Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 12 Agustus 2023 | 18.16 WIB

Resensi Buku: Celeng dan Simbol Ompongnya Maskulinitas

Buku Mustika Zakar Celeng karya Adia Puja

Persoalan rumah tangga Tobor-Nurlela adalah perkara domestik. Namun, Adia Puja menyerempetkannya ke persoalan kelas, sosial ekonomi, dan secara general menelanjangi kekalahan sistem patriarki.

---

NOVEL ini berdiri di tubir paling tepi; sedikit keseleo akan ditimpa hujatan. Mungkin karena potensi machoisme dengan objektifikasi tubuh perempuan ala penulis laki-laki. Namun, lewat Mustika Zakar Celeng, Adia Puja menawarkan sesuatu yang berbeda karena secara sadar telah menghadirkan tokoh perempuan berdaya, memiliki kemauan tegas atas tubuh, dan sadar akan seksualitasnya.

Nurlela, tokoh perempuan utama dalam Mustika Zakar Celeng, mengajukan protes kepada Tobor, suaminya yang mudah sekali ejakulasi. Tobor sudah layu dan kelelahan bahkan sebelum Nurlela mencapai puncak kenikmatan hubungan badan.

Premis megah untuk sebuah persoalan yang tampak sangat personal. Mendengar protes itu, Tobor yang telah menjalani rumah tangga belasan tahun dihantam gegar. Kelelakian yang selalu dibanggakan runtuh seketika.

Bagaimanapun urusan kejantanan bagi seorang lelaki adalah persoalan harga diri (hal 3). Tidak meledakkan emosi, sikap Tobor egaliter meminta maaf. ”Dan satu-satunya pihak yang harus memohon maaf adalah aku.” (hal 5)

Nurlela melepas stigma perempuan sebagai sex prey atau korban seksual. Perempuan dapat juga menjadi predator seksual/sexual predator yang tahu bagaimana dia ingin dipuaskan.

Meskipun anggapan tidak bisa ditepis, sosial kita kerap beranggapan perempuan ditakdirkan sebagai makhluk pasif, hanya menerima, dan tidak diperkenankan untuk protes. Batasannya: agama (kerelaan perempuan adalah pengabdian dan surga balasannya) dan juga norma kesopanan (perempuan tabu membicarakan ini di depan suami).

Nurlela ditampilkan sebagai gadis rebel yang sangat persisten terhadap apa yang diinginkan, bahkan sejak remaja. Dia menolak laki-laki yang meminangnya, dan hanya menambatkan hasrat kepada Tobor –buruh tani di sawah bapaknya. Nurlela selalu memiliki sejuta siasat untuk melancarkan penolakan. Jauh di dalam lubuk hati, Nurlela telah menambatkan hatinya bagi seorang lelaki. (hal 7)

Juga Nurlela protes kepada teman sejawat perempuannya. Pernikahan adalah milik dua pihak, suami dan istri. Tidak ada pihak yang lebih berkuasa, kedua belah pihak punya hak yang setara. Jika istri tidak boleh meminta atau menolak, apa bedanya dengan jongos? (hal 28)

Bagian pembuka di mana puncak gunung kegeraman Nurlela atas stigma maskulinitas pada umumnya berdasar.

Tobor dan Keompongan Kelelakian

Yan Ge –penulis perempuan Tiongkok– menyebut dengan apik dalam Elsewhere (2023): nothing is personal after modernity. Tidak ada lagi batas personal dalam era pascamodern. Sekat-sekat telah lebur, meski di bagian lain Yan Ge juga menyebutkan bahwa not everything is political, untuk menolak keharusan seorang penulis hanya perlu mengebor perkara-perkara terkait politik.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore