
Rosi atau Bunda Angeline (tengah) dan putrinya Angeline Virginia Wong (kiri) saat mengobrol dengan salah satu pasien penghuni rumah singgah
JawaPos.com- Yayasan Rumah Singgah Peduli telah banyak membantu keluarga tidak mampu. Di Surabaya, sebuah rumah di Jalan Kedung Tarukan 76, Tambak Sari, disulap jadi tempat berteduh orang-orang asal luar kota yang berobat di RSUD dr. Soetomo. Mereka yang menginap di sana sama sekali tidak dipungut biaya, alias gratis
Aryo Mahendro- Surabaya
Sekilas dari luar, rumah tipe 45 itu tak ubahnya seperti hunian lainnya. Rumah itu berlantai dua. Di lantai dasar ada sebuah ruang tamu yang terhubung dengan lorong. Lorong tersebut mengarah ke tiga kamar di sisi kanan, dapur, dan kamar mandi. Di ujungnya ada tangga yang mengarah ke lantai dua.
Saat menapaki anak tangga tersebut, langsung terlihat tumpukan pakaian dan kawat jemuran yang membentang di lantai dua. Satu ruang di lantai dua memang berfungsi sebagai ruangan mencuci.
Selain rungan mencuci, di lantai dua juga terdapat tiga kamar pasien. Ukuran kamar itu kira-kira sekitar 3x3 meter persegi. Satu kamar, bisa untuk menampung empat orang pasien dan dua anggota keluarga pendamping.
Saat mengunjungi rumah singgah tersebut, Minggu (9/9) siang, JawaPos.com ditemani oleh Rosi. Rosi adalah penanggung jawab rumah itu. Dia tidak mau namanya ditulis lengkap. Rosi meminta kepada JawaPos.com untuk memanggilnya dengan sapaan akrab para tamu kepadanya, yakni Bunda Angeline. Sapaan itu disematkan karena putri Rosi bernama Angeline.
Bunda Angeline menceritakan, kamar-kamar tersebut mempunyai fasilitas penunjang bagi para pasien rawat jalan yang berasal dari luar kota. Sebut saja tabung oksigen dan kursi roda. "Kalau fasilitas seperti obat-obatan juga ada. Tapi hanya obat umum yang biasa ditemui di rumah. Kalau alat kesehatan seperti infus, kami tidak punya, karena kami bukan dokter," tutur bunda Angeline.
Selain menyediakan fasilitas, ada tiga orang penanggungjawab dan kooordinator rumah singgah yang siaga 24 jam. Mereka bertugas melaporkan semua aktivitas di dalam rumah. Termasuk berkoordinasi dengan pihak rumah sakit jika ada pasien yang mendadak dalam kondisi gawat darurat.
Jika kondisi darurat terjadi, mereka akan menghubungi ambulan atau transportasi umum lainnya. "Sering kami dilapori ada pasien yang mendadak gawat darurat saat tengah malam. Penanggungjawab yang siaga menelpon saya, lalu pesen taksi online. Kami antar sampai masuk ke rumah sakit," tambahnya.
Ada sejumlah prosedur dan kriteria pasien yang boleh singgah. Mereka yang boleh tinggal di sana adalah yang berstatus rawat jalan. Selain itu, pasien harus terdaftar BPJS Kesehatan golongan III. Pasien juga dapat menyertakan surat keterangan tidak mampu bila ada. "Dokter yang merekomendasikan dan menghubungi kami jika ada pasien rawat jalan yang akan singgah. Setelah itu, pasien sendiri yang mendatangi rumah ini," terang Bunda Angeline.
Berdasarkan jenis penyakitnya, pasien yang menderita penyakit menular atau dengan luka terbuka dan berbau tidak diperkenankan tinggal di rumah singgah itu. "Pasien dengan kondisi tertentu, misalnya lanjut usia, harus didampingi lebih dari satu pendamping. Termasuk pasien anak," katanya.
Lalu, bagaimana dengan kehidupan sehari-hari pasien dan keluarganya? Untuk biaya makan, rumah itu menyediakan peralatan dapur, beras dan minyak goreng. Selain itu, kebutuhan makan sehari-hari dipenuhi pasien dan keluarganya secara kolektif. Tiap keluarga pasien patungan Rp 5 ribu per hari untuk kebutuhan makan semua penghuni rumah. "Keluarga pasien sendiri yang belanja di pasar dekat sini dari uang hasil patungan tiap hari. Memang belum ada donatur yang berani menanggung semua biaya hidup pasien dan keluarganya," tutur Bunda Angeline.
Selain itu, ada juga aturan yang diterapkan bagi pihak luar. Tidak semua orang boleh sembarangan masuk, apalagi berfoto di dalam rumah jika bukan pasien rawat jalan atau keluarga.
Bahkan sebelum bertemu dengan Bunda Angeline, JawaPos.com tidak diperkenankan untuk mengambil gambar. Kesannya seperti hotel bintang lima yang punya sistem keamanan ketat.
Aturan itu diberlakukan bukan tanpa alasan. Suatu hari, pernah ada seseorang yang berpura-pura baik dan bersimpati kepada pasien yang menginap di rumah itu. Dia juga sempat mengambil beberapa foto pasien dan keluarganya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
