
Warga yang terlibat dalam Ritual Unduh Tirta sedang mengambil makanan di Tumpeng Sedekah Bumi (Wahyu Umattulloh Al Iman/JawaPos.com)
JawaPos.com - Masyarakat Desa Wotanmas Jedong, Ngoro, Mojokerto, Jawa Timur, menggelar tradisi Ritual Unduh Tirta Air Terjun Sabrangan di sumber mata air Sabrangan yang berlokasi di area pendakian Gunung Penanggungan Via Genting pada Minggu (9/2).
Ritual Unduh Tirta Air Terjun Sabrangan merupakan bentuk penghormatan masyarakat desa Wotanmas Jedong kepada air yang telah memberikan kebermanfaatan bagi setiap makhluk hidup. Tujuan ritual itu sebagai bentuk rasa syukur manusia kepada Tuhan yang telah memberikan air sebagai pemenuh kebutuhan manusia.
Pimpinan Padepokan Astana Jabal Sirr Abdul Wahid menjelaskan, filosofi Ritual Unduh Tirta berhubungan dengan melestarikan mata air. "Maksud dari ritual unduh tirta di Air Terjun Sabrangan kalau dari segi kata unduh berarti mengambil, jika ingin mengambil harus mau merawat, melestarikan, menjaga dan menanam," ujar Abdul Wahid.
Penanaman bibit bambu dipilih sebagai pohon yang mampu menambah debit mata air lebih besar lagi. Begitu juga dengan fungsi pohon bambu, untuk mempercepat proses pengembalian air yang nantinya akan memunculkan sumber mata air yang baru.
Pagelaran wayang di area sumber Sabrangan. (Wahyu Umattulloh Al Iman/JawaPos.com)
Mata air Sabrangan mengalir di berbagai desa, seperti Desa Kunjoro Wesi, Dusun Kandangan, Desa Manduro, Desa wotanmas Jedong, dan Dusun Genting.
Asal muasal acara ini dari tradisi selamatan gegrojogan yang dilakukan turun temurun oleh pendahulu. Lantas acara itu kini berubah menjadi ritual unduh tirta. Ritual itu diselenggarakan pertama kali pada 2023. Mulai saat ini acara Ritual Unduh Tirta akan dilakukan rutin satu tahun sekali.
Berbagai kegiatan meriah dilakukan oleh masyarakat, anak anak Dusun Genting Mojokerto, dan dalang asal Jawa Tengah Ki Ompong Sudarsono. Ada arakan tumpeng hasil bumi, penanaman bibit bambu, Wayangan sumber, dan tari anak-anak.
Dalang Ki Ompong Sudarsono asal Temanggung Jawa Tengah menampilkan cerita pewayangan singkat yang berjudul Bimo suci. "Pagelaran wayang ini selain berterima kasih kepada Tuhan, juga kita mengenalkan tentang energi-energi alam yang ada, antara lain energi tanah, panas, angin, dan air. Dari pengenalan energi-energi alam kita bisa mengajak masyarakat untuk menghargai atau menjaga alam agar tetap lestari," Kata Dalang Ki Ompong Sudarsono.
Tumpeng sedekah bumi yang akan diarak menuju sumber Sabrangan. (Wahyu Umattulloh Al Iman/ JawaPos.com)
Selepas acara penanaman dan pewayangan masyarakat yang hadir bersama-sama menikmati tumpeng hasil bumi yang dibawa dari pos pendakian Gunung Penanggungan via Genting sampai sumber mata air Sabrangan. Tumpeng hasil bumi disimbolkan sebagai rasa syukur atas keberkahan Tuhan dengan tidak lepas dari keberadaan sumber mata air yang mampu mengaliri area pertanian masyarakat desa.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
