Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 November 2016 | 15.10 WIB

Detik-detik Penyerangan Polisi Secara Brutal ke SMKN 2 Raha

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Para guru dan siswa SMKN 2 Raha mengaku masih trauma dengan insiden penyerangan yang dilakukan sekelompok oknum Satuan Pengendalian Masa (Dalmas) Polres Muna terhadap siswa SMKN 2 Raha pada Kamis, 24 November lalu.



Peristiwa penyerangan yang dilakukan sejumlah oknum Satdalmas Polres Muna membuat psikologi warga SMKN 2 Raha drop. Sebanyak 800 siswa masih diliburkan hingga akhir pekan, kemarin.



Dilansir dari Kendari Pos (Jawa Pos Group), Wakil Kepala SMKN 2 Raha Bidang Kesiswaan, La Enda bercerita, saat siswa dihajar oleh aparat, guru-guru pun histeris. Mereka menangis.



Guru-guru tak kuasa untuk melerai aksi yang dipertontonkan oknum anggota korps Bhayangkara yang kebanyakan masih muda itu. Apalagi, pelaku penyerangan dilengkapi dengan tongkat pemukul. Guru menyaksi saat penyerangan di ruang kelas, siswa bernama Ahmad Bone dihajar.



"Ahmad Bone itu siswa berprestasi. Dia bukan anak nakal. Kami sangat sayangkan karena polisi menyerang membabibuta," ungkap La Enda.



Ahmad Bone, lanjutnya, kesakitan saat dipukul dan tendangan secara bertubi-tubi. "Siswa tersungkur di bawah meja. Dipaksa naik mobil. Dia (Ahmad Bone, red) tak bisa berdiri. Sakit tulang rusuknya. Saya bilang sama polisi, kalau begini caranya, bisa mati siswa saya. Kenapa tidak bicara baik-baik," kata La Enda mengenang tragedi penyerangan itu.



La Enda mengaku peristiwa itu sangat menakutkan. Dia melihat anggota Dalmas masuk ke lingkungan sekolah dengan melompati pagar. Menyusul mobil truk yang mengangkutnya masuk lewat pintu gerbang.



Siswa dihajar tanpa tebang pilih. Mereka dihajar di depan guru-gurunya. "Kami jadi trauma mengajar," ujarnya.



Guru SMKN 2 Raha Zainal menuturkan, ketika insiden itu terjadi, dia sedang mengetik sesuatu di komputer. Dia mendengar suara mobil berhenti di depan kantor sekolah. Saat keluar hendak memastikan siapa yang datang, beberapa siswanya sudah terbaring. Spontan, Zainal langsung menghalangi polisi. Namun, masih ada juga oknum yang melancarkan aksinya.



"Polisi diam saat saya katakan, kalau masuk di rumahnya orang itu, harus minta izin dulu. Bukan main hakim sendiri, siswa ditendang di ruang guru. Waktunya pun cukup lama," kata Zainal.



Guru lain, Nursida Sima ikut menyaksikan tragedi pemukulan tersebut. Sekitar lima oknum polisi berlaku anarkis. Saat kejadian, dia pun panik. Sudah 13 tahun dia mengajar di sekolah itu, insiden seperti ini baru pertama kali.



"Lima orang yang melakukan pemukulan. Saya panik dan berteriak-teriak. Polisi bilang terlanjur melempar. Saya bilang, hargai kami guru di sini," ungkap Nursida Sima.



Lanjut Nursida, Ahmad Bone itu anaknya cerdas. Ia selalu membacakan khotbah tiap Jumat. Ahmad kala dihajar hanya melindungi kepalanya dengan kedua tangannya sembari menghadap tembok. "Tolong pak polisi. Anaknya orang. Tapi polisi tidak mengindahkan. Terus menghajar," tukasnya.



Polisi datang dari arah selatan, utara, dan barat. Siapa yang dilihat saat itu dihajar tanpa tebang pilih. Nursida juga siap memberikan keterangannya meski trauma mendengar nama polisi yang identik dengan anarkis.



Tak tanya di ruang guru, di kantin pun terjadi insiden serupa. Umiyati yang sehari-harinya menjajakan jualannya dalam lingkungan sekolah mengatakan, kala itu ada siswa sekira 15 orang sementara makan.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore