Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Juli 2024 | 13.28 WIB

Buang Air Kecil di Belakang Barak, Pekerja Perusahaan Kelapa Sawit Tewas Dimangsa Harimau, Kondisinya Mengenaskan

Harimau Sumatra bernama Bintang Baringin di kandang Medan Zoo, Kota Medan, Sumatera Utara. - Image

Harimau Sumatra bernama Bintang Baringin di kandang Medan Zoo, Kota Medan, Sumatera Utara.

JawaPos.com - Pekerja perusahaan kelapa sawit di Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau menjadi korban mangsa harimau. Saat ditemukan, korban sudah meninggal dengan kondisi mengenaskan.

Dikutip dari Padang Ekspres (Jawa Pos Group), korban mangsa harimau itu merupakan pekerja perusahaan kelapa sawit yang tinggal di barak PT SAS. Barak itu lokasinya di wilayah jalan lintas arah ke koridor perusahaan kertas. Tepatnya RT 03 RK 04 Dusun 2 Kampung Penyengat, Kecamatan Sungai Apit. Korban tewas dimangsa harimau Sumatera saat buang air kecil.

Kapolsek Sungai Apit AKP Rinaldi mengatakan, kejadian tersebut terjadi pada Selasa (16/7) sekitar pukul 23.30 WIB. Korban buang air kecil di belakang barak. Selang beberapa waktu, rekan korban Ilham Sinaga mendengar teriakan, lalu mencari asal suara. “Ilham Sinaga menyaksikan korban diseret harimau Sumatera menuju kebun sawit,” terang Kapolsek Rinaldi.

Melihat itu, rekan-rekan korban berkumpul, lalu melakukan pencarian terhadap korban dengan menelusuri jejak harimau dari rerumputan dan semak yang rebah. Berjarak sekitar 30 meter dari lokasi korban diseret, ditemukan korban dengan kondisi mengenaskan. Tubuh terpisah dengan kepala. “Organ lain di tubuh korban tidak ada yang rusak,” terang Kapolsek Rinaldi.

Selanjutnya, jasad korban dibawa ke barak untuk disemayamkan sembari menunggu keluarga korban. "Areal PT SAS merupakan kawasan yang masih terdapat binatang buas dan merupakan habitat harimau yang sangat membahayakan manusia,” jelas AKP Rinaldi.

Pada Rabu (17/7) pukul 10.00 WIB, korban baru dapat dipindahkan dari barak ke kantor divisi PT SAS. Petangnya, korban dimakamkan di Dusun Mungkal.

Perusahaan diminta untuk menerapkan sistem buddy system atau berkelompok saat bekerja di area perkebunan.

Kehong selaku Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Suku Anak Rawa Kampung Penyengat mengatakan, biasanya harimau keluar karena ada pantang larang yang dilanggar. Bisa saja tidak tahu tradisi dan adat istiadat yang berlaku di suatu daerah. Ketidaktahuan itu mesti menjadi pelajaran bersama. “Usai pemakaman petang tadi kami juga sudah mengingatkan untuk sama-sama menjaga kearifan lokal, sehingga dapat hidup berdampingan dengan damai,” kata Kehong.

Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalaksa BPBD) Kabupaten Siak Heriyanto mengimbau mengimbau warga yang melakukan aktivitas di area konflik harimau dan manusia agar berhati-hati. "Sebisanya mungkin menjauhi area konflik. Apalagi di malam hari,” kata Kalaksa Heriyanto.

Jika terpaksa pergi beraktivitas di luar, hendaknya jangan sendirian. Lakukanlah dengan berkelompok atau menggunakan topeng wajah yang menghadap ke belakang kepala. Lakukan patroli kampung.

Jika berhadapan langsung dengan harimau tersebut, berusahalah agar tetap berhadap-hadapan. Jangan membelakangi atau lari, sehingga membuat harimau terpancing untuk memburu sebagai mangsanya. Jangan main hakim sendiri dengan tindakan yang melawan hukum dan peraturan dalam hal menyikapi perilaku negatif dari harimau. Lakukan tindakan yang mengedepankan kearifan lokal.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore