Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Juli 2018 | 21.42 WIB

150 Pamen TNI-Polri Dibekali Ilmu Penanganan Konflik

Rektor Unhas Makassar Prof Dwia saat memberikan materi penanganan konflik kepada 150 Pamen TNI-Polri di Gedung Serasan Sesko TNI, Bandung, Selasa (3/7). - Image

Rektor Unhas Makassar Prof Dwia saat memberikan materi penanganan konflik kepada 150 Pamen TNI-Polri di Gedung Serasan Sesko TNI, Bandung, Selasa (3/7).

JawaPos.com - Pendidikan Reguler Angkatan XLV Sekolah Staf Komando (Sesko) TNI digelar di Gedung Serasan Sesko TNI, Bandung. Kegiatan diikuti 150 perwira menengah (pamen) TNI-Polri.


Adapun rincian peserta terdiri atas 59 Pamen TNI AD, 42 Pamen TNI AL, 38 Pamen TNI AU, dan 6 Pamen Polri. Lalu ada 5 perwakilan dari Australia, India, Malaysia, Madagaskar dan Singapura yang berpangkat Kolonel atau sederajat.


Sesko TNI adalah pendidikan pengembangan umum tertinggi di lingkungan TNI. Kegiatan diselenggarakan untuk mencetak calon-calon pimpinan TNI pada level strategis.


Pendidikan Reguler Angkatan XLV kali ini terbilang menarik karena diikuti 3 peserta perempuan. Masing-masing 1 Pamen dari setiap Matra darat, laut dan udara.


Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu didapuk sebagai pembicara. Dia memberikan materi sebagai bekal bagi para pamen tersebut dalam konteks Penanganan Konflik di Indonesia.


Prof Dwia memaparkan tentang konfigurasi konflik sosial di Indonesia serta berbagai alternatif pendekatan untuk mengatasinya. "Para peserta tampak sangat antusias dan banyak mengajukan pertanyaan. terutama terkait konflik-konflik yang terjadi di Tolikara, Poso dan Papua," terang Kepala Unit Humas dan Protokoler Unhas Ishaq Rahman dalam siaran pers yang diterima JawaPos.com, Selasa (3/7).


Sebagai guru besar sosiologi dengan spesialisasi resolusi konflik, Dwia menyebut bahwa Indonesia memiliki tiga faktor sosiologis yang menyebabkan rentan terhadap konflik. Adalah warisan kolonial yang masih berpengaruh hingga kini. Lalu kondisi masyarakat yang plural. Baik secara ekonomi, politik, budaya dan kekuasaan. Selanjutnya aktor geografis kepulauan yang mempengaruhi akses terhadap sumber daya alam.


Untuk itu, para pemimpin Indonesia perlu memiliki sensitivitas dalam penanganan konflik. Terutama bagi para pemimpin di institusi militer. Sensitivitas ini harus berbarengan dengan kapasitas lainnya.


Sebab penanganan konflik tidak bisa diselesaikan secara represif saja. "Untuk penyelesaian jangka panjang dan permanen, dibutuhkan pendekatan komprehensif. Baik sosiologis, politis, ekonomi, bahkan budaya," ujarnya.


Ini adalah kali kedua Dwia diundang pada forum Sesko TNI. Sebelumnya pada 2016, Prof. Dwia juga diundang untuk berbicara membagi ilmu kepada para perwira menengah peserta pendidikan di Seskoad Bandung.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore