
Ilustrasi uang tunjangan hari raya (THR).
JawaPos.com - Kurangnya perencanaan keuangan yang baik di tengah meningkatnya kebutuhan jelang Lebaran membuat banyak masyarakat terpaksa dihadapkan pada utang setelah perayaan Idul Fitri. Kebutuhan menyambut momentum ini memang terbilang beragam dan nominalnya tak sedikit, seperti untuk sandang, pangan, tunjangan hari raya (THR), mudik, dan lain sebagainya.
Salah satunya, Mawarni (bukan nama sebenarnya). Ibu muda yang baru dikaruniai anak ini mengatakan, sebelum Lebaran ia membeli motor baru dengan pembayaran sistem kredit. Hal itu dilakukannya untuk menunjang mobilitasnya setiap hari. Mawarni tergiur sistem uang muka atau down payment (DP) rendah.
"Beli motor ini baru seminggu sebelum Lebaran karena ada promo DP (uang muka) ringan. Karena ada uang THR, jadi enggak pikir panjang langsung ambil aja, persyaratannya juga enggak susah," ujarnya dikutip dari Radar Tarakan (Jawa Pos Group), Senin (18/6).
Ya, Mawarni berani mengambil motor dengan cicilan Rp 750 ribu/bulan selama tiga tahun. Dengan penghasilan setiap bulannya, berkisar Rp 2.950.000/bulan.
"Tiga tahun nyicilnya. Kalau dihitung memang lebih mahal, tapi kalau beli cash kan enggak ada uangnya. Otomatis nanti setelah Lebaran ya cicilannya nambah lagi, sudah risiko," tambahnya.
Hal yang sama juga dilakukan Ningsih. Ibu rumah tangga dengan tiga anak ini mengaku mengajukan pinjaman dana pada perusahaan multifinance untuk pembiayaan anak sekolah.
"Lebaran ini bertepatan sama anak masuk sekolah, apalagi anak saya ini masuk SMP banyak kebutuhannya. Kalau uang THR kan digunakan untuk kebutuhan hari raya. Kalau ditambah biaya lain-lain ya tidak cukup. Makanya mau tidak mau harus ajukan pinjaman," ungkapnya.
Melihat fenomena tersebut, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIE Bulungan Tarakan Ana Sriekaningsih mengatakan, selama Ramadan dan jelang Lebaran tentu perputaran ekonomi ikut meningkat. Kebutuhan masyarakat meningkat dibandingkan hari biasanya.
Apalagi harga kebutuhan ikut melambung tinggi. Hal tersebut berdampak terhadap biaya pengeluaran masyarakat. "Belum lagi kalau ada permainan harga, maka harus ada pemantauan dari dinas terkait supaya harga tidak melonjak," tuturnya.
Ana melihat masyarakat di Kota Tarakan juga cukup konsumtif. Hal ini dapat dilihat dari persiapan penyajian pangan.
"Misalnya sehari-hari konsumsi daging tidak seberapa, tapi Lebaran pasti menambah stok. Yang biasanya 1 kilogram, tapi karena hari raya maka ada penambahan jumlah yang kita butuhkan," lanjutnya.
Selain kebutuhan bahan pangan, menjelang hari raya masyarakat pun berburu baju Lebaran. Tak sampai di situ saja, mempercantik rumah saat menyambut hari raya cukup lekat pada masyarakat. Kebanyakan masyarakat mempunyai pikiran, Lebaran dirayakan sekali dalam setahun. Sehingga persiapannya pun harus cukup besar.
Ana pun mengimbau konsumen dapat mengatur keuangan dengan bijak. Dengan demikian, bisa menghindari kehabisan anggaran apalagi lilitan utang.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
