
Abdullah Azwar Anas - Istimewa
Ada guyonan, politik di Indonesia menganut ”trilema” (singkatan dari tiga dilema atau tiga aspek yang tak sinkron). Yaitu, pintar, jujur, dan politisi. Jika kau pintar dan jujur, pasti bukan politisi; jika kau pintar dan politisi, pasti tidak jujur; jika kau jujur dan politisi, pasti tidak pintar.
Tanpa kesan berlebihan, trilema itu tidak berlaku pada sosok Abdullah Azwar Anas. Sebagai bupati yang memimpin Banyuwangi selama dua periode, Anas –panggilan akrabnya– adalah politikus komplet. Pengabdiannya buat masyarakat sebagai politikus tetap membuatnya pintar dan jujur.
Mau bukti? Bacalah buku berjudul Anti Mainstream Marketing: 20 Jurus Mengubah Banyuwangi yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Buku setebal 426 halaman itu ungkapan cinta dan totalitas Anas dalam memimpin Banyuwangi. Di setiap lembarnya, ditemukan kematangan teoretis yang diuji dengan praktik empiris di birokrasi dalam memajukan Banyuwangi melalui pariwisata sebagai core economy.
Buku ini dipersembahkan dengan bahasa renyah, tapi sistematis. Diagram, sari pati halaman, dan foto yang dibuat dengan kelas profesional bisa dijumpai nyaris di setiap halaman. Sedikit jika bisa disayangkan, tidak semua foto ekspresif dan indah itu kita lihat dalam format warna.
Meskipun di toko buku dikategorikan sebagai buku marketing atau buku bisnis, buku yang bersampul sederhana warna merah dengan foto Anas berbaju tradisional Osing itu jauh dari kesan jurnal, apalagi textbook yang berat dan membosankan.
Sebuah narasi yang tidak hanya mencerahkan karena detail teori dan fakta yang diungkapkan, tetapi juga memberikan asupan pada pikiran. Patut diapresiasi keberanian tim editor untuk menyajikan pikiran-pikiran Anas menggunakan logika pemasaran yang terbalik (paradoks). Sehingga menghasilkan jurus-jurus pemasaran anti-mainstream.
”Promosi Paling Ampuh Adalah Tidak Berpromosi” adalah pilihan kalimat untuk menjelaskan prinsip getok tular (saling memberi tahu). Sedangkan ”Kelemahan Adalah Kekuatan” adalah penjelasan untuk prinsip bersaing Banyuwangi dengan daerah lain. Prinsip akses dijelaskan secara luwes dengan kalimat ”Semakin Sembunyi, Semakin Dicari”.
Kenakalan kalimat semacam itu menghindarkan hipotesis tentang sebuah buku di akhir masa jabatan yang penuh pujian atas capaian diri. Serta berasyik masyuk dengan kisah kemakmuran yang melenakan dan masa keemasan perekonomian. Antilogika di kalimat efektif mengundang rasa penasaran sehingga semakin bersemangat membaca sampai tuntas.
Anas yang saat muda digembleng dengan aktivitas kepemudaan di Nahdlatul Ulama (NU), dilanjutkan dengan proses di birokrasi yang penuh dinamika dengan menjadi anggota MPR (1997–1999) dan DPR (2004–2009), juga rangkaian program studi ilmu kepemerintahan di Harvard (2011) dan Kanada (2012), membuat dia cakap menemukan rujukan teori praktik-praktik pemerintahannya.
Meskipun mengemas dalam format anti-mainstream, pokok-pokok pikiran Anas in-line dengan pemikiran pakar manajemen dan marketing dunia seperti CEO GE Jack Welch, suhu marketing dunia Michael Porter dan Al Ries, hingga ilmuwan politik Francis Fukuyama.
Dalam keseluruhan bab, Anas yang menghabiskan masa kecilnya di Banyuwangi dan Madura itu tidak sedang mengelu-elukan Banyuwangi, daerah yang pembangunannya dia pimpin selama dua periode (10 tahun). Padahal, semua sumber data resmi, mulai BPS hingga BI, mencatat statistik mengesankan atas pembangunan di Banyuwangi. PDRB (produk domestik regional bruto) meningkat 141,8 persen dalam 10 tahun masa kepemimpinan Anas. Dari Rp 32,46 triliun menjadi Rp 78,48 triliun. Lalu, pendapatan per kapita naik dari Rp 20,86 juta menjadi Rp 48,75 juta (naik 134 persen). Kunjungan wisatawan Nusantara maupun mancanegara melonjak hampir 1.000 persen dalam periode 10 tahun. Luar biasa.
Alumnus Fakultas Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu memilih berkisah dengan sikap mirip seorang penutur yang netral.
Buku yang selayaknya disambut hangat mulai para pemuda calon pemimpin, kalangan birokrat, akademis, politisi, pekerja media, hingga pelaku ekonomi. Buku ini juga bisa mendorong tradisi mulia kepemimpinan dengan meninggalkan catatan terdokumentasi kepada penerus tongkat estafet di pemerintahan. Warisan ilmu kepemimpinan Anas bernilai melebihi emas dan jauh lebih diperlukan saat ini jika dibandingkan dengan warisan aset dan monumen yang segera hilang ditelan zaman. (*)
Photo

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
