
Shinta Widjaja Kamdani.
Menjadi perempuan pemimpin memang bukan hal mudah di tengah dunia bisnis yang masih didominasi lelaki. Kondisi tersebut membuat ibu empat anak itu belajar mengasah sisi humanis, menempatkan diri dengan melihat perspektif lebih luas, sekaligus memimpin dengan empati.
---
SEJAK kecil, Shinta sudah bersentuhan dengan dunia bisnis. Ayah Shinta, Johnny Widjaja, adalah seorang pengusaha besar. Secara tidak langsung, Shinta terbiasa ikut dalam rapat-rapat bisnis saat kebetulan datang ke kantor sang ayah. Dia pun tak jarang ikut berkunjung ke pabrik, gudang, sampai acara-acara sosial yang dilakukan perusahaan.
Meski demikian, tak berarti dia langsung berada di puncak. Kerja keras sudah ditanamkan orang tuanya sejak dini. Siapa yang ingin sukses, harus bekerja keras. Di usia 13 tahun, Shinta sudah terbiasa mendapatkan uang saku sendiri dengan berjualan buku-buku edukasi. Dua tahun kemudian, Shinta melanjutkan studi di Amerika Serikat. Selama menimba ilmu di Negeri Paman Sam, dia juga magang di kantor Revlon dan PricewaterhouseCoopers.
’’Masa-masa berada jauh dari keluarga saat di Amerika Serikat menjadi salah satu tonggak penting di hidup saya untuk benar-benar memaknai arti self reliant dan self sufficient,’’ tambah alumnus Barnard College of Columbia University, New York, itu.
Karena mempunyai perhatian lebih pada bisnis berkelanjutan. Shinta didapuk sebagai president The Indonesia Business Council for Sustainable Development. Sejak 2019, dia terpilih menjadi 1 di antara 30 CEO dunia yang menjadi member Global Investor for Sustainable Development Alliance alias aliansi bisnis yang dibentuk PBB untuk mendorong investasi global bagi pembangunan berkelanjutan.
Dia juga menjadi executive board International Chamber of Commerce, organisasi yang mendorong perdagangan internasional untuk mempromosikan dan melindungi pasar terbuka bagi barang, jasa, dan arus investasi, Dia juga mewakili Indonesia dalam APEC Business Advisory Council yang menyuarakan rekomendasi dan advocacy untuk meningkatkan iklim investasi bisnis di Asia-Pasifik.
Tak hanya berbisnis, Shinta juga mendedikasikan waktunya di banyak organisasi karena menerapkan prinsip hidupnya. ’’Hidup harus menebar manfaat dan berdampak bagi sekitar kita. Itu nilai yang saya yakini dan mendorong saya terlibat aktif dalam berbagai organisasi, baik skala nasional maupun global,’’ urainya.
Di kancah nasional, Shinta aktif di Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Tepatnya sebagai wakil ketua umum Kadin untuk hubungan internasional yang fokus menangani isu perdagangan, bisnis, dan investasi luar negeri. Shinta juga dipercaya menjadi co-chair B20 yang merupakan official business community engagement forum untuk G20.
’’Saya memandang ini semua sebagai kesempatan untuk terus belajar, to always grow and evolve,’’ terangnya. Itu pula yang membuatnya suka berbagi pengalaman dan mendampingi para pelaku usaha baru. Melihat mereka berkembang membuatnya senang. ’’Saya selalu senang dan bersemangat untuk sharing insight, knowledge, and experience. Itu memberikan kepuasan yang tidak ternilai dengan uang,’’ jelasnya.
Itu pula yang membuatnya mendirikan Angel Investor Network Indonesia (ANGIN), platform bisnis berprinsip gender lens investing. Memberdayakan banyak pelaku usaha perempuan melalui akses financing bagi UMKM dan start-up. ’’Menyaksikan pengusaha wanita muda dan potensial yang bergabung dengan ANGIN makin berkembang usahanya setelah bergabung di inkubator bisnis tersebut, sangat membahagiakan saya,’’ bebernya.
Ketertarikan akan isu perempuan dan pemberdayaan itu pula yang mendorong Shinta untuk mendirikan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment, sebuah koalisi sejumlah perusahaan terkemuka yang berkomitmen mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan dan kesetaraan gender.
Dengan segala pencapaian yang sangat luar biasa tersebut, apakah seorang Shinta Widjaja Kamdani masih memiliki mimpi yang lebih besar untuk digapai? Jawabnya, ada. Shinta mengaku ingin lebih banyak mendampingi generasi muda yang serius ingin berbisnis, khususnya UMKM.
Mimpi lainnya, dia juga ingin memberikan kesempatan lebih bagi social entrepreneur di Indonesia melalui pendampingan dan mentoring bisnis hingga akses pendanaan. Sebab, tujuan social entrepreneur dalam menjalankan usaha tidak hanya mengejar profit, tetapi juga berdampak sosial. ’’Semakin banyak social entrepreneur, akan menjadi katalis bagi Indonesia untuk mendorong pencapaian sustainable growth with economic equity,’’ pungkasnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
