Boy kepada sahabatnya.
Singkat cerita, meski hidup miskin karena menjadi pengamen, kini, Gara bisa hidup tenang dan bahagia. Ini karena dia bisa bertemu lagi dengan Garnis, pujaan hatinya. Dia tengah merajut masa depannya dengan pujaan hatinya tersebut.
Alur cerita ini memang menarik, namun menurut hemat saya, ada penamaan tokoh yang kurang pas, seperti nama Tince Sukarti yang disematkan terhadap mucikari yang menjual Gayatri ke pria hidung belang. Agar sesuai dengan lagu Iwan Fals yang berjudul ‘Tince Sukarti Binti Mahmud’ mungkin penamaan Tince Sukarti lebih tepat kepada tokoh Gayatri atau Garnis.
Selain itu, penamaan tokoh yang kurang tepat juga pada nama Sugali. Jika merujuk pada lagu Iwan Fals yang berjudul ‘Sugali’, maka menurut hemat saya, nama ini cocok dijadikan sebagai tokoh utama pengganti nama Saguna.
Selanjutnya, selain nama tokoh, jika disambungkan dengan inti cerita, 12 lagu juga dirasa kurang untuk menceritakan Kisah Saguna dan Gayatri tersebut. Seharusnya mungkin bisa memasukkan plot cerita lanjutan dari lagu-lagu lain seperti; Terminal, Tince Sukarti Binti Mahmud, Lonteku, Mata Indah Bola Pingpong, Libur Kecil Kaum Kusam, Ibu, sesuai dengan alur cerita.
Semoga kedepannya bisa terbit kembali Novel seperti ini dengan tema cerita yang berbeda. Seperti lagu-lagu Iwan Fals bertema kritik sosial di antaranya Oemar Bakrie, Tikus-Tikus Kantor, Manusia ½ Dewa, Wakil Rakyat, Bongkar, Sarjana Muda, Si Budi Kecil, Siang Seberang Istana, Bento, serta berbagai lagu bertema kritik sosial lainnya.
Judul: Air Mati Api
Penulis: Piter Abdullah Redjalam
Penerbit: PT. RajaGrafindo Persada, Depok
Terbit: Juni 2020
Tebal: 212 halaman ISBN: 978-602-1288-28-3

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
