Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 12 Agustus 2023 | 18.16 WIB

Resensi Buku: Celeng dan Simbol Ompongnya Maskulinitas

Persoalan rumah tangga Tobor-Nurlela adalah perkara domestik, bahkan bisa dipersempit persoalan selangkangan Tobor. Namun, keompongan zakar Tobor ini kemudian menyeret pembaca untuk menelanjangi perkara-perkara lebih besar. Adia Puja dengan apik menyerempetkan ke persoalan kelas, sosial ekonomi, dan secara general menelanjangi kekalahan sistem patriarki.

Tobor digerakkan rasa bersalah bercampur malu justru melakukan banyak hal tidak masuk akal. Setelah segala jenis pil penambah stamina tidak mempan, Tobor justru berlatih ke Kembangan, sebuah kompleks pelacuran, dan berguru hubungan seksual kepada Rosalinda, pelacur tua yang sepi pelanggan dan menyimpan sedompol trauma. Prajurit paling jempolan pun akan tampak bodoh di laga perang jika tidak pernah berlatih. (hal 45)

Bila di sini kita sudah ingin memaki; Tobor lelaki gila, menyelesaikan persoalan dengan membuka petaka baru, dalam kisah selanjutnya bersiaplah untuk terus mengulur kesabaran. Ketika usaha ”berlatih” ke Rosalinda tak membuahkan hasil, Tobor mulai kehilangan akal dan percaya legenda Ratu Siluman Celeng dengan penis tiga belas buah.

Tobor harus melancong ke hutan, semadi di gua untuk berjumpa dengan Ratu Siluman Celeng dan meminta sebuah zakarnya sebagai mustika, gaman untuk kelelakiannya. Benda di antara paha ini bisa menjadi berkah sekaligus musibah yang mengerikan. (hal 168)

Sebermula Selangkangan, Dituntaskan Ejekan

Dalam buku Seks, Sastra, Kita, Goenawan Mohamad menyinggung; Seks adalah satu bagian logis dari keleluasaan berbuat, satu lanjutan dari kekuasaan dan kekayaan yang tidak sah. Seks (dan juga ornamen di dalamnya) adalah afirmasi ketimpangan kelas, juga era yang diwakilinya.

Dalam novel Mustika Zakar Celeng, perkara kelamin layu Tobor nyatanya mendobrak bagaimana perempuan dalam tatatan sosial. Dalam banyak perkara, perempuan selalu dikesampingkan –termasuk urusan pemenuhan kebutuhan seksual.

Meskipun, mungkin tidak disadari, Adia Puja masih mengekalkan demarkasi perempuan dan laki-laki. Tobor yang berkelana, yang mencari pembelajaran. Sedangkan Nurlela di rumah dan protes lewat perkara kelamin dengan bersenggama dengan lelaki lain. Di titik ini, Adia Puja belum berhasil mengeliminasi pembagian roles basis gender. Lelaki perkara keluar rumah, dan perempuan urusan dapur, kasur, pupur, dan sumur.

Meski demikian, usaha sebagai penulis laki-laki memahami peranan gender perlu diapresiasi. Terlebih sikap tidak logis Tobor hingga akhir mengentak. Novel ini ditutup dengan Tobor dipermalukan.

Tobor diadu dengan anjing. Tobor dalam wujud celeng diseret ke adu bagong –tradisi di masyarakat Sunda mengadu babi liar dengan anjing. Di mana menang dan kalah ditentukan dengan kematian.

…maka nasibnya bisa lebih buruk: mati atau sekarat dalam keadaan terluka parah. Celeng yang terluka parah atau mati, akan diambil dagingnya untuk dijadikan satai atau dijual. Yang mana pun tidak ada yang menguntungkan bagi Tobor. (hal 220)

Novel ini juga mengelaborasi kekayaan mistis, legenda, dongeng, juga tradisi yang mengakar di masyarakat rural. Mereka meyakini banyak hal yang mistis, meski seperti Haursepuh, desa Tobor telah dirangsek kemodernan dan islamisasi. Sehingga tidak aneh bila naskah ini masuk sebagai naskah yang menarik perhatian juri Sayembara Novel DKJ 2021 lalu.

Tobor dalam novel Mustika Zakar Celeng adalah potret realitas kebanyakan lelaki dan sosial pada umumnya yang mendewakan kelelakian, dan kemudian dipermalukan hal yang sama. (*)

Judul: Mustika Zakar Celeng

Penulis: Adia Puja

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore