
Lahan pertanian milik warga di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami ambles.
JawaPos.com - Fenomena amblasnya tanah di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), merupakan hal yang biasa terjadi. Pasalnya daerah tersebut adalah kawasan batuan gamping atau pegunungan karst. Di bawah permukaan tanahnya bisa terdapat banyak rongga atau retakan akibat hujan dengan intensitas tinggi atau ada goa yang cukup besar.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) Djati Mardiatno. "Biasanya daerah batu gamping atau karst banyak sekali rongga-rongga atau retakan yang ukurannya bervariasi. Sehingga karena intensitas sangat tinggi tanahnya jenuh. Dia (tanah) menjadi amblas," kata Djati, Rabu (7/2).
Tanah karbon yang terbentuk dari batuan gamping cenderung memiliki kemampuan kembang kerut cukup tinggi. Lubang yang ada akan semakin lebar dan dalam. "Di bagian bawahnya ada yang growong (berongga) tidak ada yang menyangga. Tanah di atasnya jadi ambles," ucap Djati.
Namun bisa jadi juga ada faktor di bawahnya terdapat goa yang cukup besar. Dinding goa yang kemungkinan akan runtuh menjadi penyebab fenomena tersebut muncul. "Tapi itu masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Dipantau menggunakan radar," terang Djati.
Kejadian amblasnya tanah ini pernah terjadi di beberapa daerah. Seperti di Jakarta, Pekalongan maupun Semarang. "Di daerah pantai, amblasnya muka tanah terjadi pelan-pelan. Karena pengambilan air tanah berlebih. Tanah yang materialnya belum terkonsolidasi dengan baik, masih muda dan di atasnya dibangun infrastruktur banyak," tutur Djati.
Bagi pemerintah daerah setempat, yang terpenting adalah melakukan pemantauan secara berkala. Seiring dengan berjalannya waktu, tanah tersebut akan mengalami padat sendiri.
Sebelumnya, tanah amblas terjadi paa lahan pertanian di Dusun Pringluwang, Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Setidaknya sudah ada 4 lubang dengan diameter bervariasi yang menyebabkan petani resah.
Khawatir lubang akan semakin melebar dan dalam. Pihak kepolisian pun belum lama ini memasang garis polisi untuk mengantisipasi jatuhnya korban akibat fenomena tersebut.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
