Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 September 2025 | 13.39 WIB

Banjir Denpasar Juga Terkait Krisis DAS Ayung, Tutupan Hutannya Tinggal Tiga Persen

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq rapat bersama Gubernur Bali Wayan Koster di Denpasar (13/9). (Humas Kemen-LH) - Image

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq rapat bersama Gubernur Bali Wayan Koster di Denpasar (13/9). (Humas Kemen-LH)

JawaPos.com - Banjir besar yang melanda Denpasar 10 September lalu, tidak semata karena hujan ekstrem. Tetapi juga dampak dari krisis daerah aliran sungai (DAS) Ayung. Saat ini tutupan hutan di DAS Ayung tinggal 3 persen.

Tutupan hutan pada DAS sangat penting. Yaitu untuk serapan air hujan. Sehingga air ujan tidak sepenuhnya meluber atau mengalir ke hilir. Kasus serupa terjadi di Bekasi beberapa bulan lalu. Hujan lebat ditambah rusaknya ekosistem DAS Bekasi di hulunya, memicu banjir besar.

Setelah terjadi banjir besar di Denpasar, Menteri Lingkungan Hidup (Men-LH) Hanif Faisol Nurofiq menggelar rapat bersama Gubernur Bali Wayan Koster (13/9). Data dari Kemen-LH menyebut, krisis tutupan hutan di DAS Ayung memperburuk kondisi saat terjadi banjir Denpasar

Dari total 49.500 hektare luas kawasan, hanya sekitar 1.500 hektare atau 3 persen yang masih berhutan. "Padahal secara ekologis minimal dibutuhkan 30 persen agar ekosistem tetap berfungsi optimal," kata Hanif.

Dia menegaskan arah kebijakan nasional di sektor lingkungan hidup. Yaitu pengawasan ketat termasuk upaya untuk menghindari sejauh mungkin terjadinya konversi-konversi lahan yang tidak diperlukan. "Jadi kita mengharapkan tidak ada lagi konversi-konversi lahan untuk kegiatan terbangun seperti pembangunan villa, cottage dan lain sebagainya yang akan mengganggu serapan air," jelas Hanif.

Selain mencegah alih fungsi lahan, persoalan sampah juga menjadi sorotan serius di pulau Dewata. Hanif mengatakan persoalan sampah harus ditangani di sumbernya. Tidak boleh lagi hanya dipindah dari satu titik ke titik lain. Karena sudah memperparah bencana banjir, sampai dengan membawa korban jiwa.

Pemerintah pusat dan daerah berkomitmen memperkuat pengawasan lingkungan, rehabilitasi kawasan hulu sungai, evaluasi tata ruang, hingga penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan. “Momentum ini harus menjadi pengingat bagaimana kita menjaga alam Bali agar tetap lestari dan tangguh menghadapi bencana,” pungkas Hanif. 

Dalam rapat tersebut, dijelaskan bahwa curah hujan ekstrem pada 9 September mencapai 245,75 milimeter dalam sehari. Setara 121 juta meter kubik air di DAS Ayung. 

Bencana banjir itu menelan 17 korban jiwa dengan lima orang lainnya masih hilang. Selain menghantam pemukiman dan infrastruktur, banjir diperparah oleh timbunan sampah yang menutup aliran sungai. “Ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman perubahan iklim bagi Bali,” tegas Wayan Koster. 

Dia juga menekankan pentingnya investigasi dari hulu hingga hilir untuk mencegah banjir berulang. Penelusuran pertama dari Tukad Badung dari hulu sampai hilir. Untuk mengetahui apakah terjadi penggundulan hutan. Sehingga mengurangi serapan air sehingga pada saat hujan lebat potensi banjirnya menjadi sangat besar. 

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore