Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Agustus 2023 | 16.42 WIB

Penjualan Rumah Diproyeksi Masih Menantang  

Pekerja saat menyelesaikan salah satu rumah subsidi di kawasan Parung Panjang, Jakarta, Jumat (26/6/2020). Survei Bank Indonesia mencatat penjualan rumah di pasar primer selama 3 bulan pertama tahun ini anjlok 30,52 persen atau lebih dalam dari kuartal se

 JawaPos.com – Kondisi ketidakpastian ekonomi global membawa dampak pada penjualan rumah di Tanah Air. Chief Economist PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF Martin Daniel Siyaranamual menuturkan, penjualan rumah di paro tahun ini hingga tahun depan masih akan menantang.

Martin menjelaskan, proyeksi itu didasarkan pada perlambatan pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) yang berkorelasi pada turunnya penjualan rumah. Data mencatat, posisi penjualan rumah pada triwulan I 2023 menunjukkan bahwa hanya rumah tipe menengah yang memiliki pertumbuhan penjualan yang positif.

‘’Jika melihat pola dari pertumbuhan kredit yang mengalami perlambatan, maka akan sangat mungkin pertumbuhan negative penjualan rumah akan berlanjut hingga ke triwulan II 2023,’’ ujarnya pada media briefing di Makassar, akhir pekan.

Sebetulnya, lanjut Martin, ada sedikit kenaikan dari pertumbuhan kredit dan KPR pada Mei 2023. Tapi, level kenaikan itu masih di bawah capaian saat pra pandemi. Artinya, proses pemulihan akibat dampak pandemi belum selesai.

Dari sisi penjualan rumah, penurun terjadi pada rumah tipe kecil dan tipe besar. Hal itu disebut Martin akibat adanya sentimen negatif yang dipicu ketidakpastian ekonomi yang terjadi. ‘’Artinya, konsumsi untuk barang-barang yang sifatnya jangka panjang akan semakin berkurang. Itu hal yang wajar,’’ imbuhnya.

Secara umum, pihaknya memproyeksikan bahwa pertumbuhan penjualan rumah akan tetap tumbuh negatif di sisa tahun 2023 dan sepanjang tahun 2024.

Meski begitu, Martin menyebut bahwa potensi bisnis di sektor perumahan tidak hanya terkait kepemilikan rumah saja. Namun juga akses terhadap hunuan yang layak. ‘’Issue di sektor perumahan itu bukan hanya soal kepemilikan, tapi juga soal hunian tidak layak huni,’’ tambah dia.

Martin menyebut, hal itu justru bisa menjadi peluang yang dapat dioptimalkan ke depannya. SMF sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang didirikan tahun 2005 di bawah Kementerian Keuangan telah membentuk Sekretariat Ekosistem Pembiayaan Perumahan.

Pembentukan ekosistem pembiayaan perumahan merupakan langkah awal dari suatu upaya bersama dalam mendukung terciptanya suatu ekosistem guna menyelaraskan seluruh upaya pemenuhan hunian agar dapat berjalan dengan optimal, termasuk upaya-upaya pendanaan kreatif (creative financing). Ekosistem itu juga akan memperkuat sinergi para stakeholder sektor perumahan agar lebih solid.

‘’Untuk menghadapi gejolak ekonomi di 2024, sektor perumahan nggak bisa kerja sendiri-sendiri. Yang dilakukan adalah kami bersinergi melalui pembentukan Sekretariat Ekosistem Pembiayaan Perumahan. Ini tujuannya agar mensinergikan strategi dalam menguatkan sektor perumahan dalam perekonomian Indonesia,’’ jelasnya. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore