Sampul buku Filsafat Maut.
Bukankah kesementaraan hidup yang membuat hidup menjadi berharga? Ditulis oleh empat ahli filsafat, Filsafat Maut: Empat Renungan untuk Hidup Baik begitu mendalam mengulas kematian dari masing-masing perspektif.
BAGI kebanyakan orang, kesadaran akan kematian menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Sebagian penyebabnya karena kematian mengakhiri aktivitasnya di dunia, mengakhiri pencapaian-pencapaiannya, juga mengakhiri kebersamaan dengan orang-orang terdekatnya.
”Ia akan melucuti segala yang kaukira bakal abadi,” tulis Joko Pinurbo dalam puisi Memo Sepi (Kabar Sukacinta, 2021).
Karena itu, beberapa orang berupaya menghindari rasa cemas tersebut dengan menyibukkan diri dalam rutinitas keseharian. Semacam bentuk eskapisme atau pelarian agar kenyataan bahwa mereka akan mati menjadi terlupakan.
Bahkan tidak sedikit orang yang mengupayakan agar hidup manusia dapat berlangsung selamanya. Sejarawan Yuval Noah Harari atau ilmuwan psikologi Daniel Kahneman, sebagaimana disinggung dalam buku ini, berkeyakinan bahwa kematian hanyalah ”masalah teknis” yang akan menemukan solusinya di masa depan (hal 62).
Artinya, mereka memandang kematian hanya sebagai fenomena biologis, bukan fenomena eksistensial dan sosial. Seolah-olah manusia tidak memiliki kemampuan menghayati keberadaan dan pengalaman hidupnya.
Seandainya pun kita dapat hidup abadi, apakah kehidupan itu akan bermakna? Bukankah kesementaraan hidup yang membuat hidup menjadi berharga? Bagaimana makna hidup seseorang –yang berawal dari tiada menjadi ada– jika ia tidak dapat meniada?
Ditulis oleh empat ahli filsafat, buku berjudul Filsafat Maut: Empat Renungan untuk Hidup Baik begitu mendalam mengulas kematian dari masing-masing perspektif. S.P. Lili Tjahjadi menulis peristiwa kematian dari perspektif filsafat samurai Jepang, Fitzerald K. Sitorus membahas kematian dari kacamata filsafat Hegel, Budi Hardiman menjelaskannya dari filsafat Martin Heidegger, dan A. Setyo Wibowo menganalisis pandangan kaum stoikisme tentang kematian.
Bisa disimpulkan buku ini memosisikan momen kematian seseorang sebagai momen eksistensial sekaligus menawarkan semacam pereda untuk kecemasan yang muncul sebagai konsekuensinya. Kesadaran seseorang akan kematian yang kemudian menimbulkan kecemasan adalah kondisi khas manusia. Hal itu hendaknya diterima sepenuh hati. Tak perlu seseorang melarikan diri dari kondisi tersebut.
Menurut Heidegger, kesadaran terhadap kematian merupakan hal yang autentik. Karena itu, lari dari kesadaran tersebut hanya karena menimbulkan kecemasan merupakan sikap yang inautentik. Budi Hardiman menulis, ”Menjadi autentik merupakan wujud hidup yang baik. Dasein (manusia autentik-pen) menjadi dirinya sendiri, dan hal itu terwujud, jika ia hidup dalam kesadaran akan kematiannya (hal 68).
Artinya, autentisitas seseorang ditentukan, salah satunya oleh kesadarannya akan kematian. Melarikan diri dari kecemasan akan kematian merupakan bentuk pengingkaran terhadap kenyataan. Kondisi tersebut merupakan sikap hidup yang tidak sehat karena berupaya membohongi atau menipu diri sendiri.
Selanjutnya, pandangan kaum stoik terhadap kematian cukup sederhana. Sebagaimana filosofi mereka yang berfokus pada apa yang mampu seseorang kendalikan dan apa yang di luar kendalinya, kematian merupakan peristiwa yang terjadi di luar kendali kita. Karena itu, tidak perlu membuang-buang waktu untuk mencemaskannya.
Di samping itu, kaum stoik yang selalu menganjurkan hidup selaras dengan alam berpendapat bahwa kematian adalah proses dan siklus alamiah yang terjadi di alam semesta. Sikap menolaknya adalah sikap melawan hukum alam dan itu merupakan hal yang sia-sia.
Mengutip Epiktetos, Setyo Wibowo menulis, ”Mengapa gandum tumbuh? Bukankah supaya ia bisa matang di bawah sinar matahari? Dan jika sudah matang, bukankah aku juga akan dituai, karena aku bukan sesuatu yang terpisah?” (hal 87).

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
