
Tangkapan layar gumpalan busa hitam terbang dan memasuki area persawahan di Kabupaten Subang, pada Senin (27/10). (Istimewa)
JawaPos.com-Media sosial dihebohkan peristiwa terkait gumpalan busa berwarna hitam beterbangan dan memasuki area persawahan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Peristiwa itu diduga terjadi pada Senin (27/10).
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan fenomena busa hitam terbang yang muncul di langit Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, bukan disebabkan kejadian alam.
“Berdasar hasil kajian awal dari aspek meteorologi, fenomena tersebut tidak termasuk dalam kejadian alam yang disebabkan proses cuaca, awan, maupun aktivitas atmosfer lainnya,” kata Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Teguh Rahayu, dalam keterangan tertulis, Rabu (29/10).
Menurut dia, kajian ini masih bersifat awal dan perlu ditelusuri lebih lanjut. Secara ilmiah, BMKG menduga gumpalan hitam yang terbang tersebut tidak terbentuk karena proses atmosfer alami.
“Secara ilmiah, awan terbentuk dari proses kondensasi uap air di atmosfer dengan pola, ketinggian, dan karakteristik tertentu yang dapat diidentifikasi oleh citra satelit dan radar cuaca BMKG,” jelas Teguh Rahayu.
BMKG juga memaparkan, kondisi cuaca di wilayah Subang pada 27 Oktober 2025 secara umum berawan pada pagi hari dan disertai awan hujan di sebagian wilayah selatan pada sore hari. Sementara pada 28 Oktober 2025, cuaca terpantau berawan tebal hingga hujan ringan sejak pagi hingga sore hari.
Kondisi angin berdasar pengamatan AWS Sukamandi menunjukkan arah dominan dari timur–selatan dengan kecepatan maksimum 26,1 km/jam pada 27 Oktober, dan 13,3 km/jam pada 28 Oktober.
Dengan kondisi tersebut, BMKG memastikan fenomena busa hitam bukan akibat peristiwa alam, melainkan kemungkinan besar berasal dari aktivitas reaksi kimia yang berasal dari industri.
“Menurut kami, fenomena berupa gumpalan hitam itu lebih mungkin berasal dari aktivitas industri, reaksi kimia limbah, atau kegiatan manusia lainnya yang menghasilkan busa atau material ringan yang kemudian terangkat oleh angin,” tutur Teguh Rahayu.
Dia pun menyarankan agar pemerintah daerah segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan sumber dan kandungan material busa tersebut.
“Diperlukan uji laboratorium oleh instansi terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) atau BPBD setempat,” tandas Teguh Rahayu.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
