Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Juni 2018 | 12.55 WIB

Terlilit Utang Usai Lebaran

Ilustrasi uang tunjangan hari raya (THR). - Image

Ilustrasi uang tunjangan hari raya (THR).

JawaPos.com - Kurangnya perencanaan keuangan yang baik di tengah meningkatnya kebutuhan jelang Lebaran membuat banyak masyarakat terpaksa dihadapkan pada utang setelah perayaan Idul Fitri. Kebutuhan menyambut momentum ini memang terbilang beragam dan nominalnya tak sedikit, seperti untuk sandang, pangan, tunjangan hari raya (THR), mudik, dan lain sebagainya.


Salah satunya, Mawarni (bukan nama sebenarnya). Ibu muda yang baru dikaruniai anak ini mengatakan, sebelum Lebaran ia membeli motor baru dengan pembayaran sistem kredit. Hal itu dilakukannya untuk menunjang mobilitasnya setiap hari. Mawarni tergiur sistem uang muka atau down payment (DP) rendah.


"Beli motor ini baru seminggu sebelum Lebaran karena ada promo DP (uang muka) ringan. Karena ada uang THR, jadi enggak pikir panjang langsung ambil aja, persyaratannya juga enggak susah," ujarnya dikutip dari Radar Tarakan (Jawa Pos Group), Senin (18/6).


Ya, Mawarni berani mengambil motor dengan cicilan Rp 750 ribu/bulan selama tiga tahun. Dengan penghasilan setiap bulannya, berkisar Rp 2.950.000/bulan.


"Tiga tahun nyicilnya. Kalau dihitung memang lebih mahal, tapi kalau beli cash kan enggak ada uangnya. Otomatis nanti setelah Lebaran ya cicilannya nambah lagi, sudah risiko," tambahnya.


Hal yang sama juga dilakukan Ningsih. Ibu rumah tangga dengan tiga anak ini mengaku mengajukan pinjaman dana pada perusahaan multifinance untuk pembiayaan anak sekolah.


"Lebaran ini bertepatan sama anak masuk sekolah, apalagi anak saya ini masuk SMP banyak kebutuhannya. Kalau uang THR kan digunakan untuk kebutuhan hari raya. Kalau ditambah biaya lain-lain ya tidak cukup. Makanya mau tidak mau harus ajukan pinjaman," ungkapnya.


Melihat fenomena tersebut, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIE Bulungan Tarakan Ana Sriekaningsih mengatakan, selama Ramadan dan jelang Lebaran tentu perputaran ekonomi ikut meningkat. Kebutuhan masyarakat meningkat dibandingkan hari biasanya.


Apalagi harga kebutuhan ikut melambung tinggi. Hal tersebut berdampak terhadap biaya pengeluaran masyarakat. "Belum lagi kalau ada permainan harga, maka harus ada pemantauan dari dinas terkait supaya harga tidak melonjak," tuturnya.


Ana melihat masyarakat di Kota Tarakan juga cukup konsumtif. Hal ini dapat dilihat dari persiapan penyajian pangan.


"Misalnya sehari-hari konsumsi daging tidak seberapa, tapi Lebaran pasti menambah stok. Yang biasanya 1 kilogram, tapi karena hari raya maka ada penambahan jumlah yang kita butuhkan," lanjutnya.


Selain kebutuhan bahan pangan, menjelang hari raya masyarakat pun berburu baju Lebaran. Tak sampai di situ saja, mempercantik rumah saat menyambut hari raya cukup lekat pada masyarakat. Kebanyakan masyarakat mempunyai pikiran, Lebaran dirayakan sekali dalam setahun. Sehingga persiapannya pun harus cukup besar.


Ana pun mengimbau konsumen dapat mengatur keuangan dengan bijak. Dengan demikian, bisa menghindari kehabisan anggaran apalagi lilitan utang.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore