
Cover Buku
Seno Gumira Ajidarma melakukan rekonstruksi dan interpretasi dari kumpulan cerita Lu Xun, seorang penulis Tiongkok, yang hidup antara 1881 sampai 1936.
SEBAGAIMANA buku-buku sebelumnya, Seno Gumira Ajidarma (SGA), dalam buku ini, Orang Makan Orang: Kibul-Kibul Budaya Politik, selalu menyuguhkan hal-hal ”nyentrik”, out of the box. Apa maksudnya ”orang makan orang”?
Semula, saya duga buku ini akan mendiskusikan relasi subjek dengan objek, seperti yang pernah dia tulis di buku terdahulu, Kisah Mata, terbit 2003. Tapi rupanya tidak. Andai saja melanjutkan relasi yang rumit itu, muncul pertanyaan dalam ungkapan ”orang makan orang”, siapa subjek dan siapa objeknya?
Meski demikian, dalam buku terbarunya ini, yang merupakan kumpulan esai, SGA menyoroti fenomena-fenomena sosial ditinjau dari kesusastraan. Judul buku Orang Makan Orang berasal dari salah satu artikelnya.
SGA melakukan rekonstruksi dan interpretasi dari kumpulan cerita Lu Xun, seorang penulis Tiongkok, yang hidup antara 1881 sampai 1936. Karya Lu Xun, menurut pengamatan SGA, telah diterjemah-terbitkan ke dalam bahasa Indonesia dalam kurun waktu yang berbeda, yaitu tahun 1963, 1989, dan 2007.
Lu Xun merepresentasikan sebagai penulis prosa modern pertama dalam susastra Tiongkok. Isi tulisannya setengah satire, namun sarat makna. Dia banyak mengkritik feodalisme di satu sisi dan meninggikan moral di sisi lain.
Di antara ungkapan Lu Xun sebagai berikut: ”Tempat orang sering makan orang selama 4.000 tahun, baru sekarang kumaklumi. Dan aku sendiri telah bercampur gaul di dalamnya selama 20 tahun.”
Perhatikan ini juga: ”Baru saja abangku memegang urusan rumah tangga, adikku kebetulan mati. Tak mustahil, jika dagingnya dicampur ke dalam lauk-pauk dan diam-diam diberikan kepada kami.”
Menurut SGA, ungkapan Lu Xun tersebut justru menunjuk fakta sejarah. Pertama, buku resep Li Shizen (1518–1593), Ben-cao-gang-mu, tentang ramuan, mencantumkan bahwa daging manusia dapat digoreng dan dimakan.
Kedua, dalam kitab kuno Zo Zhuan, penjahat bukan saja pantas dibunuh, bahkan ”dagingnya dimakan dan kulitnya dibikin seprai”. Ketiga, juru masak Yi Ya menjerang anak lelakinya sendiri, diberikan kepada Huan dari Chi yang berkuasa pada 685–643 SM, karena rajanya itu ingin tahu rasa daging bayi. Keempat, Xu Xilin, tokoh pembangkang masa Dinasti Qing (1644–1911) yang dihukum mati pada 1907, jantung dan hatinya dimakan. Kelima, ada kepercayaan, darah manusia bisa menyembuhkan TBC, seusai hukuman mati algojo menjual roti kukus yang dicelupkan darah terhukum (hal 110).
Di bagian lain, Lu Xun kembali menulis: ”Ada yang menganggap sudah selayaknya makan orang. Sebagian lagi sebenarnya tidak ingin memakan daging manusia, tetapi mereka berusaha memakannya; karena mereka takut jika orang-orang mengetahui rahasia mereka…”. Dalam menafsirkan ungkapan ini, bagi SGA, mengapa korupsi, ketika sistemik, sulit dihapuskan, karena korupsi juga dilakukan orang yang tidak ingin korupsi, agar sikap itu tetap menjadi rahasia.
Konteks pemikiran Lu Xun memang terkait dengan pasang surut nasionalisme di Tiongkok. Lu Xun dikenal selalu berpihak pada rakyat kecil. Dia bukan komunis, meski Mao Zedong (1893–1976) konon pernah menyanjungnya setinggi langit.
Sarkasme orang makan orang ditujukan pada situasi pembusukan feodalisme yang belum berakhir seiring runtuhnya Dinasti Qing tahun 1912. Sementara dalam arti yang lebih luas, orang makan orang juga sangat relevan dengan kondisi hingga sekarang, termasuk di Indonesia, yang dalam kasus korupsi, misalnya, dengan mengambil yang bukan haknya, itu jelas membuat orang lain sengsara, seperti ”memakan orang” yang dirugikan atas perbuatannya itu.
Selain bersumber dari Lu Xun, yang menjadi inspirasi tulis SGA, terdapat pula dari Multatuli, ketika menjelaskan tentang upaya-upaya memperoleh kekuasaan dengan cara culas, bohong, penuh tipu daya, yang dalam buku setebal 277 halaman ini disebut ”kibul”.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
