
Cover Buku
Bagi Afrizal Malna, seiring bertambahnya usia, ruang untuk liar dalam berpuisi kian berganti menjadi ruang untuk menata.
PENGGUBAH puisi bertambah tua. Kesadaran agak telat setelah kejadian dan sapaan. Ia merasa tubuh tak lagi perkasa. Sebutan pun bertambah. Di Sidoarjo, dia pernah mendapat sapaan ’’mbah”.
Penghormatan tapi sekaligus memberi kejutan untuk penggubah puisi bernama Afrizal Malna. Dia melewati usia 60-an tahun. Hari-hari mengesahkan tua. Hari-hari tetap berpuisi.
Pada usia 66 tahun, dia mendatangi umat sastra di Indonesia dengan buku berjudul tiket masuk bioskop autobiografi (2023). Penulisan tanpa huruf kapital. Afrizal masih bermasalah dengan bahasa, berdampak dalam sikap terhadap ejaan dan tata bahasa.
Afrizal Malna belum tamat dengan puisi-puisi sulit disenandungkan dan diingat oleh murid-murid bila nekat menggunakan dalam lomba baca puisi. Afrizal Malna tak usah terpuji merdu. Dia terbukti memberi puisi-puisi seru.
Dia sadar tubuh lapuk dan usang. Pemahaman atas tubuh berbeda dengan kata-kata. Di puisi-puisi, dia tetap berurusan kata meski kadang ’’menghindar” dan ’’menggantikan”.
Sosok bertubuh kecil itu mengaku: ’’Cara berpikir saya kian ditertibkan oleh usia. Ruang untuk liar dan nakal kian berganti dengan ruang untuk menata.” Dia enggan menjadi ’’si bocah tua nakal”.
Di puisi berjudul ilusi susu dan cicak, Afrizal Malna mengarsip: pagi ini usiamu 65 tahun. usia tentang/ hari jumat. usia tentang vagina. usia tentang/ rahim. usia tentang usus. usia tentang sepatu/ bekas. usia tentang sapu lidi. usia tentang/ gunting kuku. Ia menulis (lagi) manusia memiliki babak-babak pembuatan biografi bersama waktu, benda, peristiwa, tempat, dan lain-lain. Usia tua belum menuakan kata-kata pernah bertumbuh bersama Afrizal Malna. Pada suatu masa, kata-kata itu bersama diri berambut gondrong, tapi lekas meluncur cepat saat kepala itu gundul selama puluhan tahun.
Puisi dirasakan lembut oleh pembaca sedang menanggung zaman berantakan bahasa. Afrizal Malna santun berpuisi. Ia bukan memberi ledakan atau api membara. Pembaca mungkin kangen puisi-puisi digubah masa 1980-an dan 1990-an. Dulu, Afrizal Malna seperti ’’jalan lain” dalam kesusastraan Indonesia. Ia tak turut keramaian, tapi menimbulkan ’’onar” saat orang-orang membuat daftar pembaruan puisi dan dampak-dampak.
Kita mau bertambah sibuk untuk mundur dulu ke puisi-puisi lama. Afrizal Malna (1999) justru pernah rumit dengan keputusan membaca lagi puisi-puisi pernah ditulis untuk dipilih. Ia mengungkapkan: ’’Memeriksa lagi puisi-puisi saya seperti memeriksa tanaman dalam sebuah kebun teks. Penataan seperti apa yang harus saya lakukan? Ternyata tidak ada. Saya kehilangan pijakan mengenai gambaran dunia puisi, seperti ada sesuatu yang kian dicampakkan ke atas debu.” Ia mungkin terpengaruh situasi Indonesia setelah kejatuhan rezim Orde Baru. Berpikiran tentang ’’rezim” dalam puisi boleh berjatuhan atau terkapar menantikan kematian. Pengganti tetap berdatangan atau pembuat arus berbeda masuk tanpa permisi.
Ia mahir meragukan puisi, tapi keranjingan menggubah puisi. Afrizal Malna belum jemu mengabarkan puisi-puisi saat bergerak ke kota-kota, bertemu orang-orang tanpa harus ada pemberitaan. Mulut itu biasa mengucap tentang puisi diselingi rokok dan tawa aneh. Pada 1989, ia mengungkapkan: ’’Engkau masih percaya juga, puisi di luar sejarah membaca?” Kita bisa melupakan dengan mempertimbangkan buku-buku puisi terus terbit. Afrizal Malna tak mengetahui kiamat dalam penerbitan buku puisi.
Baca Juga: Rayuan Satu Putaran
Pada episode-episode sejarah Indonesia, ia tetap mampu menjadikan puisi-puisi. Ia menaruh diri dalam gerak sejarah, menampilkan kontradiksi dan sengketa. Puisi dengan bahasa Indonesia mudah ’’diharamkan” bagi pemuja EYD dan pembakuan. Kata-kata bisa minggat dari kamus-kamus. Kita mengira Afrizal Malna sedang meruntuhkan leksikografi, tapi mencipta rahim ’’lain”.
Afrizal Malna saat berumur 60-an tahun memberi puisi berjudul identitas virtual. Ia menggubah puisi bersama kebiasaan perjalanan dan koper sebagai ’’tempat hidup”. Ia berada dalam ’’rumah kontrak”, tak lupa pergi ke pelbagai negara seperti ’’mengontrak” dunia. Kutipan tak perlu membuat pembaca risau: sudah tiga minggu aku membangun puisi ini/ keluar-masuk membawa pasir, semen, dan batu bata/ besi beton, tiang baja, dan las besi/ burung gagak berterbangan dalam bahasa/ tersesat antara kenyataan dan kebenaran/ kata-kata dicor jadi tembok beton.
Sosok belum capek menaruh kata-kata tanpa wajib meminta orang melihat itu puisi. Ia pernah memberi olok-olok puisi sambil menghidupi puisi-puisi ’’lain” dari kebiasaan menjemukan di Indonesia. Ia membangun puisi, membangun rumah. Kita belum pasti: rumah untuk dihuni, rumah untuk ditinggalkan, rumah untuk lestari, atau rumah untuk diruntuhkan.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
