
Ilustrasi Pilkada ./Dok. Jawa Pos
JawaPos.com–Pertarungan sengit terjadi antara Koalisi Indonesia Maju Plus (KIM Plus) dan PDIP di Pilkada Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta. Pasangan yang didukung KIM Plus unggul di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tetapi mereka bersaing ketat dengan pasangan yang didukung PDIP di DKI Jakarta.
Peneliti LSI Denny JA Sunarto mengatakan, Di Jawa Tengah, pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin memimpin. Sementara pasangan lawannya, Andika Perkasa-Hendrar Prihadi masih tertinggal.
Di Jawa Timur, pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak unggul signifikan. Selanjutnya pasangan Tri Rismaharini-Zahrul Azhar Asumta dan pasangan Luluk Nur Hamidah-Lukmanul Hakim di posisi ketiga.
Situasi di DKI Jakarta, menurut Sunarto, lebih kompetitif. Pasangan KIM Plus, Ridwan Kamil-Suswono sedikit lebih unggul dari pasangan PDIP Pramono Anung-Rano Karno (Si Doel). Pasangan independen, Dharma PongrekunKun Wardana di posisi paling bawah.
”Mengenai Ridwan Kamil-Suswono yang tidak unggul signifikan di DKI Jakarta karena mesin partai KIM Plus kurang efektif. Banyak pemilih PKS, Golkar, PKB, Demokrat, PPP, dan Nasdem cenderung memilih pasangan Pramono Anung-Rano Karno daripada pasangan yang diusung partai mereka sendiri,” kata Sunarto.
Sebaliknya, menurut dia, PDIP lebih solid karena mayoritas anggotanya mendukung pasangan itu. Hal tersebut menjadi pekerjaan besar bagi Ridwan Kamil-Suswono.
”Mengapa pemilih dari partai pengusung Golkar (Ridwan Kamil) dan PKS (Suswono), lebih banyak memilih Pramono dan Rano Karno. Ada jarak yang lebar antara keputusan elite partai dan massa partai,” ungkap Sunarto.
Penyebab lain, menurut Sunarto, Ridwan Kamil-Suswono kurang diterima komunitas Betawi. Rano Karno dengan kisah Si Doel lebih menempel di memori pemilih Betawi.
”Popularitas Ridwan Kamil sebanding dengan Rano Karno, yang berarti tidak ada keunggulan signifikan dalam hal pengenalan figur. Untuk kasus Jakarta, Cagub Pramono banyak didongkrak oleh Cawagubnya,” terang Sunarto.
Kondisi Pilkada DKI Jakarta ini berbeda dengan pasangan yang didukung KIM Plus di Jawa Timur. Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak unggul signifikan atas lawannya. Hal ini disebabkan tingkat kepuasan terhadap kinerja Khofifah sebagai gubernur.
”Semua petahana selalu punya peluang untuk menang kedua kali, kecuali jika kinerjanya buruk,” tandas Sunarto.
Selain itu, lanjut dia, popularitas Khofifah jauh di atas Tri Rismaharini. Risma memang menjadi tokoh nasional dengan menjadi menteri di era Jokowi. Dia juga pernah menjadi wali kota Surabaya.
”Namun, Jatim memiliki 29 kabupaten dan 9 kota. Surabaya hanya sebagian kecil dari Jawa Timur. Khofifah sebagai petahana gubernur sudah menjelajah lebih jauh di teritori Jatim secara keseluruhan,” ujar Sunarto.
”Mesin politik KIM Plus terlihat lebih solid di Jawa Timur karena basis pemilih partai mengikuti arahan koalisi. Selain itu, pasangan Khofifah-Emil juga mendapat limpahan dukungan dari pemilih PDIP dan PKB,” imbuh dia.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Link Live Streaming PSG vs Arsenal Malam Ini Final Liga Champions, Siaran Langsung Jam Berapa dan Tayang di TV Mana?
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
Bicara Kartu Merah: Arema FC Paling Brutal, Semua Perlu Belajar dari Borneo FC!
Berikut 3 Bek yang Dirumorkan Merapat ke Persebaya Surabaya! Ada Yusuf Meilana Hingga Bek Tengah Brasil
Prediksi Final Liga Champions 2026: PSG vs Arsenal, Les Parisiens Diunggulkan, The Gunners Butuh Keajaiban
Persib Bandung Ungkap Penyebab Masuk Daftar Banned FIFA, Bukan Tunggakan Gaji!
