Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Agustus 2018 | 00.54 WIB

Dikeluarkan Sebelum Upacara, 3 Anggota Paskibra Alami Tekanan Mental

Ilustrasi: tiga anggota paskibra di Pangkep, Sulsel dicoret sebelum hari 17 Agustus 2018. Akibatnya mereka hingga mengalami tekanan mental. - Image

Ilustrasi: tiga anggota paskibra di Pangkep, Sulsel dicoret sebelum hari 17 Agustus 2018. Akibatnya mereka hingga mengalami tekanan mental.

JawaPos.com - Peringatan HUT ke-73 RI tidak hanya menghadirkan sosok heroik Joni sang pemanjat tiang bendera. Di balik itu, upacara pengibaran bendera Merah Putih di Pangkep, Sulsel, ada pilu yang dirasakan tiga anggota paskibra.


Mereka mendadak dikeluarkan sesaat sebelum upacara dilaksanakan. Hingga saat ini, ketiganya masih merasakan beban dan menanggung malu. Mereka adalah Resky Mansur, Nurul Aulia, dan Farah Fadilah Yusri.


Begitu beratnya tekanan mental yang dialami, hingga Senin (20/8) Resky tak berani menampakkan wajah di sekolahnya, SMAN 1 Pangkep. "Masih malu sama teman-temannya yang tahu bahwa dia selama ini ikut latihan paskibra," kata Rosma, ibu Resky.


Rosma mengatakan sudah memberikan support kepada putranya itu. "Saya selalu memberi nasihat, jangan sampai larut dalam kecewa. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit kecewanya mulai berkurang. Walaupun memang belum mau pergi sekolah, kami turuti saja dulu keinginannya," ungkapnya.


Mansyur, sang ayah, tak kalah kecewa melihat anaknya tidak ikut dalam barisan pengibar bendera saat itu.


"Sangat kecewa anak saya diperlakukan tidak adil. Padahal, dia sudah sebulan meninggalkan pelajarannya hanya untuk paskibra. Tetapi, tanpa ada alasan, dia dikeluarkan begitu saja," keluhnya, Minggu (19/8).


"Saat kejadian itu, anak saya sangat shock. Langsung membuka baju seragam paskibra dan berlari pulang saat teman-temannya mengibarkan bendera," lanjutnya.


Kepala SMAN 1 Pangkep Abdur Rasyid membenarkan siswanya dikeluarkan dari barisan paskibra. Yang jelas, kata dia, pihaknya sudah menyiapkan siswa yang memenuhi kriteria.


"Terkait apa masalahnya, kami juga belum tahu seperti apa. Sebab, kami juga belum mendapat pemberitahuan dari panitia. Kami hanya berharap tidak ada lagi siswa yang dirugikan," ungkapnya.


Sekretaris Jenderal Komite Komunitas Demokrasi Pangkep (KKDP) Misbah meminta pelatih paskibra bertanggung jawab atas kejadian tersebut.


"Dikhawatirkan, psikologis anak yang dikeluarkan terganggu hingga akhirnya berdampak putus sekolah," katanya. Dia juga berharap regulasi proses seleksi dan penyelenggaraan paskibra di Pangkep lebih transparan.


Masalah transparansi itu juga disoroti Ketua Komisi I DPRD Pangkep Umar Haya. "Termasuk mengeluarkan anggota pada detik-detik terakhir ini harus diperhatikan. Jangan sampai merugikan hak anak-anak yang sudah berlatih. Penerimaan ke depannya harus steril dan terhindar dari calon titipan," ungkapnya.


Terpisah, dalam situs resmi Dispora Pangkeb, Koordinator Pelatih Paskibra Kapten ARM Tamrin menjelaskan, tiga orang anggota paskibra itu dikeluarkan berdasarkan riwayat kepelatihan sejak yang dilaksanakan sejak 23 Juli lalu.


Dua anggota perempuan yaitu Nurul Aulia, dan Farah Fadilah dikeluarkan berdasarkan riwayat kesehatan. Sejak mengikuti latihan fisik dan mental paskibra, keduanya kerap pingsan. "Kami khawatir kalau diikutkan di hari H bisa repot kami semua," lanjutnya.


Sementara untuk Resky Mansur, Tamrin yang juga Komandan Koramil Minasatene ini mengatakan jika Resky sering melakukan pelanggaran selama karantina. Resky diketahui sering begadang dan menyimpan ponsel.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore