
COVER BUKU
Cicilia Oday menyindir fungsi keluarga dengan menunjukkan secara gamblang bahwa tidak ada keluarga yang sempurna.
Oleh Ade Ubaidil, Pengarang asal Cilegon. Relawan di Rumah Dunia.
---
Babak Pertama
Keluarga menjadi perangkat penting bagi mereka yang dihargai hidupnya, tetapi keluarga juga bisa menjadi mimpi buruk untuk mereka yang tidak dianggap keberadaannya. Dalam novel Keluarga Lego, ada dua alasan orang bertahan hidup: cinta dan dendam.
Cicilia Oday memercayakan ceritanya dituturkan lewat seorang nenek cerewet bernama Yohana. Ia salah seorang pasien yang tinggal di sebuah panti jompo Rumah Peristirahatan Termulia. Ia berkisah tentang dirinya dan teman sekamarnya bernama Naomi. Dalam ceritanya yang putus-putus, Yohana menangkap bahwa Naomi ingin keluar dari tempat yang baginya penjara itu.
Yohana ingin membantu Naomi keluar dari sana setelah menemukan iklan lowongan adopsi yang terpampang di sebuah surat kabar. Lewat lembaran koran itulah sebuah ”grand design” cerita Cicilia Oday dimulai.
Victor Yuda menjadi nama penting di sepanjang cerita. Ia mengenalkan dirinya sebagai ”Seorang pria, 33 tahun, lajang, berprofesi sebagai pengusaha, dan tidak memiliki keluarga” (halaman 18). Semua posisi dari ayah-ibu hingga nenek diberi kesempatan untuk menjadi keluarganya dengan sederet syarat yang ia tulis secara detail di surat kabar tersebut. Tak pernah ada yang menduga, bahkan penghuni panti jompo yang lain, setelah Naomi ikut seleksi, ia diterima sebagai nenek Victor Yuda.
Di dalam dunia rekaan yang dibangun Cicilia, mengadopsi keluarga selain anak menjadi sesuatu yang lazim. Membaca Keluarga Lego mengingatkan saya pada novel Rumah Kertas karangan Carlos Maria Dominguez. Sebab, setelah Naomi pergi dari panti jompo, petualangan sebenarnya yang dihadapi Yohana baru dimulai. Persis ketika tokoh aku dalam Rumah Kertas yang mendapat paket buku misterius berprangko Uruguay datang untuk Bluma yang mati tertabrak saat sedang membaca buku puisi Emily Dickinson. Kedua buku ini memberikan perjalanan yang rumit bagi tokoh-tokohnya dan bertemu dengan banyak orang asing. Bedanya, Yohana dipertemukan dengan kisah masa lalunya yang berusaha ia kubur dalam-dalam.
Babak Kedua
Memasuki babak baru, Yohana bertemu seorang wanita sebaya di dalam sebuah bus yang mengenakan bros pohon di dadanya. Bros kecil itu terbuat dari susunan lego dan ada lampu yang menyala berwarna merah. Ia nantinya tahu bahwa wanita tua itu adalah sebuah robot yang dipekerjakan oleh perusahaan jasa sewa-menyewa anggota keluarga bernama Keluarga Lego. Robot-robot ini bisa dipesan lewat aplikasi di ponsel Android. Yohana merasa tertarik untuk menyewa seorang anak, apalagi setelah tidak memiliki teman berbincang seperti Naomi. Suatu hari ia mendatangi perusahaan Keluarga Lego. ”Di dinding utama di belakang konter tertulis dalam huruf-huruf balok yang besar, Keluarga Lego; Create Your Family As You Wish” (halaman 46).
Isu yang diangkat Cicilia ini sekilas terkesan konyol. Namun, bagi saya ia berhasil meyakinkan pembaca bahwa suatu hari, fenomena sewa-menyewa anggota keluarga akan betulan terjadi. Persis seperti semesta yang ia bangun dalam novel perdananya ini. Masyarakat bakal menganggap itu adalah hal lumrah. Sama halnya yang dialami Theodore dalam film Her. Ia berhubungan asmara dengan sebuah sistem operasi komputer. Bedanya, dalam novel Keluarga Lego robot yang dibekali kecerdasan buatan ini berbentuk fisik persis seperti manusia.
Gaya tutur yang luwes menunjukkan kematangan Cicilia Oday sebagai penulis. Informasi yang diberikan pun tidak terkesan mengada-ada dan asal tempel. Artinya, ia membekali dirinya dengan pengetahuan mumpuni mengenai robot-robot. Bahkan, ia bisa dengan detail mendedah aplikasi yang ketika membacanya memberi kesan seperti sedang menonton film.
Keterkaitan Babak Pertama dan Kedua
Novel ini dibagi ke dalam lima bab. Saya membaginya dalam tiga babak. Di bagian ketiga inilah cerita akan terang dan pembaca akan melihat keterkaitan antara babak pertama dan babak kedua. Dugaan-dugaan pembaca di awal bisa saja benar, tapi masa lalu Yohana hanya benar-benar akan kautemui kalau membacanya sampai halaman terakhir.
Sejak masa muda hingga di usia senjanya, Yohana seperti dikejar karma. Hidupnya sedemikian nelangsa, tetapi lewat narasi yang dituturkannya ia seolah hidup baik-baik saja dan lebih beruntung dari siapa pun yang ditemuinya. Seperti ketika ia bertemu dengan Nina, seorang perempuan muda yang rajin datang ke panti jompo untuk membantu para suster merawat pasien. Nina merasa hidupnya berarti di panti ketimbang di keluarganya. Ia merasa tak dianggap oleh kedua orang tua dan saudaranya. Berbeda ketika Nina bertemu dengan Yohana. Kedua orang yang sama-sama kesepian itu merasa satu sama lain saling melengkapi.
Cicilia Oday cukup jitu menyindir fungsi keluarga. Ia menunjukkan secara gamblang bahwa tidak ada keluarga yang sempurna, dan lewat novelnya ia ingin mengajak kita untuk mengamini hal itu tanpa berusaha ditutupi dari dunia luar. Hadirnya Keluarga Lego adalah upaya ia untuk mengkritik mereka yang menganggap keluarga sedarah adalah segalanya. Lewat tokoh-tokoh yang dihadirkan, Cicilia Oday seolah ingin menunjukkan perspektif lain bahwa keluarga bukan hanya mereka yang terikat pertalian darah. Tetapi, lebih dari itu, keluarga adalah ia yang hadir ketika kita dalam situasi sulit atau menggembirakan. Mereka adalah support system yang penting kehadirannya dalam kondisi apa pun.
Selain itu, Cicilia melihatkan simbol ketika seseorang sudah tidak dianggap keberadaannya, maka seperti yang dialami Nina, ia melihat pantulan dirinya di cermin tampak memudar.
”Di dalam sana, ia hanya segumpal ampas. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin. Ia terlihat nyaris transparan dan bukan karena efek cahaya lampu. Kulitnya memang setengah tembus pandang seperti kulit cicak atau sehelai kertas tisu” (halaman 90). (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
