
Emas Antam . (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com – Harga emas dunia diperkirakan bergerak menguat sepanjang pekan ini. Bahkan, penguatan ini berpotensi mendorong harga logam mulia di dalam negeri menembus level psikologis baru mencapai Rp 2,7 juta per gram.
Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan penguatan itu seiring dengan kombinasi faktor fundamental ekonomi Amerika Serikat dan meningkatnya tensi geopolitik global.
Itu sebabnya, ia memprediksi jika pada awal pekan atau hari Senin (12/1) harga emas dunia berada di kisaran USD 4.509 per troy ounce, maka pergerakan selanjutnya berpeluang naik menuju USD 4.550 per troy ounce.
“Kalau kita lihat dari sisi fundamental, potensi penguatan masih cukup besar. Pada level resisten pertama di USD 4.550, harga logam mulia di dalam negeri diperkirakan berada di kisaran Rp 2.630.000,” ujar Ibrahim dalam keterangannya kepada wartawan.
Tak berhenti di situ, Ibrahim menilai hingga akhir pekan, peluang penguatan emas dunia masih terbuka lebar. Harga emas global bahkan diperkirakan bisa menyentuh USD 4.600 per troy ounce.
“Kalau level itu tercapai, maka harga logam mulia sangat memungkinkan menembus Rp 2.700.000,” lanjutnya.
Ibrahim menjelaskan, salah satu faktor utama pendorong kenaikan harga emas berasal dari data tenaga kerja Amerika Serikat yang dirilis di bawah ekspektasi pasar. Meski jumlah tenaga kerja mengalami peningkatan, realisasinya tidak sesuai dengan perkiraan sebelumnya.
“Ekspektasi awal penambahan tenaga kerja sekitar 60 ribu, tetapi yang terealisasi hanya 50 ribu. Ini menjadi sinyal bahwa ekonomi AS tidak sekuat perkiraan,” jelasnya.
Kondisi tersebut, menurut Ibrahim, membuat Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait suku bunga.
“Artinya, dalam pertemuan bulan Januari ini, kemungkinan besar The Fed masih akan menahan suku bunga di level sebelumnya,” imbuhnya.
Selain faktor ekonomi, lonjakan harga emas juga dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik global yang kembali memanas sejak akhir pekan lalu. Ibrahim menuturkan, sebelumnya pasar sempat fokus pada ketegangan di Venezuela.
Namun, situasi tersebut mulai mereda seiring adanya komunikasi dan kerja sama antara pihak Venezuela dengan Amerika Serikat. Bahkan, fokus geopolitik bergeser ke Timur Tengah, khususnya Iran, yang kembali memicu kekhawatiran pasar global.
Tak hanya itu, ketegangan di kawasan Eropa juga turut memperkuat sentimen safe haven. Upaya gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Rusia dan Ukraina dinilai gagal meredakan konflik.
“Situasi semakin memburuk setelah adanya serangan terhadap kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow. Ini menambah ketidakpastian global,” tukas Ibrahim.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
