
Giva, Owner & Creative Director Motiviga dengan berbagai produk creativenya di sebuah pameran
JawaPos.com - Bisnis fashion memang tidak pernah ada matinya. Namun, tetap harus hati-hati karena bisnis di bidang ini selalu berubah seiring berjalannya waktu. Dibutuhkan konsistensi serta inovasi yang mumpuni jika ingin berkecimpung dalam bisnis ini.
Salah satunya adalah bisnis tas selempang. Meski bentuknya mungil, namun peluang bisnis tas selempang yang banyak digemari kaum muda mudi ini tak semungil bentuknya lho.
Seperti halnya Motiviga, brand tas asal Bandung yang sudah berhasil meraup omset hingga Rp 80 juta per bulan. Giva, Owner & Creative Director Motiviga mengaku saat ini, omset yang diperolehnya masih belum pesat, namun tidak mudah baginya untuk bisa berada di posisi sekarang.
Ia bercerita, awalnya ia memulai bisnis ini sejak 2012. Saat itu ia meminjam uang kepada istri sebesar Rp 15 juta. "Dulu itu modal Rp 15 juta saya pinjam ke istri setelah menikah," kenang Giva saat berbincang dengan JawaPos.con di Maker Fest Tokopedia, Jakarta, Sabtu (15/12).
Pada 2012, ia memproduksi produk yang saat ini barangnya sudah tidak ada. Giva bercerita dulu saat awal-awal merintis bisnis ia selalu mengeluarkan produk yang limited dan hanya akan dijual selama tiga bulan saja.
"Dulu itu kita konsepnya adalah pokoknya setiap motif yang kita keluarin punya umur tiga bulan doang," kata dia.
Ternyata, konsep itu tak mendatangkan untung bagi Giva. Ia mengatakan mau tidak mau Motiviga harus menjual dengan harga yang sangat murah. Tetapi bisnisnya menjadi tidak suistanable. Konsep bisnis yang ia sebut idealis itu ternyata membuat produknya kurang laku dipasaran.
"Sampai akhirnya itu balik lagi ke knowlegde sih pada saat itu knowlegde saya belum ada," ujarnya.
Setelah gagal di retail akhirnya ia mencoba peruntungan beralih ke bidang produksi. Dari bidang produksi itulah ia akhirnya punya pengetahuan dan pengalaman yang banyak. Mulai dari menghadapi komplain customer hingga sistematika.
Pada 2013 awal hingga 2017 core bisnisnya berubah menjadi konveksi. Dengan bisnis konveksi, bisnis Giva meraup omset rata-rata Rp 150- Rp 200 juta per bulan.
Namun, berkat kepiawaian dan latar belakangnya di bidang desaign grafis, Giva akhirnya kembali memutuskan untuk masuk kembali ke bidang retail pada awal 2018 lalu.
"Background saya kan grafik desain dan branding. Saya cukup tahu bagaimana bisa bikin brand yang sustain. Tapi itu long time ago ketika saya masih kuliah. Akhirnya pada kompetisi (Maker Fest) ini nge-recall memori lagi," terangnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
