Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 September 2018 | 12.30 WIB

Waduh! Es Krim Mengandung Bakteri Patogen, Belasan Orang Keracunan

TUTUP SEMENTARA. Kafe di Ruko Sentra Eropa III, Blok A-C6 Balikpapan Baru berhenti beroperasi sejak pelanggannya keracunan pada Minggu (2/9). - Image

TUTUP SEMENTARA. Kafe di Ruko Sentra Eropa III, Blok A-C6 Balikpapan Baru berhenti beroperasi sejak pelanggannya keracunan pada Minggu (2/9).

JawaPos.com - Penyebab keracunan es krim di salah satu kafe di kawasan Balikpapan Baru pada Minggu (2/9) akhirnya terkuak. Setelah melakukan penelitian sampel, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Samarinda menyimpulkan terdapat bakteri patogen pada bahan baku es krim, yakni air, susu dan gula.


Seperti apa bakteri tersebut? Pada banyak kasus keracunan makanan, mikroba adalah salah satu penyebab iritasi lambung dan usus. Konsekuensinya pun bisa sakit perut, muntah dan diare.


Oleh sebab itu, penting untuk mewaspadai kontaminasi makanan dan perhatikan kebersihannya. Terdapat banyak bakteri patogen yang membahayakan kesehatan manusia.


Di antaranya yakni Salmonella, Eschericha coli, Lysteria monocytogenes, Clostridium perfringens, Clostridium botolinum staphylococcus auerues dan Campylobacter jejeuni.


Keracunan makanan akibat bakteri patogen dapat berulang kali. Adapun gejalanya seperti pusing kepala, nyeri otot, mual, lelah, demam, sakit perut, muntah dan diare.


Gejala ini dapat terjadi pada siapa saja. Mulai balita hingga orangtua. Bakteri patogen dapat menjangkiti daging sapi, unggas dan ikan pada produk perikanan.


Sementara pada produk olahan, bakteri patogen terdapat pada susu, buah dan produk kemasan. Kepala Balai Besar BPOM Samarinda Abdul Rahim menjelaskan, adanya bakteri patogen disebabkan proses pengolahan es krim di kafe tersebut yang kurang higienis.


"Hasil uji laboratorium, memang ditemukan bakteri yang seharusnya tidak ada di makanan. Kami curiga salah satu bahan bakunya kurang bersih. Apalagi susu, rentan sekali ditumbuhi bakteri. Gizinya (susu) tinggi. Bakteri pun suka dan dijadikan makanannya," ungkapnya dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Kamis (13/9).


Abdul Rahim melanjutkan, proses pengujian terhadap sampel es krim tidak asal. Pihaknya terlebih dulu memastikan berapa lama efek yang diterima tubuh manusia setelah mengkonsumsi es krim beracun tersebut.


Hasilnya, bergantung pada kekebalan tubuh seseorang. "Ada yang langsung menerima efek ada yang berjam-jam kemudian," terangnya.


Dia mengimbau agar masyarakat dan pelaku usaha kuliner lebih memperhatikan masalah kebersihan ketika mengolah makanan. Apalagi yang berbahan dasar susu.


"Susu kalau sudah basi, tidak bisa dibedakan. Penyimpanan susu pun harus diperhatikan betul-betul. Tidak bisa asal. Apalagi dibiarkan terbuka di dapur. Bakteri bisa datang dari mana saja," tandasnya.


Sebelumnya dikabarkan, sekira tujuh remaja dievakuasi ke Rumah Sakit Siloam Balikpapan setelah mengonsumsi es krim pada Minggu (2/9) siang.


Nur Widiana, salah satu korban keracunan kepada Kaltim Post menuturkan, dia beserta enam temannya menghabiskan sekopan ice cream berwarna-warni dengan topping oreo di atasnya.


Nur mengaku sepulang dari kafe, sekitar pukul 16.00 Wita tubuhnya mendadak demam tinggi disertai pusing. Di tengah malam dirinya merasa mual.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore