
Ilustrasi guguran lava Gunung Merapi.
JawaPos.com – Gunung Merapi kembali erupsi pada Selasa (18/6) malam. Tercatat, terjadi 11 kali guguran lava dengan jarak luncur 1,5 kilometer. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memprediksi potensi bahaya bisa mencapai 5–7 kilometer dari puncak kawah.
Pantauan dari video PVMBG menunjukkan bahwa guguran lava cukup besar. Lava meluncur ke sejumlah arah. Tampak juga material batu merah yang menggelinding ke berbagai arah. Asap putih membubung di atas kawah.
Kepala PVMBG Hendra Gunawan menuturkan, guguran lava dan awan panas terjadi di Gunung Merapi pukul 20.55 dengan durasi 149,52 detik. Estimasi jarak luncur 1.500 meter atau 1,5 kilometer dari puncak ke arah barat daya atau Kali Bebeng. ’’Dari pengamatan visual, terdapat sebelas kali guguran lava dan satu kali guguran awan panas,’’ katanya kemarin.
Asap putih dengan intensitas tipis dan sedang teramati mencapai ketinggian 25–50 meter dari puncak kawah. Untuk pengamatan instrumen kegempaan, terdapat 45 kali guguran, 20 kali guguran hybrid atau fase banyak, 1 guguran tektonik, dan 1 guguran awan panas. ’’Terjadi juga deformasi kurang dari 0,2 cm per hari dalam empat hari terakhir,’’ paparnya.
Dengan kondisi tersebut, PVMBG memberikan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat. Yakni, potensi bahaya guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya Sungai Doyong sejauh maksimal 5 kilometer dan sejauh 7 kilometer di Sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng. ’’Di sektor tenggara atau Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer,’’ jelas Hendra.
Selain itu, terdapat potensi bahaya berupa lontaran material vulkanik yang menjangkau radius 3 kilometer dari puncak. Lontaran material bisa terjadi saat terdapat letusan eksplosif. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu guguran awan panas dalam radius bahaya.
Terkait status Gunung Merapi, hingga kini PVMBG memastikan masih pada tingkat siaga atau level III. Status tersebut berlaku sejak 5 November 2020 dan akan ditinjau bila terjadi aktivitas yang signifikan.
Dia menambahkan, Gunung Merapi memasuki masa erupsi efusif sejak 4 Januari 2021. Hal itu ditandai dengan pertumbuhan kubah lava, guguran, dan awan panas guguran. ’’Saat itu Merapi memiliki dua kubah lava. Yakni, di barat daya dan tengah kawah,’’ terang Hendra.
Kubah lava di barat daya saat itu tercatat 1.598.700 meter kubik dan kubah lava di tengah kawah mencapai 2.276.400 meter kubik. ’’Bila kubah longsor, diprediksi mencapai 7 kilometer dan 5 kilometer,’’ jelasnya. (idr/c18/fal)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
