
ILUSTRASI - ISTIMEWA
Pada jurnalisme seni rupa Bambang Bujono terkandung misi ”menimbulkan minat” pembaca ”untuk melihat sendiri” pameran yang diulasnya.
---
KRITIKUS seni rupa (di) Indonesia adalah spesies yang hampir punah. Masa depannya suram seperti badak sumatera yang kehilangan habitat.
Dulu memang pernah ada majalah-majalah seni rupa seperti Arti, Visual Arts, C-Arts, dan Sarasvati. Tapi, itu pun tetap tak memampukan kritikus seni rupa untuk sentosa dengan laba dan wibawa di muka penghayat seni rupa Indonesia.
Apa boleh buat, setelah semua majalah itu gulung tikar, kritikus seni rupa terpaksa kembali menumpang hidup di media massa umum. Nahasnya, hari-hari ini media massa umum pun tampak mulai keberatan menampungnya.
Atas kenyataan dan kebijaksanaan tersebut, Bambang Bujono -akrab disapa Bambu- pantas menjadi teladan. Jurnalis-kritikus kelahiran Solo 1947 itu telah menghabiskan lebih dari separo usianya untuk kritik seni rupa. Sejak 1968 hingga kini Bambu menulis esai dan ulasan pameran di pelbagai media massa, khususnya Tempo, majalah tempatnya bekerja sebagai jurnalis pada 1978-1994.
Jadi, beralasan bila dia beroleh penghargaan Visual Arts Award 2011 dari majalah Visual Arts, Anugerah Adhikarya Rupa 2014 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan Lifetime Achievement Award dari Biennale Jogja XV-Equator #5-2019.
Lebih dari itu adalah penerbitan buku berukuran 13,8 x 20,3 sentimeter yang disunting Hendro Wiyanto ini. Saya kira begitulah sewajarnya penghormatan kita kepada kritikus seni rupa sekaliber Bambu.
Dia adalah ”The Last of the Mohicans” di dunia seni rupa Indonesia. Karena itu, alih-alih sekadar himpunan tulisan yang terserak di berbagai media massa bertitimangsa 1969-2019, buku ini, pun buku pertamanya Melampaui Citra dan Ingatan (2017), merupakan ”monumen pemikiran” seorang kritikus seni rupa tanah air paling berdarmabakti yang masih hidup sehingga perlu dibaca dengan saksama.
Berdasar riset Berto Tukan pada 2017, buku ini memuat 95 tulisan: 8 esai, 2 resensi buku, 1 wawancara, dan 84 ulasan pameran pilihan Hendro Wiyanto.
Ke-95 tulisan itu dikelompokkan oleh Hendro ke dalam 11 bab. Satu tulisan yang sama terdapat dalam buku pertamanya, yakni Nashar tentang Nashar (halaman 394-396), itu pun dengan sepenggal salah ketik yang menggelikan.
Selain menyunting, Hendro menulis esai pengantar di buku ini (viii-xv). Di situ dia, antara lain di halaman xiii, mengatakan, ”Kritik seni Bambu bersandar sepenuhnya pada pengalaman estetik kritikus yang mensyaratkan pertemuan langsung dengan karya seni yang hendak diulasnya.”
Saya kira kurator seni rupa asal Tuban itu salah besar. Saya menemukan 8 tulisan (halaman 111-114, 148-151, 206-209, 269-272, 310-313, 316-318, 319-322, dan 391-393) yang dibuat Bambu tanpa ”pertemuan langsung”, alih-alih dibikin bersama dan/atau dengan bahan penulis-jurnalis lain.
Selain itu, saya mencurigai tulisan Sangat Avant-garde’ di Beijing (halaman 243-245) kali pertama terbit di Tempo (8 Desember 1979), tak dibuat Bambu berdasar kontak, cerapan, atau pertemuan langsungnya dengan pameran ”30 seniman muda China” di Gedung Peio Hai, Beijing, akhir November 1979.
Saya ingin membijaksanai tulisan-tulisan itu sebagai bukan kritik seni rupa, melainkan jurnalisme seni rupa yang justru memperlihatkan keunggulan perbandingan Bambu dibanding kritikus-kritikus seni rupa lainnya seperti Kusnadi, Sudarmadji, Dan Suwarjono, dan Sanento Yuliman.
Karena itu, seorang kritikus seni rupa mengulas pameran, meresensi buku, atau menulis obituari di suatu media bukan lantaran iseng, tapi demi misi tertentu. Pada Bambu, misi itu adalah ”menimbulkan minat” pembaca ”untuk melihat sendiri” pameran yang diulasnya sehingga tercipta dialog langsung antara pembaca-pemirsa dengan pameran atau pemahaman pembaca-pemirsa dengan ulasan si kritikus. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
