
PT Gagas Energi Indonesia (“Gagas”) memberikan bantuan berupa sembako kepada pengguna bahan bakar gas yang terdampak Covid-19. (PGN for JawaPos.com)
JawaPos.com - Upaya memperluas penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) pada kendaraan umum dan pribadi mulai menunjukkan perkembangan positif. PGN Gagas, anak usaha PT PGN Tbk, menyebut mitra aplikator layanan transportasi mulai melirik BBG sebagai alternatif hemat dan ramah lingkungan dibanding Bahan Bakar Minyak (BBM).
Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem BBG harus memperhatikan tiga elemen penting: infrastruktur, pasokan, dan permintaan. “Kami bertanggung jawab di sisi infrastruktur, karena ini bagian dari pelayanan publik,” ujarnya.
Saat ini, PGN Gagas mengelola 11 Stasiun Pengisian BBG (SPBG) di berbagai wilayah seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Kepulauan Riau. Selain itu, empat unit Mobile Refueling Unit (MRU) juga disiagakan untuk menjangkau daerah dengan kebutuhan khusus.
Guna mengatasi keterbatasan SPBG, PGN Gagas juga akan mengambil alih pengelolaan SPBG milik Pertamina. Untuk mendukung ekosistem kendaraan berbahan bakar gas, PGN Gagas berencana mendirikan bengkel khusus kendaraan BBG di beberapa SPBG.
"Saat ini baru ada dua bengkel. Ini kendala bagi para pengguna BBG," urai Santiaji.
Langkah lain yang tengah disusun adalah skema pembiayaan konverter BBG secara bundling atau cicilan ringan. PGN Gagas mengusulkan skema ini ke Kementerian ESDM, dan mendapat tanggapan positif.
"Dengan cicilan harian Rp 2.000, dalam satu tahun empat bulan konverter bisa lunas dan jadi milik pengemudi," bebernya.
Ketua Komunitas Mobil Gas (Komogas) Andy Lala menyatakan pihaknya mendukung inisiatif itu. Dia mengatakan, PGN Gagas sudah memiliki program peminjaman converter kit, namun berharap ada penyesuaian mekanisme agar lebih terjangkau. Komogas sendiri beranggotakan sekitar 450 orang, mayoritas adalah pengemudi mitra transportasi online.
"Anggotanya masih sedikit karena belum banyak yang tahu manfaat BBG," ujarnya.
Menurut Andy, penggunaan BBG mampu menekan biaya operasional hingga 55 persen. "Biasanya pengeluaran bahan bakar Rp 300.000–Rp 400.000 per hari, kini hanya sekitar Rp170.000. Kalau narik 400 km sebulan dengan tarif Rp 5.000 per km, penghasilannya bisa Rp20 juta. Penghematan bulanan bisa sampai Rp 6,6 juta," urainya.
BBG digunakan dalam sistem bi-fuel, dimana kendaraan dapat beroperasi dengan dua jenis bahan bakar secara terpisah, BBG dan BBM. Sistem ini tidak hanya menekan konsumsi BBM, tetapi juga mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi pembakaran mesin.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
