
Acara Puro Mangkunegaran Malam Satu Suro tahun lalu. (Puro Mangkunegaran Surakarta)
JawaPos.com - Bulan Suro merupakan penanggalan dalam kalender Jawa saat memasuki bulan Muharram pada tahun Hijriah. Kata Suro sendiri diambil dari Bahasa Arab, yaitu 'Asyura yang berarti kesepuluh.
Dikutip dari laman UIN Malang, Zainuddin dalam tulisannya, "Tradisi Suro dalam Masyarakat Jawa" mengatakan, bulan Suro dikenal dengan Muharram yang sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga Umar bin Khattab diresmikan sebagai penanggalan dalam Islam.
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, bulan Suro adalah bulan keramat. Banyak kesedihan serta bencana. Maka, mereka mengadakan suatu tradisi yang disatukan dengan mistik kejawen.
Dikutip dari laman Pemda Kabupaten Magelang, terdapat empat ritual yang dilakukan pada malam satu Suro oleh masyarakat Jawa, yaitu:
1. Semedi
Semedi merupakan jalan untuk mencapai intisari mistis, yaitu hubungan langsung dengan Tuhan. Selain itu, dalam ritual ini juga menyadarkan manusia untuk mengingat jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Saat malam satu Suro datang, masyarakat Jawa akan memilih semedi di tempat yang sakral seperti gunung, tepi laut, pohon besar, atau makam keramat.
2. Sesirih
Sesirih dalam makna Jawa adalah melakukan spiritual keprihatinan. Sesirih dilakukan dengan cara mengurangi makan minum, serta kebutuhan jasmaninya upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Saat memasuki bulan Suro, masyarakat Jawa menjalankan laku Sesirih atau laku prihatin seperti puasa mutih, puasa ngrowot, puasa patigeni, tirakat, puasa ngebleng, dan kungkum.
3. Sesuci
Sesuci artinya mensucikan diri maupun benda pusaka atau jamasan pusaka, benda pusaka tersebut dianggap sakral serta sebagai penggambaran diri seseorang, sehingga harus dipelihara atau dirawat.
Ritual mistis ini dinamakan dengan jamasan atau mencuci keris sebagai benda pusaka, masyarakat Jawa pada umumnya melaksanakan ini di Pantai Parang Tritis pada malam satu Suro.
Di beberapa daerah Jawa lainnya, dalam Upacara Jamasan Pusaka dihidangkan bubur Suro yang melambangkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas berkah dan rezeki yang diperoleh.
4. Sarasehan
Sarasehan diartikan sebagai temu rasa, bawa rasa, saling mengungkal, atau mengasah kemampuan satu sama lain. Pada malam satu Suro, masyarakat Jawa mengadakan ritual ini dengan duduk bersama balai RT.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
