Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Februari 2018 | 22.12 WIB

Kasmino Ekskavator Mini Buatan Anak Bangsa

Kasmin Riyadi, bersama prototype alat berat jenis ekskavator mini buatannya, PC 70. - Image

Kasmin Riyadi, bersama prototype alat berat jenis ekskavator mini buatannya, PC 70.

JawaPos.com - Berbekal pengalaman kerja selama bertahun-tahun di bidang servis hidrolik, Kasmin Riyadi pria lulusan Politeknik Negeri Semarang (Polines) membuktikan bahwa anak bangsa dapat menciptakan alat berat buatan tanah air.


Pria yang akrab disapa Kasmin ini berhasil menciptakan ekskavator buatannya sendiri. Ekskavator versi buatannya memang terbilang unik. Pasalnya, ukurannya yang lebih kecil dibandingkan alat pengeruk pada umumnya.


Meski begitu, Ia mengklaim, ciptaannya itu bisa bekerja layaknya alat-alat berat buatan produk asing.


"Ukurannya saja yang kecil, tapi untuk mengangkat mobil saja kuat," kata Kasmin di kediamannya sekaligus bengkelnya, Jalan Nirwanasari RT01 RW I Nomor 14, Kelurahan Tembalang, Kota Semarang, Tembalang, Semarang,Minggu (11/2).


Bertempat di bengkel servis hidrolik industri yang ia rintis sejak 2005, Pria kelahiran Cilacap 38 tahun silam itu mampu menciptakan ekskavator seberat 500 kg yang diberi nama Kasmino. Hal itu dikerjakannya, hanya dengan bantuan peralatan sederhana, serta tim kecilnya. Waktu pengerjaan sendiri memakan waktu satu hingga paling lama dua bulan.


Namun, sejumlah komponen utama seperti motor hidrolik dan perangai kabel, diakuinya sebagian besar didapat dari luar negeri yakni Polandia dan Italia. Sedangkan besi kerangkanya bisa ia dapat di Indonesia.


Sejak pertama kali terjun ke dunia pembuatan alat berat tahun 2012 hingga saat ini, tujuh ekskavator telah berhasil ia bangun. Dimana enam diantaranya, terjual ke pembeli di berbagai daerah.


Satu unit ekskavator mini ciptaannya di bandrol pada kisaran harga Rp 250 juta. "Pembelinya baru perusahaan lokal. Dari Jakarta, Bandung, Makassar, terdekat Demak. Ada prototype satu, jenis PC 070 ini lebih kecil," kata pria yang juga mengaku pernah bekerja di perusahaan servis hidrolik ternama itu.


Nama Kasmino sendiri diambil dari nama depannya. Penambahan huruf "o", menurutnya hanyalah sebagai penyamar agar dapat bersaing dengan produk asing seperti Kobelco, Tadano, atau yang lain sejenis.


"Kalau Kasmin saja kan kelihatan Semarang banget," candanya.


Dirinya memang sengaja ingin mensejajarkan ciptaanya dengan produk asing seperti buatan Jepang, Jerman, atau negara-negara maju lainnya. Hal itu dilakukannya untuk membuktikan bahwa, produk dalam negeri bisa berjaya di negara sendiri.


"Kita lihat saja sekarang ini, ketergantungan akan barang asing sangat tinggi. Padahal potensi-potensi anak bangsa ini ada, dan bahkan untuk sekedar bahan baku yang bisa diproduksi sendiri, saya impor," ujarnya.


Selama pembuatan, Kasmin yang lulus dari Polines tahun 2003 itu, mengaku, tak selamanya proses berjalan lancar. Ia masih harus melakukan penyesuaian di sana-sini. Bahkan, meski telah terbukti ciptaanya laku di pasaran, jalan terjal masih kerap ditemuinya.


"Biasanya di sisi putaran leher. Karena sumber daya kami untuk pengujian masih belum ada. Artinya, pengujian di lapangan. Saya pikir sudah sempurna, tapi di lapangan lain akhirnya harus dibongkar lagi, bahkan ada yang digarap ulang di konsumen. Tapi mereka sadar ini produk rumahan," lanjutnya.


Kasmin pun sebenarnya berharap, untuk alat bikinannya makin dilirik oleh pemerintah. Tahun 2017 lalu, dirinya pernah mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo untuk meminta dukungan produksi dan uji lapang.

Editor: Budi Warsito
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore