
Gerabah yang baru saja dibuat di Dukuh Getakan. Benda ini diekspor ke Malaysia hingga tembus Timur Tengah.
JawaPos.com- Siapa sangka, sebuah kampung di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, menjadi pemasok utama gerabah atau tembikar ke Timur Tengah.
Adalah Dukuh Getakan, Desa Pagelaran yang mayoritas masyarakatnya menekuni pembuatan gerabah. Konon kabarnya, hal itu sudah ditekuni sejak puluhan bahkan ratusan lalu.
Kampung gerabah di RW 2C yang lokasinya tidak jauh dari kantor kecamatan ini terdiri dari beberapa RT. Meski menjadi pemasok utama ke Timur Tengah, ternyata banyak warga yang meninggalkan profesinya sebagai pengerajin gerabah yang terbuat dari tanah liat itu.
Dari beberapa di desa itu, hanya dua RT yakni 19 dan 20, yang warganya masih menekuni pembuatan gerabah itu. Setidaknya tinggal 30 hingga 40 pelaku usaha.
"Ya sekitar itu, sekarang sudah banyak berkurang. Kalau dulu ya satu dukuh semua bikin gerabah," kata Sunarti, 50, salah satu pengrajin gerabah sambil tetap membentuk tanah liat di atas perbot (alat pembuat gerabah), saat ditemui JawaPos.com di tempat produksi miliknya, Selasa (9/1).
Dalam sehari, dia mengaku bisa memproduksi hingga 210 gerabah beragam jenis. Mulai cobek tanah liat, gentong ukuran sedang dan besar.
Sunarti mengatakan, Dirinya sudah puluhan tahun memproduksi gerabah. Bahkan sejak masih jelas 1 SD. Ia pun sudah terbiasa membuat gerabah. Gerabah hasil produksinya bahkan sudah dijual hingga ke seluruh Jawa Timur, Bali dan kawasan lainnya.
"Ada yang sampai luar negeri, sampai Timur Tengah. Ada orang ngambil dari sini, kemudian dijual kemana-mana," kata dia.
Sementara itu, perajin lainnya, Sumardiono, 50, menjelaskan, gerabah hasil produksi kampungnya ini memang sudah sampai di Timur Tengah. Bahkan, sebelumnya pernah dikirimkan ke Malaysia.
Namun, bukan perajin sendiri yang mengirimkan ke luar negeri. Melainkan tengkulak yang membeli gerabah dari mereka dan mengekspor ke luar negeri.
"Jadi kulakannya di sini, terus dijual lagi sama mereka," kata dia.
Camat Pagelaran, Ichwanul Muslimin, menjelaskan, sudah dua kali ini gerabah dari Getakan dikirim ke Timur Tengah.
"Mulai akhir tahun lalu dikirim ke Timur Tengah. Sudah dua kali order. Total dua kontainer," kata dia, kepada JawaPos.com, ditemui di Desa Sidorejo.
Dia menjelaskan, pertama kali yang dikirimkan adalah periuk dari gabah. Periuk ini, lanjut dia, digunakan orang Timur Tengah sebagai salah satu alat shisha atau cara merokok khas Timur Tengah.
Pasalnya, periuk yang berasal dari tanah liat dipercaya bisa menetralisir kandungan zat kimia yang ada di dalam shisha. "Jadi pesan pertama untuk shisha. Ternyata mereka senang dan ini pesan lagi yang kedua, tapi bukan periuk," imbuh mantan Kasatpol PP Kabupaten Malang itu.
Pemesanan kedua, lanjut Ichwanul, mereka memesan pinggan untuk wadah makanan dan minuman hewan peliharaan orang Timur Tengah.
Rencananya, pihak kecamatan akan mengembangkan dan menjajaki pasar baru untuk gerabah serta peluang pemasaran lainnya. Salah satunya, dengan menggandeng industri kuliner yang memungkinkan untuk memanfaatkan produk gerabah. Misalnya saja pengusaha gudeg, es tape, dawet ayu atau pebisnis restoran.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
