Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 Mei 2021 | 20.53 WIB

Ribuan Orang Jawa nun di Pasifik Selatan Sana

Cover buku - Image

Cover buku

Ratusan pekerja kontrak dari Jawa kali pertama tiba di Kaledonia Baru pada pengujung abad ke-19. Sampai kini pun arus kedatangan dari Indonesia ke sana dan mereka yang di sana pulang balik ke Indonesia masih terus terjadi.

---

TANYAKAN kepada setiap diplomat Indonesia yang pernah bertugas di Noumea dan kebetulan punya latar belakang Jawa. Begitu menginjakkan kaki di ibu kota Kaledonia Baru itu dan diundang ke keluarga Jawa di sana, hampir pasti bakal kaget.

Sebab, jajanan yang disajikan kepada mereka adalah ragam penganan tradisional yang di Jawa sendiri sudah jarang atau sulit ditemui. Itu masih ditambah tradisi khas Jawa yang juga masih diuri-uri di negeri nun di Pasifik Selatan yang merupakan wilayah seberang lautan Prancis tersebut.

Dibandingkan keturunan Jawa di Suriname di Amerika Selatan, eksposur terhadap keturunan Jawa di Kaledonia Baru bisa terbilang minim. Karena itu, buku karya Widyarka Ryananta, Konjen RI di Noumea (2014–2017), ini merupakan dokumen langka nan berharga.

Negara yang wilayahnya seluas Jawa Barat itu berstatus kawasan otonomi khusus di bawah Prancis, negeri yang dulu menjajahnya. Prancis menguasai Kaledonia Baru sejak 1853 saat di bawah pemerintahan Raja Napoleon III.

Berdasar sensus 2014, jumlah penduduk di Kaledonia Baru mencapai 268.767 orang. Perinciannya, kelompok etnis terbesar adalah Melanesia (Kanak) 39 persen; disusul diaspora keturunan Eropa, terutama Prancis dengan 27,2 persen; sisanya merupakan keturunan Wallis dan Futuna, Tahiti, Vanuatu, Vietnam, serta lain-lain. Keturunan Indonesia tercatat hanya 1,43 persen (3.859 orang).

Dari segi agama, 51,4 persen pemeluk Katolik Roma. Adapun keturunan Indonesia mayoritas memeluk Islam. Sebagian masih menjadi WNI dan sebagian lagi berkewarganegaraan Prancis.

Pertautan Indonesia, khususnya Jawa, dengan Kaledonia Baru bermula pada akhir abad ke-19. Prancis sebagai sekutu Belanda, yang menguasai Hindia Belanda saat itu, menginginkan pengiriman pekerja kontrak untuk dipekerjakan di Kaledonia Baru.

Di Kaledonia Baru banyak ditemukan potensi tambang nikel. Kedatangan para pekerja asal Jawa dimulai dengan dikeluarkannya ”Koeli Ordonantie” pada 1880. Berdasar catatan sejarah, pada 16 Februari 1896, sebanyak 170 orang Jawa pekerja kontrak kali pertama tiba di Kaledonia Baru dengan menggunakan kapal uap Saint Louis. Tanggal 16 Februari 1896 tersebut kemudian ditetapkan sebagai Peringatan Kedatangan Orang-Orang Jawa di Kaledonia Baru (halaman 18).

Memasuki abad ke-20, orang-orang Indonesia yang berimigrasi ke Kaledonia Baru semakin banyak. Mereka bukan lagi berstatus pekerja kontrak, melainkan datang karena kemauan sendiri dan menggeluti berbagai profesi di Kaledonia Baru. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai teknisi, montir, sopir, dan pekerja tambang (halaman 21).

Ada pula yang bekerja kantoran sebagai pegawai di instansi pemerintah atau swasta. Bahkan, sampai kini pun masih ada imigrasi orang Indonesia ke Kaledonia baru, atau sebaliknya sebagian orang Indonesia di Kaledonia Baru kembali ”pulang” ke Indonesia.

Dalam buku ini, dengan gamblang Widyarka melukiskan kehidupan masyarakat Indonesia yang mayoritas keturunan etnis Jawa tersebut. Berbagai tradisi Jawa dilukiskan masih terpelihara dengan baik. Masyarakat Indonesia di Kaledonia Baru bergabung dalam suatu organisasi bernama Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya di Kaledonia Baru (PMIK) yang berdiri sejak 1980-an. Ketika itu yang menjabat konsul Indonesia adalah Soetarmo Atmoprawiro. Yang beragama Islam banyak juga yang bergabung ke dalam Persatuan Umat Islam Masyarakat Indonesia dan Keturunannya (PUIMIK). Ada juga organisasi Persatuan Pemuda Indonesia.

Dalam buku ini, secara umum Widyarka menggambarkan betapa eratnya hubungan masyarakat Indonesia dengan perwakilan RI di Noumea. Sejak awal 1950-an, pemerintah RI membuka kantor konsulat di Noumea. Namun, seiring dengan tuntutan kebutuhan dan kepentingan RI di daerah akreditasi tersebut, dilakukan peningkatan status dari konsulat menjadi konsulat jenderal sejak awal 1990-an.

Jabatan Konjen dihormati karena masyarakat Indonesia setempat. Sebab, mereka membutuhkan pengayom yang melindungi kepentingan mereka di ranah rantau negeri asing tersebut.

Dalam buku ini juga dipaparkan tentang beberapa orang atau tokoh masyarakat Indonesia yang berhasil dalam kariernya, termasuk karier di bidang politik atau berbagai profesi. Ada di antara mereka yang menjadi wali kota atau anggota DPR lokal dan ada pula yang berprestasi di bidang olahraga.

Ada beberapa catatan atau kritik terhadap buku Jejak Orang Jawa di New Caledonia ini. Disayangkan dalam buku ini tidak terdapat satu peta pun tentang Kaledonia Baru, termasuk posisinya di Pasifik Selatan. Jadi, agar pembaca buku ini tidak hanya mengira-ngira di mana letak Kaledonia Baru sesungguhnya. Juga beberapa kesalahan letak halaman di bagian belakang buku yang cukup mengganggu.

Mudah-mudahan kekurangan-kekurangan itu dapat diperbaiki jika kelak buku ini dapat dicetak ulang. Buku ini layak dicetak ulang karena menjadi dokumen berharga tentang sejarah dan kiprah orang-orang Indonesia yang terpisah ribuan kilometer dari kampung halaman, tapi tetap kukuh mempertahankan tradisi. Termasuk mempertahankan jajanan-jajanan yang bahkan di sini saja sulit didapat. (*)




*) PRAMUDITO, Mantan diplomat

  • Judul: Jejak Orang Jawa di New Caledonia

  • Penulis: Widyarka Ryananta

  • Penerbit: Peniti Media

  • Cetakan: I, 2020

  • Tebal: 248 halaman

  • ISBN: 978-602-6592-03-3


Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=WSOH84zb6hk

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore