
Garuda Indonesa
JawaPos.com - Mahalnya tiket harga penerbangan menjadi momok yang diperbincangkan saat ini. Masyarakat mempertanyakan alasan mahalnya harga tiket pesawat domestik yang justru lebih mahal dibandingkan penerbangan ke luar negeri.
Sekertaris Umum Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Pemerbangan (Astindo) Pauline Suharno mengatakan, harga tiket pesawat bergantung dari besaran permintaan. Harga tiket akan mahal biasanya pada saat liburan atau menjelang hari raya.
Namun, pada kenyataannya, harga tiket pesawat saat ini masih mahal meskipun sudah melewati masa liburan. Menurut Pauline, tingginya harga tiket pesawat domestik saat ini disebabkan banyaknya permintaan dari partai politik untuk keperluan kampanye.
“Dengan adanya kampanye Pilpres banyak caleg pergi keluar kota. Dengan adanya single class lebih tinggi, Kerja lebih sedikit dengan penumpang lebih sedikit, kenapa ngga?,” ujarnya kepada JawaPos, Minggu (13/1).
Sementara, banyaknya pilihan maskapai di seluruh dunia membuat harga tiket ke luar negeri lebih murah ketimbang dalam negeri. Mulai dari Full Service Carier (FSC) hingga Low Cost Carier (LCC) tujuan rute internasional menjadi Lebih murah.
“Ke Jepang pesawat pilihannya banyak. Akhirnya mereka kompetisi dari persaingan harga. Dari Garuda, Lion Air, Wings Air,” tuturnya.
Disamping itu, Pauline mengungkapkan, alasan maskapai memasang tarif juga mempertimbangkan dari sisi keuntungan. Seperti misalnya maskapai PT Garuda Indonesia Tbk yang mulai melakukan pembenahan dari sisi keuangannya. Sebab, selama ini maskapai pelat merah tersebut selalu merugi.
Sebagai informasi, tahun ini maskapai pelat merah tersebut berkeinginan untuk mencetak laba hingga Rp 1 triliun. Garuda masih menderita kerugian bersih USD 131,72 juta pada triwulan pertama 2018. Kerugian Garuda sudah berkurang dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar USD 207,49 juta.
“Kalau mereka merasa revenue baik, itu pilihan. Atau minimal bisa meminimalisir kerugian, ya ini yang dipilih,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Pauline menegaskan, para maskapai tetap menaati peraturan terkait batas atas dan batas bawah. Sehingga, maskapai tidak sewenang-wenang dalam menentukan tarif tiket di pasaran.
“Kalau yang kita tahu dari Garuda memang diatur oleh menteri enggak boleh seenaknya ke ngatur harga,” tegasnya.
Meskipun demikian, Pauline mengaku, harga tiket penerbangan domestik yang jauh lebih mahal dibandingkan ke luar negeri kurang mendukung program kebijakan pemerintah di sektor pariwisata.
“Sebetulnya kurang (mendukung). Akhirnya kebijakan ini tidak mendukung industri pariwisata domestik. Teman-Teman di Lombok juga banyak yang mengeluh harga tiket kemahalan,” pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Prediksi Skor Lillestrom SK vs Viktoria Plzen di Liga Europa: Duel Berpotensi Berjalan Terbuka
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Prediksi Skor Lion City Sailors vs Adelaide United di ACL Two: Tuan Rumah Diunggulkan Menang Lagi

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022