
Tangkapan layar salah satu adegan Alina Suhita dan Gus Biirru dalam Film Hati Suhita produksi StarVision.
JawaPos.com- Film Hati Suhita tengah menjadi perbincangan di mana-mana. Sejak diputar serentak di Indonesia mulai 25 Mei lalu, banyak gedung bioskop diserbu penonton. Tidak sedikit organisasi atau komunitas yang anggotanya beramai-ramai nobar. Alur cerita film berlatar kehidupan pesantren ini berhasil membuat penonton geregetan hingga menguras air mata.
Film tersebut diadaptasi dari sebuah novel best seller karya Khilma Anis, alumnus Pesantren Tambakberas, Jombang, dan Pesantren Krapyak, Jogjakarta. Ceritanya, menyuguhkan narasi positif serta ketangguhan perempuan yang tinggal di lingkungan pesantren.
Nadya Arina yang berperan menjadi Alina Suhita digambarkan sebagai sosok perempuan kuat, tangguh, dan pantang menyerah. Dia harus menjalani perjodohan dengan Gus Birru, putra tunggal seorang pengasuh pesantren besar. Mahligai rumah tangganya bersama Gus Birru tidak mulus. Alih-alih bahagia, malah mengharu biru. Sebab, benih cinta Gus Birru yang diperankan Omar Daniel masih terbenam kuat di perempuan lain: Ratna Rengganis.
KH Muhammad Haris Damanhuri, salah satu pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, kepada JawaPos.com memberikan apresiasi terhadap Film Hati Suhita. Film itu menggambarkan pesantren masa kini dengan kehidupan keluarga sang kiai yang cenderung moderat. ‘’Yang menarik di sini adalah adanya gambaran narasi positif tentang karakter perempuan,’’ kata Gus Haris, panggilan akrabnya, Selasa (30/5).
Gus Haris menilai, film tersebut menyuguhkan menu drama yang cukup berbeda dengan film-film yang sudah ada. Sebut saja, tak ada kisah dendam, pertengkaran antara perempuan hingga memperebutkan seorang laki-laki, walaupun menceritakan tentang cinta segitiga. ‘’Penggambaran sosok-sosok perempuan tangguh masa kini, perempuan yang tinggal di pesantren dengan segala eksistensinya,’’ papar kiai muda yang juga memiliki darah seni itu.
Dia menambahkan, film tersebut juga penggambaran Kartini-Kartini masa kini, yang ikut berjuang dan membangun serta memajukan pesantren. ‘’Jadi, menarik, film dengan angle atau sudut pandang berbeda. Sayangnya, kok penggambaran sosok gusnya cengeng, nangisan. Ha…ha…,’’ celetuk Gus Haris yang juga dokter itu sambil tertawa.
Sementara itu, KH Abdussalam Shohib, pengasuh Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang, juga memberi apresiasi positif film produksi Starvision tersebut. Salah satu di antara adegan menarik yang mungkin luput dari perhatian penonton adalah tentang tabarukan. Tradisi tabaruk merupakan salah satu doa kepada Allah SWT melalui perantara lahiriah berupa jejak, tempat atau orang secara pribadi. ‘’Tabarukan itu bagian dari tawasul,’’ ungkap Gus Salam, panggilan akrabnya.
Nah, di antara tempat tabarukan yang dilakukan Alina Suhita saat menghadapi konflik dengan Gus Birru adalah pesarean KH Muhammad Hasan Besari atau Ki Ageng Besari, di Desa Tegalrejo, Kecamatan Jetis, Ponorogo, Jawa Timur.
Lantas, siapa Kiai Hasan Besari itu? Menurut Gus Salam, Pesantren Tegalsari itu merupakan pesantren pertama di Jawa Timur. Ki Ageng Besari merupakan seorang ulama besar yang berjasa pada bangsa dan negara di masa penjajahan Belanda. Dari sisi sejarah, beliau juga masih tersambung dengan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asyari.
Karena itu, pada momentum menyambut peringatan 100 Tahun atau Satu Abad NU lalu, PWNU Jatim juga menjadikan Pesantren Tegalsari itu sebagai pusat Mujahadah Kubro. ’’Nuansa perjuangan kita ambil dalam konteks kekinian. Kala itu, tema yang kita usung adalah NU Membangun Sanad Jamiyyah, Menyambung Sanad Keilmuan dan Perjuangan,’’ ungkap Gus Salam.
Mengutip Jawa Pos Radar Madiun, dari Pesantren Tegalrejo itu melahirkan beberapa tokoh besar. Termasuk Pangeran Diponegoro dan Hadratusyaikh KH Hasyim Asyari. Dari garis keturunan Kiai Ageng Besari pula kelak lahir sosok Sultan Kartasura, yakni Pakubuwono II, Begawan Kasultanan Kartasura Raden Ngabehi Ronggowarsito, dan tokoh pergerakan kemerdekaan HOS Tjokroaminoto.
Pendiri Pesantren Tremas, Pacitan, KH Abdul Mannan, juga pernah nyantri di Tegalsari. Beberapa pesantren besar dan sepuh di Pulau Jawa juga memiliki hubungan erat dengan Ki Ageng Besari. Di antaranya, Lirboyo, Ploso, Jampes, dan pesantren lainnya. Karena jasa besarnya, belakangan nama Kiai Ageng Besari juga dijadikan sebagai nama Universitas Islam Negeri (UIN) di Ponorogo.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
