Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 September 2019 | 01.52 WIB

Tingkatkan Produktivitas Pertanian Kopi

Sejumlah petani Binaan LDC Indonesia sedang membuat pupuk kompos di Desa Way Salang, Batu Brak, Lampung Barat. (Virdita Rizki/Jawa Pos) - Image

Sejumlah petani Binaan LDC Indonesia sedang membuat pupuk kompos di Desa Way Salang, Batu Brak, Lampung Barat. (Virdita Rizki/Jawa Pos)

JawaPos.com - Peningkatan konsumsi kopi di Indonesia sayangnya tidak diiringi dengan kenaikan produktivitas pertanian kopi domestik. LDC (Louis Dreyfus Company) Indonesia pun berusaha meningkatkan produksi kopi di tingkat petani dengan sejumlah program.

Agronomis LDC Indonesia Taufiqurahman mengatakan, rata-rata produksi kopi di Indonesia hanya mencapai 800 sampai 1.000 kilogram per tahun per hektare. "Bisa dibayangkan pendapatannya untuk sekolah, kehidupan sehari-hari itu sangat-sangat jauh. Makanya peningkatan produktivitas itu sangat diperlukan," katanya saat media familiarization trip memperingati 20 tahun LDC di Indonesia.

Salah satu kendala minimnya produktivitas petani adalah usia pohon kopi yang sudah tua. Berbeda dari di Vietnam yang melakukan peremajaan pohon kopi setelah usianya lebih dari 15 tahun.

"Di sini, rata-rata usia pohon kopinya bisa lebih tua dibandingkan dengan petaninya," imbuhnya.

Petani kopi Vietnam juga mengoptimalkan pohon berbuah maksimal dengan memperbanyak cabang dan makanan bagus melalui pemberian pupuk yang banyak. Dalam satu hektar lahan di Vietnam hanya terdapat 1.000 batang saja. Sedangkan dalam satu hektare lahan kopi di Indonesia memiliki 2.500 batang dengan produktivitas lebih rendah dibandingkan Vietnam.

"Sekarang bagaimana mengubah sedikit mindset petani ini budidaya kopi yang tradisional ini karena tidak akan bisa mengejar Vietnam dengan pola budidaya seperti ini," terangnya.

Saat musim kemarau panjang seperti ini pun seharusnya ada sistem irigasi untuk menjaga kelembaban tanaman kopi. Hal tersebut telah dilakukan di Vietnam tetapi belum banyak diterapkan di Indonesia.

"Jadi, pertumbuhan kopinya juga cukup bagus di musim kemarau," imbuhnya.

Peningkatan produktivitas pertanian kopi diperlukan lantaran konsumsinya terus meningkat baik di Indonesia maupun global. LDC Indonesia pun memberikan pelatihan GAP (praktik pertanian yang baik) dan agroforestri kepada hampir 5.000 petani kopi di Lampung Barat kemitraan dengan Jacobs Douwe Egberts (JDE), Pur Project dan Yayasan Louis Dreyfus.

Pelatihan dilakukan mulai dari persiapan tunas, penanganan hama penyakit terintegrasi, perawatan kopi yang baik, memaksimalkan jumlah buah dalam cabang maupun penanganan paska panen. Hal itu diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian kopi di Indonesia.

"Selain itu, yang tidak kalah penting adalah peningkatan mutu kopi dan juga menekan biaya produksi," imbuhnya.

Dia mengatakan, perlahan dilakukan pemahaman kepada petani untuk memperbaiki pola tanam. Seperti mengajarkan konservasi tanah. Sejumlah program tersebut cukup memberikan dampak terhadap peningkatan produksi kopi petani di Lampung Barat.

"Dulu hasil produksi kopi sebesar 1 ton per hektare. Sekarang sudah bisa 1,5 hingga 2 ton per hektar," papar salah satu petani binaan LDC, Supriyanto.

Pria yang mulai bergabung menjadi binaan LDC sejak 2014 ini juga merasakan peningkatan harga ketika memasok panenan kopinya ke LDC. "Rata-rata bisa Rp 20 ribu per kilogram bahkan juga pernah Rp 22 ribu per kilogram," terangnya.

Berbeda ketika dia menjual panenan kopi ke pengepul, harganya hanya senilai Rp 14 ribu hingga Rp 16 ribu per kilogram. Luas lahan yang dimiliki oleh Supriyanto tersebut juga perlahan meningkat dari hanya 2 hektar meningkat menjadi 5 hektare. Keinginan untuk meningkatkan perekonomian juga dirasakan oleh salah satu petani kopi yakni Heriyanto.

"Dari segi perawatan pengolahan tanah harus diperhatikan sungguh-sungguh karena mayoritas tanah miring kalau tidak diperhatikan tanah bisa longsor," ungkapnya.

Dia juga mendapatkan pelatihan untuk menanam tanaman pelindung guna melindungi pohon kopi. Tanaman pelindung juga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi petani kopi.

"Salah satunya diajarkan mengurangi pupuk kimia diganti dengan pupuk organik. Kalau pupuk organik bisa bagus bagi tanaman kopi bisa lebih hijau. Saya juga pengen mengajarkan ke yang lain inginnya di lingkungan saya ekonominya juga bisa lebih bagus," terangnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore