
COVER BUKU
Jostein Gaarder mengajak pembaca tak sekadar membaca. Tapi, juga merenungkan semesta dan isinya dengan pertanyaan-pertanyaan tak berkesudahan. Tentunya dengan bahasa yang mudah dipahami siapa saja.
MENJELASKAN bahwa kehidupan ini penuh dengan keajaiban secara ilmiah tentu bukan hal mudah. Tapi, Jostein Gaarder selalu berhasil melakukannya. Ringan. Seru. Sedap. Asyik.
Gaya bercerita Gaarder masih sama seperti ketika menulis novel Dunia Sophie yang fenomenal. Ala surat-suratan. Dalam buku Kitalah yang Ada di Sini Sekarang, penulis kelahiran Norwegia ini mendedikasikan suratnya untuk cucu-cucunya; Leo, Aurora, Alba, Julia, dan Mani.
Tapi, siapa saja bisa membacanya. Dalam tulisannya, dia menyampaikan beberapa perspektif soal kehidupan, peradaban manusia, dan planet bumi yang rentan di alam semesta. Termasuk kritiknya kepada pemimpin banyak negara yang memperlakukan sumber daya alam dengan suka-suka.
Buku yang memuat 18 bagian ini mengajak pembaca tak sekadar membaca. Tapi, juga merenungkan semesta dan isinya ini dengan pertanyaan-pertanyaan tak berkesudahan. Khas Gaarder yang filosofis. Tentunya dengan bahasa yang mudah dipahami siapa saja.
Gaarder yang awal kariernya sebagai guru filsafat ini menyoal pula hal-hal supranatural yang masih dipercaya banyak orang di tengah peradaban modern. Dalam buku ini dia menyebut, kepercayaan kuno bahwa lokasi benda-benda langit, misalnya pada saat kelahiran, bisa mengungkapkan sesuatu soal hidup dan nasib manusia yang dikenal sebagai astrologi, masih terus hidup dan berkembang. Ranah okultisme atau ide-ide tentang daya atau fenomena gaib ini, batas-batasnya tidak jelas antara kepercayaan, permainan pesta, dan hiburan (halaman 59).
Belum lama ini, kita digegerkan aksi Rara Istiati Wulandari, pawang hujan yang dilibatkan saat hajatan MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, Februari lalu. Tak pelak, aksi Rara yang menghentikan hujan itu jadi perhatian publik dunia. Banyak yang menghujatnya. Tapi, tak sedikit yang memberikan dukungan kepadanya.
Sebenarnya keberadaan pawang hujan di kalangan masyarakat Indonesia bukan hal aneh. Dalam setiap hajatan besar seperti pernikahan, bagi mereka yang percaya klenik, bisa ditemui praktik perdukunan tolak hujan ini. Hanya memang tidak diekspos secara terang-terangan karena memang biasanya dilakukan diam-diam di tempat tertutup.
Dalam buku ini, Gaarder mengingatkan bahwa seni meramal adalah soal menafsirkan sesuatu yang pada dasarnya tidak tegas –seperti posisi bintang, lintasan terbang seekor burung, garis tangan, pola endapan kopi, atau urutan tumpukan remi. Dia juga membicarakan makhluk-makhluk supranatural, dalam hal ini dia menyatakan memiliki pandangan berbeda.
Penulis yang karyanya, Dunia Sophie, sudah diterjemahkan dalam 50 bahasa ini menyebut, manusia selalu memiliki berbagai macam gagasan soal makhluk supranatural. Tapi, sepanjang sejarah manusia, makhluk-makhluk itu tak pernah menampakkan diri, baik kepada seseorang ataupun sekelompok masyarakat. Alasan paling sederhananya mungkin makhluk itu tidak ada.
Menurut pandangannya, gagasan-gagasan tentang hal-hal supranatural tidak akan pernah meninggalkan kita karena kita adalah manusia. Memperingatkan manusia soal kepercayaan atau takhayul hampir sama seperti mengingatkan soal persahabatan, jatuh cinta, atau pengalaman-pengalaman alami luar biasa. Tidak ada yang lebih manusiawi daripada emosi-emosi macam itu. Dan, tidak ada yang lebih manusiawi daripada kepercayaan (halaman 70).
Dalam buku setebal 240 halaman ini, Gaarder yang tulisan-tulisannya selalu memadukan unsur keindahan dan kedalaman perenungan ini membicarakan pula ruang dan waktu. Bagi dia, tidak ada waktu ”sekarang” yang berlaku sama dan seragam bagi seluruh bagian di alam semesta. Dikatakan, harus terperinci membatasi yang kita maksud dengan ”di sini dan sekarang” karena konsep ”sekarang” itu sendiri hanya masuk akal untuk hal-hal yang ada di sekitar kita, itu kalau berdasar teori relativitas Einstein.
Mempertanyakan bagaimana bentuk alam semesta secara keseluruhan tepat pada saat itu menurut penulis adalah sebuah kesia-siaan. Alam semesta sama sekali tak punya ”tepat pada saat itu”. Segala yang terjadi di alam semesta atau sedang terjadi, semuanya berlangsung dalam kecepatan cahaya.
Pada bagian lain, secara kritis Gaarder mengemukakan banyak pertanyaan soal alam semesta dan eksistensi kita yang disebutnya masih bertahan dalam perenungan manusia selama ribuan tahun. Menurut dia, ada sesuatu tentang dunia yang mendorong terjadinya perenungan filsafat. Dan, manusia tidak akan pernah mempertanyakan eksistensinya sendiri.
Dia mencontohkan kecerdasan buatan dari teknologi komputer. Muncul pertanyaan apakah sebuah komputer atau jaringan komputer akan pernah mengembangkan kesadaran diri, dan karena itu merasakan keresahan, rasa takut, dan kebahagiaan? Lalu, perlindungan hukum dan hak-hak apa yang nanti dimiliki kecerdasan buatan itu?
Kitalah yang Ada di Sini Sekarang membuka kesadaran pembaca untuk mempertanyakan bagaimana wajah dunia ini menjelang akhir abad ke-21? Meskipun belum ada yang tahu jawabannya saat ini, setidaknya kita seperti diberi pilihan untuk menentukan seperti apa wajah akhir abad ke-21. Tentunya tanpa melepaskan pengharapan, kepercayaan pada apa yang diharapkan, serta kasih sayang sebagai hal fundamental untuk masa depan umat manusia dan semesta raya. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
