
COVER BUKU - ISTIMEWA
Ketika semua orang kini bisa memoles, mengemas, mengonstruksi identitas, dan akhirnya mempresentasikan diri dengan caranya sendiri untuk hadir di depan khalayak, bagaimana standar ketersohoran seseorang kini diartikan?
---
BUKU yang dieditori oleh Budiawan ini menghadirkan kajian kritis terhadap lima pesohor yang populer di Indonesia. Berbasis perspektif filsuf Pierre Bourdieu yang tersohor dengan teori arena produksi kultural, buku ini membabar berbagai bentuk pergeseran mode penghadiran diri, rute yang dilalui, dimensi ekonomi-politik, hingga pemaknaan terhadap ketersohoran, khususnya di Indonesia.
Lima pesohor itu adalah Sacha Stevenson, bule Kanada yang kerap berakting sebagai ’’orang Indonesia’’. Juga Hansol asal Korea Selatan yang tersohor karena sering mengomentari kuliner tradisional Indonesia. Selain itu, ada tiga pesohor ’’nasional’’: Tasya Farasya, Dwitasari, dan @budesumiyati.
Bagaimana standar ketersohoran seseorang kini diartikan? Apa makna praktik dan ketersohoran tersebut?
Menyimak buku ini, pembaca diajak memahami bahwa fenomena banyaknya pesohor di era digital ini ternyata memiliki konsekuensi yang signifikan. Bukan hanya pada aspek keilmuan, melainkan juga kebudayaan.
Mengutip P. David Marshall, Budiawan menyebut adanya pergeseran budaya dan media dari sisi representasional ke presentasional. Representasi merujuk pada kenyataan bahwa dulu ketersohoran tak bisa dilepaskan dari mekanisme dan intervensi awak media memoles dan menampilkan citra seseorang.
Namun, kini semua orang yang memiliki akun media sosial bisa memoles, mengemas, mengonstruksi identitas, dan akhirnya mempresentasikan diri dengan caranya sendiri untuk hadir di depan khalayak. Implikasi dari pergeseran tersebut adalah munculnya konsep microcelebrity yang merujuk pada praktik komunikasi di mana seseorang membayangkan dirinya sebagai selebriti; suatu upaya selebrifikasi diri yang mampu menyihir khalayak.
Dalam proses tersebut, pesohor menunjukkan diri sebagai subjek sekaligus objek komoditas yang interaktif dan mampu menjalin hubungan emosional dengan khalayak.
Bergerak lebih mendalam dan kritis, buku ini mengungkap bahwa selain akumulasi kapital ekonomi yang diraup lewat monetisasi, fenomena bule ngevlog soal masyarakat Indonesia bisa juga semakin memapankan oposisi biner ’’Barat-Timur’’. Artinya, praktik para pesohor maya ini bisa dibaca juga sebagai suatu bentuk baru dari orientalisme.
Selain itu, menjadi pesohor maya merupakan sarana untuk menjadi ’’the new petite bourgeoisie’’ yang naik kelas sosial dari tiap like dan subscribe yang didapatkan. (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
