
Rektor Unhas Makassar Prof Dwia saat memberikan materi penanganan konflik kepada 150 Pamen TNI-Polri di Gedung Serasan Sesko TNI, Bandung, Selasa (3/7).
JawaPos.com - Pendidikan Reguler Angkatan XLV Sekolah Staf Komando (Sesko) TNI digelar di Gedung Serasan Sesko TNI, Bandung. Kegiatan diikuti 150 perwira menengah (pamen) TNI-Polri.
Adapun rincian peserta terdiri atas 59 Pamen TNI AD, 42 Pamen TNI AL, 38 Pamen TNI AU, dan 6 Pamen Polri. Lalu ada 5 perwakilan dari Australia, India, Malaysia, Madagaskar dan Singapura yang berpangkat Kolonel atau sederajat.
Sesko TNI adalah pendidikan pengembangan umum tertinggi di lingkungan TNI. Kegiatan diselenggarakan untuk mencetak calon-calon pimpinan TNI pada level strategis.
Pendidikan Reguler Angkatan XLV kali ini terbilang menarik karena diikuti 3 peserta perempuan. Masing-masing 1 Pamen dari setiap Matra darat, laut dan udara.
Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu didapuk sebagai pembicara. Dia memberikan materi sebagai bekal bagi para pamen tersebut dalam konteks Penanganan Konflik di Indonesia.
Prof Dwia memaparkan tentang konfigurasi konflik sosial di Indonesia serta berbagai alternatif pendekatan untuk mengatasinya. "Para peserta tampak sangat antusias dan banyak mengajukan pertanyaan. terutama terkait konflik-konflik yang terjadi di Tolikara, Poso dan Papua," terang Kepala Unit Humas dan Protokoler Unhas Ishaq Rahman dalam siaran pers yang diterima JawaPos.com, Selasa (3/7).
Sebagai guru besar sosiologi dengan spesialisasi resolusi konflik, Dwia menyebut bahwa Indonesia memiliki tiga faktor sosiologis yang menyebabkan rentan terhadap konflik. Adalah warisan kolonial yang masih berpengaruh hingga kini. Lalu kondisi masyarakat yang plural. Baik secara ekonomi, politik, budaya dan kekuasaan. Selanjutnya aktor geografis kepulauan yang mempengaruhi akses terhadap sumber daya alam.
Untuk itu, para pemimpin Indonesia perlu memiliki sensitivitas dalam penanganan konflik. Terutama bagi para pemimpin di institusi militer. Sensitivitas ini harus berbarengan dengan kapasitas lainnya.
Sebab penanganan konflik tidak bisa diselesaikan secara represif saja. "Untuk penyelesaian jangka panjang dan permanen, dibutuhkan pendekatan komprehensif. Baik sosiologis, politis, ekonomi, bahkan budaya," ujarnya.
Ini adalah kali kedua Dwia diundang pada forum Sesko TNI. Sebelumnya pada 2016, Prof. Dwia juga diundang untuk berbicara membagi ilmu kepada para perwira menengah peserta pendidikan di Seskoad Bandung.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
