
Photo
Kaki Kata bisa dibaca dengan cara sebagaimana kita membaca fiksi. Fiksi dalam hal ini bukan karena sifatnya, melainkan karena strateginya.
---
SETELAH Satu Setengah Mata-Mata (2016), Nirwan Dewanto kembali menerbitkan buku esai bertajuk Kaki Kata. Buku ini terdiri atas 12 esai.
Judul tiap esai hanya terdiri atas satu kata yang, jika kita menganggap judul mencerminkan atau setidaknya menjadi bingkai bagi isi, akan terasa terlalu luas. Judul-judul itu tampaknya telah mengalami pemiuhan dan dipinjam begitu saja dari khazanahnya untuk keperluan topik yang hendak disampaikan.
Maka, ’’Geologi’’, misalnya, membicarakan cara membaca, ’’Anarkisme’’ membicarakan Putu Wijaya, ’’Nasionalisme’’ membicarakan pendidikan tinggi seni, dan sebagainya.
Sastra adalah motif pemiuhan itu. Di bagian akhir bab ’’Prakata’’, Nirwan menyimpulkan bahwa esai adalah ’’argumen berbulu polisemi’’. Argumen tentu saja mesti jelas dan tegas supaya mudah dipahami, sedangkan polisemi memiliki sifat multitafsir.
Penyejajaran dua kata itu menimbulkan ironi, dan ironi adalah unsur penting bukan hanya bagi sastra, melainkan juga bagi seni pada umumnya.
Karena Kaki Kata adalah kumpulan esai –bentuk tulisan yang langsung memperhadapkan pengarang dengan pembaca tanpa perantara narator/tokoh atau subjek-lirik– pembaca tentu bisa meneroka pokok pikiran, gagasan, atau pernyataan-pernyataan pengarang dalam tiap esai, lantas bersepakat atau tak bersepakat dengan itu.
Namun, saya kira, Kaki Kata juga bisa dibaca dengan cara lain, yakni dengan cara sebagaimana kita membaca fiksi. Fiksi dalam hal ini bukan karena sifatnya, melainkan karena strateginya.
Pembaca bisa ’’membunuh’’ si pengarang dan melihat ’’saya’’ yang berbicara dalam tiap esai sebagai tokoh fiksi. Dalam Kaki Kata, tokoh saya ini seperti sedang berjalan, dan ia tak berjalan sendirian, melainkan bersama ’’kita’’.
Kita-pembaca bisa saja merasa menjadi bagian dari kita-tekstual itu, bisa juga tidak. Semacam personifikasi terhadap pelbagai fitur, misalnya ’’Indonesia’’, ’’Geologi’’, atau ’’Geografi’’ memungkinkan fitur-fitur itu diperlakukan sebagai tokoh dengan karakternya masing-masing.
Tokoh saya, sebagai pusat narasi, adalah sosok kritis yang menawarkan, atau menganjurkan, pelbagai cara lain dalam melihat persoalan, sekaligus sosok yang terus-menerus bergumul dan meragukan pikirannya sendiri.
Dengan cara baca seperti itu, menelusuri esai-esai dalam Kaki Kata seperti kegiatan rekreasi yang mungkin juga memantik upaya re-kreasi. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
