Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Desember 2020 | 22.15 WIB

Aman, Kiri, dan Nama-Nama Binatang

MENCURI PERHATIAN: Salah satu kuliner dengan nama unik. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS) - Image

MENCURI PERHATIAN: Salah satu kuliner dengan nama unik. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)

Esai-esai dalam buku ini membuka lapisan dasar interaksi manusia sebagai pengguna bahasa dan betapa kaya sekaligus cairnya bahasa itu sendiri.

---

BAHASA tidak hanya menunjukkan bangsa, bahkan tidak pula sekadar menentukan harga, bila meminjam istilah Samsudin Adlawi dalam buku ini. Bahasa dengan sengaja juga menunjukkan politik dan maksud tertentu si pengguna.

Kita mengalami perubahan istilah dari jongos, babu, pembantu rumah tangga, hingga asisten rumah tangga. Sebab, setiap istilah yang dipergunakan memiliki maksud tertentu.

Situasi dan sejarah membuat sebuah kata maupun frasa dapat memiliki maksud tidak sekadar makna kamus sendiri. Misalnya, aman dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan bebas dari bahaya; bebas dari gangguan (pencuri, hama, dan sebagainya). Namun, oleh sebuah rezim, kata aman-amankan-amanken justru bahaya sekaligus membawa rasa tidak aman.

Sebab, bila kata tersebut sudah dipergunakan, itu berarti akan ada yang ditahan, dijebloskan penjara, atau bahkan dihilang-musnahkan. Contoh lain, kata kiri tidak hanya menunjukkan arah.

Adlawi dalam esai Metamorfosis ’’Kiri’’ membedah bagaimana asal muasal kiri begitu menyeramkan dalam bahasa politik kita dan selalu dikaitkan dengan kelompok tertentu. ’’Terminologi ’kiri’ sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi hantu. Sebab, kata ’kiri’ masih sangat sensitif bagi bangsa ini (halaman 71).’’

Atau, bagaimana beberapa hewan dalam khazanah berbahasa kita justru mewakili hal-hal lain di luar sosok fauna itu sendiri. Dalam esai Adlawi Binatang Perkaya Bahasa disebutkan bahwa ’’Banyak kosakata untuk istilah dan ungkapan dalam bahasa Indonesia berasal dari binatang. Istilah atau ungkapan yang menggunakan nama binatang ini kebanyakan dipakai untuk mewakili ekspresi, negatif maupun positif (halaman 9).’’

Kedekatan binatang dengan istilah buruk tentu hadir dengan kesadaran bahwa ras manusia di atas kelompok binatang. Maka, tidak aneh bila dalam keseharian istilah-istilah yang memakai nama binatang cenderung berarti kurang baik.

Bahkan, dalam karya sastra kita akan menemukan kecenderungan yang demikian pula. Ulat, misalnya. Larva bagian dari metamorfosis serangga ini beberapa kali dipergunakan sebagai metafora kerakusan dan sifat buruk manusia.

Misalnya, dalam cerpen Ulat dalam Sepatu karya Gus Tf Sakai, Ulat Bulu dan Syekh Daun Jati milik Agus Noor, atau cerpen Ulat Daun Emas besutan Muna Masyari. Kita akan menemukan ulat ialah manifesto karakter hayawaniah manusia dan pola demikian juga lahir dalam percakapan sehari-hari kita.

Perkembangan istilah dalam percakapan yang ditangkap Adlawi juga kadang melompat ke berbagai domain. Misalnya, mengawinkan kata mi dan setan. Lahirnya bukan sebagai mi milik setan si makhluk gaib, melainkan mi yang bila dimakan punya sensasi kesetanan karena begitu pedas.

Bagaimana singkatan ala jalanan menjadi riuh dalam percakapan. Corona yang berarti Comunitas Rondo Merana, pamer paha yang adalah padat merayap tanpa harapan. Di Jogja kita kenal penyederhanaan jakal, jamal, dan monjali, misalnya, untuk Jalan Kaliurang, Jalan Magelang, dan Monumen Jogja Kembali.

Bahasa Indonesia, meski beberapa masih dalam tataran percakapan, begitu cerdas dengan adaptif terhadap apa-apa yang tumbuh di sosial. Misalnya, bahasa dagadu dan bahasa walikan Malang pun sekarang bukan lagi hal asing.

Sebab, bahasa secara individu juga cerdas dan begitu cair. Dan, manusia sebagai ras cerdas penghuni pucuk kelas tak lagi memusingkan wolak-walik dan makna sebuah frasa yang mungkin berlapis-lapis.

Dalam 28 esai ini, Adlawi merangkum fenomena kebahasaan dan menguraikan dengan bahasa yang gamblang. Tuntutannya sederhana bila sekadar memasukkan prokem atau frasa atau istilah tertentu dalam kamus kita.

Esai-esai dalam buku ini justru membuka lapisan dasar interaksi manusia sebagai pengguna bahasa dan betapa kaya sekaligus cairnya bahasa itu sendiri. Bahasa itu hidup, dibayangi banyak makna, terus beranak pinak, sekaligus mengandung pilihan politik yang tak bisa dihindari.

Sebagai orang yang setiap hari berhadapan dengan teks, buku ini adalah oase sekaligus wisata bahasa yang menggembirakan. Dibahasakan laiknya sebuah feature ringan surat kabar, tetapi memotret bagaimana interaksi berbahasa kita.

Tentu 28 esai dalam buku ini bukan rangkuman dari semua fenomena. Yang dihadirkan dalam buku Makan Kapal Selam ini adalah teaser agar pembaca, peneliti, maupun penggila bahasa mengulik dan merangkum lebih jauh dan mendalam. (*)




Photo



  • Judul: Makan Kapal Selam

  • Penulis: Samsudin Adlawi

  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

  • Edisi: Pertama, November 2020

  • Tebal: 137 halaman

  • ISBN: 9786020648415






TEGUH AFANDI, editor buku dan penggiat Klub Baca

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=UTShPghh2Ak

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore